Laundry dengan hitungan per potong sudah sangat jamak. Sistem kiloan sudah mulai banyak ditemui, tetapi sangat jarang yang menetapkan harga atas dasar ukuran bulanan, seperti bisnis yang dijalankan Widyawati Irda.
Tidak pernah ada satu manusia pun di muka bumi ini, yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Karena, itu, setiap manusia wajib membekali diri dengan cara apa pun, untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga, sekali pun hal ini tidak menjamin manusia tersebut terbebas dari hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti sering dikatakan, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, tapi manusia tetap wajib berusaha.
Berbekal pandangan ini, Widyawati Irada, mantan engineer pada sebuah perusahaan elektronik di Muka Kuning, Batam, membuka usaha laundry bersama dengan partnernya, Endrayani. “Tujuanku membuka usaha ini selain untuk menambah penghasilan, juga agar tetap terus eksis dan berkarya meski ‘cuma’ ibu rumah tangga. Aku juga nggak mau 100% bergantung sama suami, karena kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan sana. Jadi, kita wajib membekali diri. Di samping itu, dengan membuka usaha, muncul suatu keharusan untuk terus mengasah diri. Aku yakin banget hal ini berdampak positif pada kualitas pengasuhan anak-anakku, khususnya,” kata Adhe, begitu orang-orang menyapanya.
Di sisi lain, saat laundry ini dibangun (Februari 2003), bisnis laundry masih sangat jarang ditemui, terutama di perumahan-perumahan. Dengan demikian, pasarnya masih sangat luas, mengingat Batam dihuni ribuan pekerja pabrik yang hampir setiap hari kerja lembur, sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk urusan cuci mencuci. Belum lagi cuaca Batam yang sukar diramalkan. Sedangkan pembantu rumah tangga selain susah dicari, standar gajinya juga sangat tinggi. “Padahal pekerjaan ibu rumah tangga itu tiada habisnya. Jadi, daripada direpotkan oleh masalah cucian ya dilaundry saja atau setidaknya mempercayakan urusan menyeterika baju-baju mereka ke laundry,” ujarnya. Di sisi lain, mencuci dan menyeterika merupakan pekerjaan yang paling gampang dan dapat disambi mengurus anak-anak.
Dengan modal awal sekitar Rp200 ribu yang hanya digunakan untuk membeli gantungan baju, keranjang baju, kantung plastik, dan jemuran mengingat mesin cuci, setrikaan, dan tempat menjemur pakaian sudah tersedia, kedua nyonya rumah ini membuka usahanya yang diberi nama Familia Laundry. Dalam perjalanannya, ada penambahan alat-alat lain seperti steamer, tag gun, dan tag pin untuk identifikasi baju masing-masing pelanggan. Selain itu, mencuci dan menyeterika yang semula dikerjakan sendiri, setahun kemudian dibantu dua karyawan. “Ketika tersadar rumah kami sudah sesak dengan baju-baju, kami membeli satu unit rumah untuk ruang produksi dan mess karyawan, serta satu unit mobil untuk operasional, beberapa mesin cuci dan alat pengering dengan pinjam ke bank sebesar Rp200 juta. Kami juga memperlebar pelayanan kami yang pada awalnya cuma di Batu Aji ke Tiban, Nagoya, Sungai Panas, dan Batam Centre,” katanya.
Familia Laundry menyediakan pelayanan laundry bulanan dengan tarif Rp80 ribu/bulan, laundry kiloan (Rp6 ribu/kg), dry cleaning (mulai dari Rp15 ribu/piece), laundry bed cover (mulai dari Rp15 ribu/piece), laundry karpet/permadani (Rp7.500/m²), laundry linen untuk spa, dan laundry seragam karyawan perusahaan. Dengan jumlah pelanggan tetap sekitar 150 baik keluarga maupun perorangan, setiap bulan dibukukan omset sebesar Rp25 juta. “Kami memperlakukan setiap pelanggan dengan cara khusus. Hampir semua permintaan mereka yang spesifik tapi masuk akal, kami penuhi. Yang pasti, masing-masing baju pelanggan kami cuci sendiri-sendiri. Ini yang tidak selalu dapat dijumpai di semua laundry, sekali pun kapasitasnya laundry besar,” ucap Adhe yang sering kebanjiran order saat menjelang lebaran, natal, dan imlek.
Untuk menambah pemasukan, di samping berpromosi dengan menyebarkan brosur dan beriklan secara kontinyu, Familia Laundry menjalin kerja sama dengan pengusaha busana muslim di mana member atau non member mereka yang berbelanja dengan nominal tertentu akan mendapat diskon 10% di Familia Laundry, sedangkan pelanggan laundry ini berpeluang mendapat voucher diskon untuk menjadi member mereka. “Kami juga berencana bekerja sama dengan beberapa teman di bidang-bidang usaha yang lain, seperti pengusaha gorden/vitrage,” kata ibu dua anak yang bermimpi menciptakan gaya hidup mencucikan pakaian di mal, sambil cuci mata ini. “Kelar jalan-jalan, mampir lagi ke laundry, cucian sudah kering, bersih, rapi, dan wangi,” imbuhnya.
Waralaba? “Belum ada rencana. Kami juga belum membuka cabang. Yang ada hanya agen yang tersebar di Tiban, Sagulung, Batam Centre, dan Muka Kuning. Agen-agen ini bertugas mengumpulkan baju kotor milik pelanggan, lalu baju-baju itu kami jemput, diproses, dan akhirnya dikembalikan lagi dalam kondisi bersih ke agen. Saat ini, aku lebih tertarik memotivasi para ibu rumah tangga untuk mengikuti jejakku. Untuk itu, aku membuat website tentang usahaku ini serta memberi kesempatan kepada mereka, dengan membuat dan menjual CD (compact disc) yang berisi panduan praktis dari A–Z tentang cara membuka usaha laundry, memilih baju pelanggan, dan lain-lain.
Dengan cara ini, aku ingin memperkenalkan laundry keluarga secara lebih luas. Harapanku, semakin banyak ibu rumah tangga yang membuka usaha laundry, selain tingkat ketergantungan terhadap suami berkurang, juga masyarakat dengan sendirinya akan semakin terdidik menggunakan jasa laundry sebagai bagian dari gaya hidup mereka,” ucapnya. Bagaimana ibu-ibu?
sumber : majalahpengusaha
Sabtu, 06 Desember 2008
WIRAUSAHA
Menjadi wira usaha bisa dikatakan gampang-gampang susah, tetapi niat dan keinginan anda menjadi wira usaha haruslah diasah
Intelektualisasi Sampah
Telah banyak orang mendulang sukses dari sampah, namun tidak banyak yang memandang sampah secara komprehensif seperti yang dilakukan Wisnu Wardhana (49).
“Sanggar” ini berada tepat di pinggir jalan raya, di bekas lahan tak bertuan yang dikenal angker, bernama Bulak Gremeng. Tidak seangker namanya—yang kurang lebih berarti “padang bersuara gumaman”, saat SH memasuki lokasi Sanggar ini, justru kesan keramahan dan kenyamanan yang segera terasa.
Semuanya tampak sederhana, serba-tertata rapi, seolah mencerminkan pribadi Wisnu, sang pemilik yang saat “menjemput” SH pun tampil apa adanya. Gaya bahasanya yang “ceplas-ceplos” namun “berisi” pun membuat suasana di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah ini berbeda. Walau semuanya terkesan bersahaja, berada di tempat ini, SH seolah sedang berada di “kampus mini”.
Pun tak ada impresi kumuh “tercium” di sanggar ini, walaupun hampir semua aktivitas di area seluas 6.000 m2 ini berurusan dengan sampah. Gerobak hilir mudik pada pagi dan sore hari mengangkut sampah menuju tempat ini dari Perumahan Minomartani. Berbagai jenis sampah rumah tangga pun ditumpahkan dari gerobak-gerobak itu, diikuti kegiatan penyortiran sepanjang pagi hingga siang hari. Bau sampah memang tercium dalam tahap ini, namun begitu berakhir, aroma itu segera pergi, karena lokasi penyortiran langsung dibersihkan. Yang tersisa adalah sejumlah gundukan sampah berukuran sekitar 2x2x2 meter, yang akan menjalani proses berikutnya, sampai benar-benar menjadi kompos yang siap dijual.
“Bakal kompos ini tidak mengeluarkan bau, karena yang terjadi pada proses komposting bukan pembusukan melainkan penguraian,” tutur I Dewa Putu Eska Sasnanda (Nanda), Manajer Divisi Pendidikan di sanggar ini.
“Bakal kompos ini harus sering diaduk untuk menjaga suhunya. Suhunya mesti cukup untuk mematikan bakteri yang tidak bermanfaat, rata-rata hingga 80 derajad Celcius,” tambah Nanda.
Tukang Sampah “Intelek”
Berbicara dengan Wisnu tidak seperti sedang berbicara dengan tukang sampah betulan. Padahal, lelaki yang punya hobi bermain game dan “berpikir” ini selama bertahun-tahun benar-benar menjalani profesi tukang sampah. Setiap hari, ia mendorong gerobak dan mengambil sampah dari rumah ke rumah di kompleks perumahan tempat tinggalnya.
Setelah lebih dari lima tahun menarik gerobak sampah, tepatnya tahun 1996, Wisnu pun mendirikan “sanggar” untuk para tukang sampah. Wisnu yang dalam perbincangan dengan SH terdengar fasih berbahasa Inggris ini pun menamakan sanggarnya “Karya Penarik Sampah” (KPS).
“Perkumpulan itu saya namakan ‘sanggar’ karena di dalamnya ada makna ‘perkumpulan’, ada aktivitas yang dilakukan, ada kehendak berbagi, di samping adanya unsur komunikasi dan produksi,” papar Wisnu berfilosofi.
Sejak didirikan di tahun 1996, sanggar yang berada di tepi Sungai Klanduan itu pun “hidup” oleh aktivitas penanganan sampah. Pada tahun 2003, lebih dari 40 pekerja terlibat dalam proses pengelolaan di KPS. Pada saat itu, dua bedeng produksi KPS bahkan mampu mengolah hingga 18 ton sampah per bulan. “Dua per tiga timbulan sampah se-Sleman per hari masuk ke TPA ini,” kenang Wisnu.
Penghargaan
Upayanya memberdayakan masyarakat setempat untuk mengelola sampah kala itu membuatnya menuai berbagai penghargaan, di antaranya penghargaan dari Ashoka Indonesia pada tahun 1999. Kala itu, Wisnu dianggap sebagai pembaharu sosial di bidang lingkungan dan pendidikan. Sejak tahun 1997, profilnya pun sering muncul di berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik.
Banyak pihak lantas berdatangan ke TPA-nya untuk menimba ilmu. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) misalnya, pernah melakukan studi banding selama tiga bulan di TPA-nya. Bahkan, Direktur IMF Hubert Neiss pada masa itu konon menyempatkan diri berkunjung ke KPS ini dan mengatakan bahwa usaha pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Wisnu patut diberi bantuan.
Dipalak
Seiring berkembangnya produktivitas KPS-nya, ternyata banyak tantangan yang harus dihadapi Wisnu. Penghargaan menjadi tidak berarti lagi saat pihaknya justru dipalak oleh oknum dari pemerintah daerah. “Saya heran, saya mengurus sampah kan membantu masyarakat dan pemerintah, kok masih diriwuki (diganggu-red),” ungkapnya.
Kekecewaan Wisnu bertambah saat para pegawainya direkrutnya dari kalangan pekerja seks komersial (PSK), pada waktu itu mulai tidak bangga lagi dengan profesi mereka sebagai pekerja di KPS, padahal taraf hidup mereka secara ekonomi dan sosial meningkat.
“Mereka mendapatkan penghasilan lumayan, taraf hidup mereka meningkat, tapi mereka sering tidak mau mengaku bekerja di KPS,” tutur Wisnu. Penghasilan berlebih konon justru mereka gunakan untuk berlaku urakan, seperti nongkrong dan minum-minuman keras.
Kenyataan ini membuat Wisnu sempat “ngambek”. Ia pun menarik diri dan menghentikan aktivitas di KPS-nya, dan memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk “menemukan makna” aktivitasnya.
Bangkit Lagi
Bulan September lalu, saat SH berkunjung ke TPA-nya, lokasi pengoplosan sampah ini baru saja dibuka lagi setelah selama hampir lima tahun berhenti beroperasi.
Sanggar Kegiatan yang belakangan dinamai “Citizen Based Initiative-Karya Penggayuh Sentosa (CBI-KPS) ini pun mulai berdenyut lagi. Wisnu, yang mengaku bangga menjadi “tukang sampah” ini berharap sanggarnya benar-benar menjadi ajang pembelajaran bagi masyarakat untuk mengelola sampah. Ia kini bahkan bercita-cita mendirikan “Institut Sampah” yang kelak mampu menghasilkan profesor-profesor di bidang persampahan.
Cita-cita ayah dari dua anak perempuan dan dua anak laki-laki ini tentu tak berlebihan, mengingat sejak dibuka lagi, sanggar yang didirikannya itu tak henti didatangi para suster biara, para pelajar, mahasiswa, bahkan dosen-dosen dari universitas terkemuka di Yogyakarta, untuk menimba ilmu soal persampahan.
“Seluruh biara susteran dan sejumlah perumahan di Sleman dan Yogyakarta telah menerapkan sistem pengelolaan sampah kami,” ungkap Nanda, “murid” Wisnu yang kini telah menjadi rekan kerjanya di CBI-KPS.
“Prinsip yang diterapkan CBI-KPS ini adalah zero waste, artinya sampah dikelola semaksimal mungkin sehingga menyisakan sesedikit mungkin residu (sampah yang tidak bisa digunakan lagi-red),” papar Wisnu lugas.
Menurut Wisnu, sampah nonorganik juga dapat diupayakan menjadi produk baru atau bahan daur ulang demi meningkatkan pendapatan masyarakat, misalnya dengan membuatnya menjadi barang kerajinan. Penanganan sampah menurutnya harus komprehensif, antara lain mencakup aspek sosial, politik, budaya, dan ekonomi masyarakat.
Wisnu juga memasyarakatkan motto “Sampah Selesai di Rumah”. Artinya, masalah sampah harus diatasi dari rumah-rumah, karena bila tidak dikelola dengan tepat, sampah akan mengganggu kesehatan dan kenyamanan lingkungan. “Walau berat tantangannya, mari kita mulai membiasakan memilah sampah sejak dari rumah,” imbaunya.
Sumber : sinar harapan
“Sanggar” ini berada tepat di pinggir jalan raya, di bekas lahan tak bertuan yang dikenal angker, bernama Bulak Gremeng. Tidak seangker namanya—yang kurang lebih berarti “padang bersuara gumaman”, saat SH memasuki lokasi Sanggar ini, justru kesan keramahan dan kenyamanan yang segera terasa.
Semuanya tampak sederhana, serba-tertata rapi, seolah mencerminkan pribadi Wisnu, sang pemilik yang saat “menjemput” SH pun tampil apa adanya. Gaya bahasanya yang “ceplas-ceplos” namun “berisi” pun membuat suasana di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah ini berbeda. Walau semuanya terkesan bersahaja, berada di tempat ini, SH seolah sedang berada di “kampus mini”.
Pun tak ada impresi kumuh “tercium” di sanggar ini, walaupun hampir semua aktivitas di area seluas 6.000 m2 ini berurusan dengan sampah. Gerobak hilir mudik pada pagi dan sore hari mengangkut sampah menuju tempat ini dari Perumahan Minomartani. Berbagai jenis sampah rumah tangga pun ditumpahkan dari gerobak-gerobak itu, diikuti kegiatan penyortiran sepanjang pagi hingga siang hari. Bau sampah memang tercium dalam tahap ini, namun begitu berakhir, aroma itu segera pergi, karena lokasi penyortiran langsung dibersihkan. Yang tersisa adalah sejumlah gundukan sampah berukuran sekitar 2x2x2 meter, yang akan menjalani proses berikutnya, sampai benar-benar menjadi kompos yang siap dijual.
“Bakal kompos ini tidak mengeluarkan bau, karena yang terjadi pada proses komposting bukan pembusukan melainkan penguraian,” tutur I Dewa Putu Eska Sasnanda (Nanda), Manajer Divisi Pendidikan di sanggar ini.
“Bakal kompos ini harus sering diaduk untuk menjaga suhunya. Suhunya mesti cukup untuk mematikan bakteri yang tidak bermanfaat, rata-rata hingga 80 derajad Celcius,” tambah Nanda.
Tukang Sampah “Intelek”
Berbicara dengan Wisnu tidak seperti sedang berbicara dengan tukang sampah betulan. Padahal, lelaki yang punya hobi bermain game dan “berpikir” ini selama bertahun-tahun benar-benar menjalani profesi tukang sampah. Setiap hari, ia mendorong gerobak dan mengambil sampah dari rumah ke rumah di kompleks perumahan tempat tinggalnya.
Setelah lebih dari lima tahun menarik gerobak sampah, tepatnya tahun 1996, Wisnu pun mendirikan “sanggar” untuk para tukang sampah. Wisnu yang dalam perbincangan dengan SH terdengar fasih berbahasa Inggris ini pun menamakan sanggarnya “Karya Penarik Sampah” (KPS).
“Perkumpulan itu saya namakan ‘sanggar’ karena di dalamnya ada makna ‘perkumpulan’, ada aktivitas yang dilakukan, ada kehendak berbagi, di samping adanya unsur komunikasi dan produksi,” papar Wisnu berfilosofi.
Sejak didirikan di tahun 1996, sanggar yang berada di tepi Sungai Klanduan itu pun “hidup” oleh aktivitas penanganan sampah. Pada tahun 2003, lebih dari 40 pekerja terlibat dalam proses pengelolaan di KPS. Pada saat itu, dua bedeng produksi KPS bahkan mampu mengolah hingga 18 ton sampah per bulan. “Dua per tiga timbulan sampah se-Sleman per hari masuk ke TPA ini,” kenang Wisnu.
Penghargaan
Upayanya memberdayakan masyarakat setempat untuk mengelola sampah kala itu membuatnya menuai berbagai penghargaan, di antaranya penghargaan dari Ashoka Indonesia pada tahun 1999. Kala itu, Wisnu dianggap sebagai pembaharu sosial di bidang lingkungan dan pendidikan. Sejak tahun 1997, profilnya pun sering muncul di berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik.
Banyak pihak lantas berdatangan ke TPA-nya untuk menimba ilmu. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) misalnya, pernah melakukan studi banding selama tiga bulan di TPA-nya. Bahkan, Direktur IMF Hubert Neiss pada masa itu konon menyempatkan diri berkunjung ke KPS ini dan mengatakan bahwa usaha pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Wisnu patut diberi bantuan.
Dipalak
Seiring berkembangnya produktivitas KPS-nya, ternyata banyak tantangan yang harus dihadapi Wisnu. Penghargaan menjadi tidak berarti lagi saat pihaknya justru dipalak oleh oknum dari pemerintah daerah. “Saya heran, saya mengurus sampah kan membantu masyarakat dan pemerintah, kok masih diriwuki (diganggu-red),” ungkapnya.
Kekecewaan Wisnu bertambah saat para pegawainya direkrutnya dari kalangan pekerja seks komersial (PSK), pada waktu itu mulai tidak bangga lagi dengan profesi mereka sebagai pekerja di KPS, padahal taraf hidup mereka secara ekonomi dan sosial meningkat.
“Mereka mendapatkan penghasilan lumayan, taraf hidup mereka meningkat, tapi mereka sering tidak mau mengaku bekerja di KPS,” tutur Wisnu. Penghasilan berlebih konon justru mereka gunakan untuk berlaku urakan, seperti nongkrong dan minum-minuman keras.
Kenyataan ini membuat Wisnu sempat “ngambek”. Ia pun menarik diri dan menghentikan aktivitas di KPS-nya, dan memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk “menemukan makna” aktivitasnya.
Bangkit Lagi
Bulan September lalu, saat SH berkunjung ke TPA-nya, lokasi pengoplosan sampah ini baru saja dibuka lagi setelah selama hampir lima tahun berhenti beroperasi.
Sanggar Kegiatan yang belakangan dinamai “Citizen Based Initiative-Karya Penggayuh Sentosa (CBI-KPS) ini pun mulai berdenyut lagi. Wisnu, yang mengaku bangga menjadi “tukang sampah” ini berharap sanggarnya benar-benar menjadi ajang pembelajaran bagi masyarakat untuk mengelola sampah. Ia kini bahkan bercita-cita mendirikan “Institut Sampah” yang kelak mampu menghasilkan profesor-profesor di bidang persampahan.
Cita-cita ayah dari dua anak perempuan dan dua anak laki-laki ini tentu tak berlebihan, mengingat sejak dibuka lagi, sanggar yang didirikannya itu tak henti didatangi para suster biara, para pelajar, mahasiswa, bahkan dosen-dosen dari universitas terkemuka di Yogyakarta, untuk menimba ilmu soal persampahan.
“Seluruh biara susteran dan sejumlah perumahan di Sleman dan Yogyakarta telah menerapkan sistem pengelolaan sampah kami,” ungkap Nanda, “murid” Wisnu yang kini telah menjadi rekan kerjanya di CBI-KPS.
“Prinsip yang diterapkan CBI-KPS ini adalah zero waste, artinya sampah dikelola semaksimal mungkin sehingga menyisakan sesedikit mungkin residu (sampah yang tidak bisa digunakan lagi-red),” papar Wisnu lugas.
Menurut Wisnu, sampah nonorganik juga dapat diupayakan menjadi produk baru atau bahan daur ulang demi meningkatkan pendapatan masyarakat, misalnya dengan membuatnya menjadi barang kerajinan. Penanganan sampah menurutnya harus komprehensif, antara lain mencakup aspek sosial, politik, budaya, dan ekonomi masyarakat.
Wisnu juga memasyarakatkan motto “Sampah Selesai di Rumah”. Artinya, masalah sampah harus diatasi dari rumah-rumah, karena bila tidak dikelola dengan tepat, sampah akan mengganggu kesehatan dan kenyamanan lingkungan. “Walau berat tantangannya, mari kita mulai membiasakan memilah sampah sejak dari rumah,” imbaunya.
Sumber : sinar harapan
Tips Memulai Usaha Sendiri
Peluang usaha seringkali dilihat sebagai peluang yang sesaat. Tak heran jika wirausahawan model begini tak langgeng dalam menjalankan bisnisnya. Padahal peluang tersebut jika dipelihara dengan manajemen standar, pasti sukses.
Apa yang harus dilakukan pebisnis pemula jika melihat peluang tersebut dan bagaimana mengelola kesempatan tersebut agar bisa membawa kesejahteraan yang langgeng? Berikut ini ada baiknya mencermati tips tentang memulai usaha sendiri.
Langkah awal mulailah dengan sebuah mimpi. Semua bermula dari sebuah mimpi dan yakinkan akan produk yang akan kita tawarkan. A dream is where it all started. Pemimpinlah yang selalu menciptakan dan membuat sebuah terobosan dalam produk. Begitu juga dengan cara pelayanan, jasa, ataupun ide yang dapat dijual dengan sukses. Mereka tidak mengenal batas dan keterikatan, tak mengenal kata tidak bisa ataupun tidak mungkin.
Cintailah Produk Anda. Kecintaan akan produk kita akan memberikan sebuah keyakinan pada pelanggan kita dan membuat kerja keras terasa ringan. Membuat kita mampu melewati masa sulit. Enthusiaatism and Persistence: Antusiasme dan keuletan sebagai pertanda cinta dan keyakinan akan menjadi tulang punggung keberhasilan sebuah usaha yang baru.
Ambillah risiko. Berani mengambil risiko yang diperhitungkan merupakan kunci awal dalam dunia usaha, karena hasil yang akan dicapai akan proporsional terhadap risiko yang akan diambil. Sebuah risiko yang diperhitungkan dengan baik akan lebih banyak memberikan kemungkinan berhasil. Dan inilah faktor penentu yang membedakan seorang entrepreneur (wirausaha) dengan manajer. Entrepreneur akan lebih dibutuhkan pada tahap awal pengembangan perusahaan, dan manajer dibutuhkan dalam mengatur perusahaan yang telah maju.
Langkah Terpenting
Carilah nasihat dari pakarnya, tapi ikuti kata-kata kita. Entrepreneur selalu mencari nasihat dari berbagai pihak tapi keputusan akhir selalu ada ditangannya dan dapat diputuskan dengan indera keenamnya. Pada fase awal sebuah usaha, kepiawaian menjual merupakan kunci suksesnya. Dan kemampuan untuk memahami dan menguasai hubungan dengan pelanggan akan membantu mengambangkan usaha pada fase itu.
Langkah terpenting adalah menumbuhkan ethos kerja keras. Langkah ini sering dianggap sebagai mimpi kuno dan seharusnya diganti, tapi hard work and smart work tidaklah dapat dipisahkan lagi sekarang. Hampir semua kesuksesan butuh workaholics di langkah awalnya. Entrepreneur sejati tidak pernah lepas dari kerjanya. Pada saat tidurpun otaknya bekerja dan berpikir akan bisnisnya.
Bertemanlah sebanyak banyaknya. Pada harga dan kualitas yang sama, orang membeli dari temannya. Pada harga yang sedikit mahal, orang akan tetap membeli dari teman. Teman akan membantu mengembangkan usaha kita, memberi nasihat, membantu dan menolong pada masa sulit.
Jika mengalami kegagalan, hadapi kegagalan itu. Kegagalan merupakan sebuah vitamin untuk memperkuat dan mempertajam intuisi dan kemampuan kita berwirausaha. Setiap usaha selalu akan mempunyai risiko kegagalan dan bila itu, bersiaplah dan hadapilah! Jika Anda sudah siap memulai usaha, lakukanlah sekarang juga. Putuskan dan kerjakan sekarang, karena besok bukanlah milik kita
Sumber : sinar harapan
Apa yang harus dilakukan pebisnis pemula jika melihat peluang tersebut dan bagaimana mengelola kesempatan tersebut agar bisa membawa kesejahteraan yang langgeng? Berikut ini ada baiknya mencermati tips tentang memulai usaha sendiri.
Langkah awal mulailah dengan sebuah mimpi. Semua bermula dari sebuah mimpi dan yakinkan akan produk yang akan kita tawarkan. A dream is where it all started. Pemimpinlah yang selalu menciptakan dan membuat sebuah terobosan dalam produk. Begitu juga dengan cara pelayanan, jasa, ataupun ide yang dapat dijual dengan sukses. Mereka tidak mengenal batas dan keterikatan, tak mengenal kata tidak bisa ataupun tidak mungkin.
Cintailah Produk Anda. Kecintaan akan produk kita akan memberikan sebuah keyakinan pada pelanggan kita dan membuat kerja keras terasa ringan. Membuat kita mampu melewati masa sulit. Enthusiaatism and Persistence: Antusiasme dan keuletan sebagai pertanda cinta dan keyakinan akan menjadi tulang punggung keberhasilan sebuah usaha yang baru.
Ambillah risiko. Berani mengambil risiko yang diperhitungkan merupakan kunci awal dalam dunia usaha, karena hasil yang akan dicapai akan proporsional terhadap risiko yang akan diambil. Sebuah risiko yang diperhitungkan dengan baik akan lebih banyak memberikan kemungkinan berhasil. Dan inilah faktor penentu yang membedakan seorang entrepreneur (wirausaha) dengan manajer. Entrepreneur akan lebih dibutuhkan pada tahap awal pengembangan perusahaan, dan manajer dibutuhkan dalam mengatur perusahaan yang telah maju.
Langkah Terpenting
Carilah nasihat dari pakarnya, tapi ikuti kata-kata kita. Entrepreneur selalu mencari nasihat dari berbagai pihak tapi keputusan akhir selalu ada ditangannya dan dapat diputuskan dengan indera keenamnya. Pada fase awal sebuah usaha, kepiawaian menjual merupakan kunci suksesnya. Dan kemampuan untuk memahami dan menguasai hubungan dengan pelanggan akan membantu mengambangkan usaha pada fase itu.
Langkah terpenting adalah menumbuhkan ethos kerja keras. Langkah ini sering dianggap sebagai mimpi kuno dan seharusnya diganti, tapi hard work and smart work tidaklah dapat dipisahkan lagi sekarang. Hampir semua kesuksesan butuh workaholics di langkah awalnya. Entrepreneur sejati tidak pernah lepas dari kerjanya. Pada saat tidurpun otaknya bekerja dan berpikir akan bisnisnya.
Bertemanlah sebanyak banyaknya. Pada harga dan kualitas yang sama, orang membeli dari temannya. Pada harga yang sedikit mahal, orang akan tetap membeli dari teman. Teman akan membantu mengembangkan usaha kita, memberi nasihat, membantu dan menolong pada masa sulit.
Jika mengalami kegagalan, hadapi kegagalan itu. Kegagalan merupakan sebuah vitamin untuk memperkuat dan mempertajam intuisi dan kemampuan kita berwirausaha. Setiap usaha selalu akan mempunyai risiko kegagalan dan bila itu, bersiaplah dan hadapilah! Jika Anda sudah siap memulai usaha, lakukanlah sekarang juga. Putuskan dan kerjakan sekarang, karena besok bukanlah milik kita
Sumber : sinar harapan
Jumat, 05 Desember 2008
Pilih Ikan Atau Kail?
“Duh, kok kemaraunya gak berhenti-berhenti yah”, keluh Kaka si kancil.
“Iya nih”, jawab Kuri si kura-kura lirih, “kalau begini terus dua tiga hari lagi persediaan makanan kita bakal habis.”
Kaka dan Kuri memang tinggal bersama. Mereka membuat rumah yang cukup nyaman di dalam sebuah gua kecil. Di sekitar gua sejatinya banyak ditumbuhi tanaman-tanaman yang menjadi pengisi perut mereka sehari-hari. Namun sayangnya, sejak beberapa minggu terakhir ini, panas yang berkepanjangan melanda, sehingga sedikit demi sedikit tanaman yang ada mati kekeringan.
“Coba kita bisa memancing seperti pak Beri Beruang”, lanjut Kuri, “pastinya kita tidak perlu pusing seperti ini.”
BRAKKKK!!!!
Kaka tiba-tiba meloncat dari kursinya hingga tidak sengaja menjatuhkan kursi tersebut.
“Aku ada ide!”, teriak Kaka dengan semangat ‘45.
“Ada ide ya ada ide”, gerutu Kuri yang sempat jantungan gara-gara ulah Kaka tadi, “tapi jangan bikin aku mati muda dong.”
“Dengar dulu”, potong Kaka sebelum Kuri melanjutkan omelannya. “Bagaimana kalau kita minta ikan ke pak Beri? Kan seringkali dia dapat ikan banyak, yang lebih dari jatah makan perut gendutnya. Pasti bakal diberi deh.”
“Memangnya kita akan minta-minta ikan terus ke dia? Lama-lama juga pasti pak Beri gak akan mau memberi ikan ke kita.”, jawab Kuri sambil membetulkan kursi yang tadi terjatuh. Lanjutnya, “Lebih baik kita minta diajari cara memancing ikan saja.”
“Ah, tahu sendiri kan pak Beri seperti apa sifatnya”, tukas Kaka. “Galak. Bicaranya keras, tapi susah dicerna maksudnya. Mendingan minta langsung aja. Lagipula aku malas kalau harus belajar segala.”
Kaka melangkah mendekati jendela. Matanya berbinar-binar nakal.
“Nanti aku akan cari alasan yang berbeda setiap harinya agar pak Beri mau memberikan ikan kepadaku.”, katanya. “Gimana Kur, setuju tidak?”
Kuri termenung. Di satu sisi, ia membayangkan nikmatnya duduk santai di tepi jalan setapak ke sungai sambil menunggu pak Beri lewat membawa hasil pancingannya. Ia kenal Kaka sejak lama. Kawannya yang cerdas ini pasti dapat menemukan cara untuk membuat satu dua ikan pak Beri berpindah tangan.
Di sisi lain, ia tidak ingin hanya berpangku tangan dan bergantung kepada binatang lain. Ia juga ingin dapat memancing ikan sendiri sehingga tidak kebingungan apabila suatu saat kemarau datang lagi.
“Hei, kok malah melamun”, ujar Kaka sambil mendorong pelan tempurung Kuri.
“Aku tidak ikutan deh”, jawab Kuri.
“Loh kok…”
“Iya, aku ingin coba memancing saja. Pasti terasa lebih lezat kalau ikannya hasil pancinganku sendiri”.
Mata Kaka tercenung. Ia menatap tajam ke arah Kuri. Beberapa detik kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
“HAHAHAHAH!!! Kamu bercanda kan? Memangnya kamu mau belajar darimana? Pak Beri? Bisa tambah lapar kalau kamu kelamaan ngobrol dengan dia!”, kata Kaka lantang. “Lagipula”, lanjutnya, “semua binatang di hutan ini kan tahu kalau kamu itu lambat berpikirnya.”
Kuri tersenyum mendengar sindiran Kaka.
“Biar saja”, jawabnya. Pede. “Aku yakin kalau aku berusaha pasti aku akan bisa”.
Begitulah. Keesokan harinya, Kuri mulai mengikuti dan mengamati pak Beri yang sedang memancing. Ia kemudian mencoba untuk membuat tongkat pancingnya sendiri dan menanyakan kepada pak Beri, apakah kailnya sudah benar atau belum. Dengan tekun ia berusaha memahami apa maksud perkataan pak Beri hingga akhirnya ia berhasil membuat tongkat pancing yang kuat dan kokoh.
Si kancil? Sesuai rencananya, Kaka menunggu di ujung jalan hingga pak Beri lewat dan mengiba-iba kepadanya untuk meminta seekor ikan hasil tangkapannya. Dasar cerdik, pak Beri pun tidak kuasa menolak permintaannya.
“Lihat nih,” ujar Kaka pada Kuri sesampainya di rumah, “ikan pemberian pak Beri. Besar bukan? Pasti lezat jika dibumbu rujak dan dimakan dengan sambal mangga. Mana ikanmu?”
Kuri menunjukkan kail buatannya dengan bangga.
“Nih”, katanya sambil tersenyum. “Hari ini aku memang belum bisa membawa ikan, tapi aku sudah bisa membuat tongkat pancingku sendiri.”
“Terserahlah,” tukas Kaka. “Kok mau-maunya sih repot begitu.”
Hari demi hari berlalu. Kuri terus berusaha untuk belajar tehnik memancing ikan dari pak Beri. Mulai dari memilih umpan, mencari tempat yang banyak ikannya, hingga cara menarik ikan agar tidak terlepas dari kaitannya. Kaka pun melalui hari-harinya dengan seribu satu alasan untuk dapat menaklukkan hati pak Beri.
Lama kelamaan, pak Beri pun jenuh. Ia tidak mau lagi memberikan ikannya kepada Kaka meskipun Kaka sudah memohon sambil berguling-guling di tanah. Sebaliknya, Kuri semakin ahli dalam memancing dan sudah dapat menangkap ikan sendiri. Melihat Kaka yang menangis tersedu-sedu karena tidak mendapatkan makanan hari itu, Kuri pun membagikan ikan hasil tangkapannya pada Kaka.
“Tuh kan, benar yang aku bilang”, kata Kuri bijak. “Lebih baik kita berusaha sendiri daripada selalu bergantung kepada orang lain. Meskipun kelihatannya susah, jika terus mencoba, pasti kita akan bisa.”
Kaka mengangguk perlahan. Kali ini dia setuju dengan pendapat Kuri.
Moral Cerita / Bahan Renungan: "Daripada terus-menerus bergantung kepada orang lain, lebih baik jika kita berusaha untuk belajar dan meningkatkan kemampuan kita agar bisa seterusnya berdiri dan berusaha sendiri."
disadur dari fabel dongeng
“Iya nih”, jawab Kuri si kura-kura lirih, “kalau begini terus dua tiga hari lagi persediaan makanan kita bakal habis.”
Kaka dan Kuri memang tinggal bersama. Mereka membuat rumah yang cukup nyaman di dalam sebuah gua kecil. Di sekitar gua sejatinya banyak ditumbuhi tanaman-tanaman yang menjadi pengisi perut mereka sehari-hari. Namun sayangnya, sejak beberapa minggu terakhir ini, panas yang berkepanjangan melanda, sehingga sedikit demi sedikit tanaman yang ada mati kekeringan.
“Coba kita bisa memancing seperti pak Beri Beruang”, lanjut Kuri, “pastinya kita tidak perlu pusing seperti ini.”
BRAKKKK!!!!
Kaka tiba-tiba meloncat dari kursinya hingga tidak sengaja menjatuhkan kursi tersebut.
“Aku ada ide!”, teriak Kaka dengan semangat ‘45.
“Ada ide ya ada ide”, gerutu Kuri yang sempat jantungan gara-gara ulah Kaka tadi, “tapi jangan bikin aku mati muda dong.”
“Dengar dulu”, potong Kaka sebelum Kuri melanjutkan omelannya. “Bagaimana kalau kita minta ikan ke pak Beri? Kan seringkali dia dapat ikan banyak, yang lebih dari jatah makan perut gendutnya. Pasti bakal diberi deh.”
“Memangnya kita akan minta-minta ikan terus ke dia? Lama-lama juga pasti pak Beri gak akan mau memberi ikan ke kita.”, jawab Kuri sambil membetulkan kursi yang tadi terjatuh. Lanjutnya, “Lebih baik kita minta diajari cara memancing ikan saja.”
“Ah, tahu sendiri kan pak Beri seperti apa sifatnya”, tukas Kaka. “Galak. Bicaranya keras, tapi susah dicerna maksudnya. Mendingan minta langsung aja. Lagipula aku malas kalau harus belajar segala.”
Kaka melangkah mendekati jendela. Matanya berbinar-binar nakal.
“Nanti aku akan cari alasan yang berbeda setiap harinya agar pak Beri mau memberikan ikan kepadaku.”, katanya. “Gimana Kur, setuju tidak?”
Kuri termenung. Di satu sisi, ia membayangkan nikmatnya duduk santai di tepi jalan setapak ke sungai sambil menunggu pak Beri lewat membawa hasil pancingannya. Ia kenal Kaka sejak lama. Kawannya yang cerdas ini pasti dapat menemukan cara untuk membuat satu dua ikan pak Beri berpindah tangan.
Di sisi lain, ia tidak ingin hanya berpangku tangan dan bergantung kepada binatang lain. Ia juga ingin dapat memancing ikan sendiri sehingga tidak kebingungan apabila suatu saat kemarau datang lagi.
“Hei, kok malah melamun”, ujar Kaka sambil mendorong pelan tempurung Kuri.
“Aku tidak ikutan deh”, jawab Kuri.
“Loh kok…”
“Iya, aku ingin coba memancing saja. Pasti terasa lebih lezat kalau ikannya hasil pancinganku sendiri”.
Mata Kaka tercenung. Ia menatap tajam ke arah Kuri. Beberapa detik kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
“HAHAHAHAH!!! Kamu bercanda kan? Memangnya kamu mau belajar darimana? Pak Beri? Bisa tambah lapar kalau kamu kelamaan ngobrol dengan dia!”, kata Kaka lantang. “Lagipula”, lanjutnya, “semua binatang di hutan ini kan tahu kalau kamu itu lambat berpikirnya.”
Kuri tersenyum mendengar sindiran Kaka.
“Biar saja”, jawabnya. Pede. “Aku yakin kalau aku berusaha pasti aku akan bisa”.
Begitulah. Keesokan harinya, Kuri mulai mengikuti dan mengamati pak Beri yang sedang memancing. Ia kemudian mencoba untuk membuat tongkat pancingnya sendiri dan menanyakan kepada pak Beri, apakah kailnya sudah benar atau belum. Dengan tekun ia berusaha memahami apa maksud perkataan pak Beri hingga akhirnya ia berhasil membuat tongkat pancing yang kuat dan kokoh.
Si kancil? Sesuai rencananya, Kaka menunggu di ujung jalan hingga pak Beri lewat dan mengiba-iba kepadanya untuk meminta seekor ikan hasil tangkapannya. Dasar cerdik, pak Beri pun tidak kuasa menolak permintaannya.
“Lihat nih,” ujar Kaka pada Kuri sesampainya di rumah, “ikan pemberian pak Beri. Besar bukan? Pasti lezat jika dibumbu rujak dan dimakan dengan sambal mangga. Mana ikanmu?”
Kuri menunjukkan kail buatannya dengan bangga.
“Nih”, katanya sambil tersenyum. “Hari ini aku memang belum bisa membawa ikan, tapi aku sudah bisa membuat tongkat pancingku sendiri.”
“Terserahlah,” tukas Kaka. “Kok mau-maunya sih repot begitu.”
Hari demi hari berlalu. Kuri terus berusaha untuk belajar tehnik memancing ikan dari pak Beri. Mulai dari memilih umpan, mencari tempat yang banyak ikannya, hingga cara menarik ikan agar tidak terlepas dari kaitannya. Kaka pun melalui hari-harinya dengan seribu satu alasan untuk dapat menaklukkan hati pak Beri.
Lama kelamaan, pak Beri pun jenuh. Ia tidak mau lagi memberikan ikannya kepada Kaka meskipun Kaka sudah memohon sambil berguling-guling di tanah. Sebaliknya, Kuri semakin ahli dalam memancing dan sudah dapat menangkap ikan sendiri. Melihat Kaka yang menangis tersedu-sedu karena tidak mendapatkan makanan hari itu, Kuri pun membagikan ikan hasil tangkapannya pada Kaka.
“Tuh kan, benar yang aku bilang”, kata Kuri bijak. “Lebih baik kita berusaha sendiri daripada selalu bergantung kepada orang lain. Meskipun kelihatannya susah, jika terus mencoba, pasti kita akan bisa.”
Kaka mengangguk perlahan. Kali ini dia setuju dengan pendapat Kuri.
Moral Cerita / Bahan Renungan: "Daripada terus-menerus bergantung kepada orang lain, lebih baik jika kita berusaha untuk belajar dan meningkatkan kemampuan kita agar bisa seterusnya berdiri dan berusaha sendiri."
disadur dari fabel dongeng
Membangun bisnis paling halal dan paling menjanjikan
Kedengarannya memang seperti bahasa iklan. Terus terang saya sendiri awam soal dunia iklan atau trik dalam beriklan, tapi apa yang saya sampaikan diatas tidaklah berlebihan. Artikel ini saya tulis untuk sekedar berbagi pengalaman kepada calon pebisnis muda berdasarkan apa-apa yang saya dapat dari teman dan kawan-kawan yang dah jadi milyuner ceu ilah kelihatannya makin berlebihan aja…tapi ini betul bro…!
Biar lebih jelasnya saya akan cerita sedikit dengan salah satu kawan saat kami bincang-bincang usai meeting di salah satu café Taman Anggrek.
Saat itu saya sampaikan kepada rekan pemilik salah satu tabloid ibu kota akan keinginan saya membuka usaha waralaba, atau francise …ya semacam usaha nebeng merek terkenal gitu,…kaya KFC, MacDonald, Alpamart atau yang lain…yang menyediakan paket waralaba dan sekarang merek lokal juga mulai menjamur…
Tadinya usaha ini saya pilih karena melihat kawan-kawan lain yang lumayan berhasil, tetapi mendengar penjelasan dari sang pakar waralaba ini, saya malah berpikir dua kali..
Sang pakar waralaba (sebut saja begitu) mengatakan, “saya walau dikenal sebagai ahlinya dibidang ini…tetapi saya sendiri tidak merekomendasikan usaha ini kepada orang-orang yang memiliki ide dan pemikiran bisnis yang cemerlang untuk berbisnis disektor ini.
Jika kita bisa, kenapa tidak meng-create bisnis kita sendiri…malah membesarkan punya orang lain”.
“Menurut bapak bisnis apa yang bakal booming dimasa depan?” Kawan saya balik bertanya. Saya jawab, “berdasarkan beberapa pendapat rekan-rekan dan beberapa artikel bisnis dimedia, saya mengambil kesimpulan bahwa, ada tiga kelompok besar yang akan merajai bisnis masa depan. Yang pertama adalah sektor jasa kesehatan dan perawatan tubuh-kecantikan….turunannya yang paling terlihat adalah perawatan dan pengobatan herbal. Yang kedua adalah sektor perkebunan-peternakan…yang geliatnya sudah terlihat adalah peternakan dan yang terakhir adalah jasa teknologi komputer, untuk saat ini terlihat sekali tetapi kedepan kompetitor di sektor ini akan banyak sekali.”
Kawan saya setuju dengan pendapat saya dengan mengangguk, “Dan bisnis berikut yang akan dan sedang saya bangun adalah peternakan ikan pak”. Jawabnya datar. Tidak tanggung-tanggung dana yang akan ia gulirkan untuk bermain disektor ini, akan bikin kita makin ciut dengarnya…he..he... Sekedar gambaran…ia akan membangun kolam ikan aneka macam dan ternak itik diatas lahan seluas 160 Hektar….!!!
terus paling halalnya dimana dong?
ya, saya sarankan anda ikut main dipeternakan lah...kan ga ada yang bisa anda korupsi...kalau pakan ternak anda dikorupsi paling klepek-klepek tuh hewan...ya kan..
dan menjanjikan karena anda jangan pikirin jualnya kemana...ternak aja terus..apa iya ga ada yang beli. Kalau ga laku hari ini, besok atau lusa dia beranak-pinak kan makin banyak. masak sudah banyak nanti masih ga ada yang nanya mo dijual apa nggak piaraan kita tho. percayalah, pasti ada yang beli kalau tidak, silahkan hubungi saya di blog ini.....he..he
Kalau kawan saya saja yang sudah milyuner mau bermain disektor ini, kenapa kita tidak….
Ayo pulang ke desa manfaatkan lahanmu yang kosong….kwek..kwek…mbek..mbek!! kuk kruuyuuuuuk!!!
Biar lebih jelasnya saya akan cerita sedikit dengan salah satu kawan saat kami bincang-bincang usai meeting di salah satu café Taman Anggrek.
Saat itu saya sampaikan kepada rekan pemilik salah satu tabloid ibu kota akan keinginan saya membuka usaha waralaba, atau francise …ya semacam usaha nebeng merek terkenal gitu,…kaya KFC, MacDonald, Alpamart atau yang lain…yang menyediakan paket waralaba dan sekarang merek lokal juga mulai menjamur…
Tadinya usaha ini saya pilih karena melihat kawan-kawan lain yang lumayan berhasil, tetapi mendengar penjelasan dari sang pakar waralaba ini, saya malah berpikir dua kali..
Sang pakar waralaba (sebut saja begitu) mengatakan, “saya walau dikenal sebagai ahlinya dibidang ini…tetapi saya sendiri tidak merekomendasikan usaha ini kepada orang-orang yang memiliki ide dan pemikiran bisnis yang cemerlang untuk berbisnis disektor ini.
Jika kita bisa, kenapa tidak meng-create bisnis kita sendiri…malah membesarkan punya orang lain”.
“Menurut bapak bisnis apa yang bakal booming dimasa depan?” Kawan saya balik bertanya. Saya jawab, “berdasarkan beberapa pendapat rekan-rekan dan beberapa artikel bisnis dimedia, saya mengambil kesimpulan bahwa, ada tiga kelompok besar yang akan merajai bisnis masa depan. Yang pertama adalah sektor jasa kesehatan dan perawatan tubuh-kecantikan….turunannya yang paling terlihat adalah perawatan dan pengobatan herbal. Yang kedua adalah sektor perkebunan-peternakan…yang geliatnya sudah terlihat adalah peternakan dan yang terakhir adalah jasa teknologi komputer, untuk saat ini terlihat sekali tetapi kedepan kompetitor di sektor ini akan banyak sekali.”
Kawan saya setuju dengan pendapat saya dengan mengangguk, “Dan bisnis berikut yang akan dan sedang saya bangun adalah peternakan ikan pak”. Jawabnya datar. Tidak tanggung-tanggung dana yang akan ia gulirkan untuk bermain disektor ini, akan bikin kita makin ciut dengarnya…he..he... Sekedar gambaran…ia akan membangun kolam ikan aneka macam dan ternak itik diatas lahan seluas 160 Hektar….!!!
terus paling halalnya dimana dong?
ya, saya sarankan anda ikut main dipeternakan lah...kan ga ada yang bisa anda korupsi...kalau pakan ternak anda dikorupsi paling klepek-klepek tuh hewan...ya kan..
dan menjanjikan karena anda jangan pikirin jualnya kemana...ternak aja terus..apa iya ga ada yang beli. Kalau ga laku hari ini, besok atau lusa dia beranak-pinak kan makin banyak. masak sudah banyak nanti masih ga ada yang nanya mo dijual apa nggak piaraan kita tho. percayalah, pasti ada yang beli kalau tidak, silahkan hubungi saya di blog ini.....he..he
Kalau kawan saya saja yang sudah milyuner mau bermain disektor ini, kenapa kita tidak….
Ayo pulang ke desa manfaatkan lahanmu yang kosong….kwek..kwek…mbek..mbek!! kuk kruuyuuuuuk!!!
Gratis Biaya Pendirian UKM
Pemda DKI Jakarta akan menggratiskan biaya pendirian usaha kecil dan menengah. Langkah ini sedang diusulkan ke DPRD, sementara anggota Dewan mengisyaratkan akan menyetujuinya.
Jika penggratisan untuk usaha kecil dimaksudkan untuk menggairahkan ekonomi kerakyatan dan menekan angka pengangguran, penggratisan usaha menengah diharapkan mendorong investor dalam negeri dan luar negeri untuk mendirikan usaha di Jakarta.
Gratis Biaya Pendirian
Jakarta, Kompas - Untuk menggairahkan ekonomi kerakyatan dan menekan angka pengangguran, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah DKI Jakarta menggratiskan biaya pendirian usaha kecil. Penggratisan biaya pendirian usaha menengah juga sedang disiapkan agar meningkatkan investasi.
Kepala Dinas KUKM DKI Jakarta Ade Suharsono, Kamis (20/11) di Jakarta Pusat, mengatakan, penggratisan biaya pendirian sedang diusulkan ke DPRD DKI Jakarta. Apabila disetujui, biaya pendirian usaha menengah ini akan diterapkan pada 2009.
”Penggratisan biaya pendirian usaha menengah bakal mendorong investor dalam dan luar negeri untuk mendirikan usaha di Jakarta. Proses pendirian yang mudah, modal yang relatif kecil, dan risiko yang kecil akan menjadi daya tarik bagi pemodal mana pun,” kata Ade.
Penggratisan biaya itu memang tidak mendatangkan pemasukan di awal pendirian. Namun, kebijakan itu membuat banyak usaha kecil yang hidup karena roda ekonomi berputar dan pajak yang dapat ditarik. Pemerintah dan masyarakat justru diuntungkan jika kebijakan penggratisan biaya pendirian usaha menengah disetujui.
Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat Achmad Husein Alaydrus memberi isyarat persetujuan atas usul tersebut. Penggratisan biaya pendirian usaha kecil dan menengah diperlukan untuk menggairahkan ekonomi, terutama saat krisis keuangan global.
Pasar rakyat
Untuk membantu warga miskin mendapatkan bahan pokok dengan harga murah dan pameran hasil UMKM, Dinas KUKM akan menggelar Pasar Rakyat pada Jumat (21/11) di Lapangan Wijaya Kusuma Slipi.
Bahan pokok dengan potongan harga sampai 50 persen dijual dengan sistem kupon. Kupon sebelumnya telah dibagikan kepada 5.000 orang di 12 kelurahan.
Berbagai hasil kerajinan dan produk UKM juga akan dipamerkan untuk mempermudah pemasaran. Krisis keuangan seperti saat ini justru dimanfaatkan Dinas UMKM untuk menggencarkan promosi hasil UKM Jakarta. (ECA)
Sumber
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Jika penggratisan untuk usaha kecil dimaksudkan untuk menggairahkan ekonomi kerakyatan dan menekan angka pengangguran, penggratisan usaha menengah diharapkan mendorong investor dalam negeri dan luar negeri untuk mendirikan usaha di Jakarta.
Gratis Biaya Pendirian
Jakarta, Kompas - Untuk menggairahkan ekonomi kerakyatan dan menekan angka pengangguran, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah DKI Jakarta menggratiskan biaya pendirian usaha kecil. Penggratisan biaya pendirian usaha menengah juga sedang disiapkan agar meningkatkan investasi.
Kepala Dinas KUKM DKI Jakarta Ade Suharsono, Kamis (20/11) di Jakarta Pusat, mengatakan, penggratisan biaya pendirian sedang diusulkan ke DPRD DKI Jakarta. Apabila disetujui, biaya pendirian usaha menengah ini akan diterapkan pada 2009.
”Penggratisan biaya pendirian usaha menengah bakal mendorong investor dalam dan luar negeri untuk mendirikan usaha di Jakarta. Proses pendirian yang mudah, modal yang relatif kecil, dan risiko yang kecil akan menjadi daya tarik bagi pemodal mana pun,” kata Ade.
Penggratisan biaya itu memang tidak mendatangkan pemasukan di awal pendirian. Namun, kebijakan itu membuat banyak usaha kecil yang hidup karena roda ekonomi berputar dan pajak yang dapat ditarik. Pemerintah dan masyarakat justru diuntungkan jika kebijakan penggratisan biaya pendirian usaha menengah disetujui.
Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat Achmad Husein Alaydrus memberi isyarat persetujuan atas usul tersebut. Penggratisan biaya pendirian usaha kecil dan menengah diperlukan untuk menggairahkan ekonomi, terutama saat krisis keuangan global.
Pasar rakyat
Untuk membantu warga miskin mendapatkan bahan pokok dengan harga murah dan pameran hasil UMKM, Dinas KUKM akan menggelar Pasar Rakyat pada Jumat (21/11) di Lapangan Wijaya Kusuma Slipi.
Bahan pokok dengan potongan harga sampai 50 persen dijual dengan sistem kupon. Kupon sebelumnya telah dibagikan kepada 5.000 orang di 12 kelurahan.
Berbagai hasil kerajinan dan produk UKM juga akan dipamerkan untuk mempermudah pemasaran. Krisis keuangan seperti saat ini justru dimanfaatkan Dinas UMKM untuk menggencarkan promosi hasil UKM Jakarta. (ECA)
Sumber
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon