Sabtu, 23 Februari 2013

Memberdayakan tetangga dengan memproduksi dodol


Garut identik dengan dodol. Banyak produsen dodol di daerah ini. Salah satunya adalah Muhamad Mimin, warga Desa Bojang Salam, Garut, Jawa Barat. Pada tahun 2000, ia terjun ke usaha ini bermodal kredit dari pemerintah.
Dari usahanya, ia tak cuma mampu mengembalikan pinjaman tiga tahun berikutnya, tetapi juga memberi manfaat bagi warga desanya.
Selama mengembangkan usaha dodol, Mimin tak hanya mempekerjakan 10 orang, tetapi juga menggerakkan sekitar 50 warga desanya. Ia sadar, banyak warga desanya tidak memiliki pekerjaan jelas. "Ada kecenderungan perempuan di sini memilih tinggal di rumah setelah menikah," ujarnya.
Memberdayakan tetangga dengan memproduksi dodolMelihat banyak pengangguran, Mimin menawarkan kerjasama untuk memproduksi dodol. Awalnya, ia kesulitan lantaran sebagian besar pekerja barunya tidak tahu cara membuat dodol. "Sambil bekerja, saya memberikan pembinaan dan contoh kepada mereka," paparnya.
Setengah tahun berjalan, barulah para tetangganya mahir membuat dodol. Berhubung sebagian besar pekerjanya adalah ibu rumah tangga, Mimin menerapkan pola kerja yang fleksibel.
Sebab, mereka tak bisa bekerja sepanjang hari di pabrik pembuatan dodol Bhineka. "Sebagian memproduksi sendiri di rumah. Hasilnya, saya beli," jelasnya.
Tapi bagi yang tidak mampu belanja bahan baku, Mimin menyediakannya. Hasilnya ia tampung dengan membayar jasa pengerjaan. Tapi, ia tetap menekankan standar kualitas produksi agar tetap bersaing dengan produk serupa di pasar.
Caranya, ia terus memberikan pembinaan untuk menghasilkan dodol yang enak dan bersih. Saat ini, saban bulan, Mimin mampu memproduksi sebanyak 500 kilogram (kg) dodol.
Dari usahanya itu, ia bisa meraup omzet sekitar Rp 150 juta hingga Rp 200 juta per bulan. Hanya saja, pendapatan sebesar itu tidak selalu sama, tergantung permintaan pasar.
Nah, berkat keuletan dan kerja kerasnya, saat ini pasar dodol garut bikinan Mimin tidak hanya beredar di Garut dan Bandung. Produknya sudah merambah ke 13 daerah, antara lain Bekasi, Jakarta, Yogyakarta, Purwokerto, Cirebon, Kuningan, dan Pekalongan.
Mimin mengakui, bisnis dodol sekarang semakin berat lantaran belakangan muncul pemain-pemain baru dengan kapasitas produksi cukup besar dan mampu menjual dengan harga murah. Untuk itu, ia terus menjalin kerjasama saling menguntungkan dengan agen dan pelanggan di berbagai daerah.
Mimin bilang, yang terpenting adalah senantiasa memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi para perajin dodol garut agar menjaga kualitas dan cita rasa produk. Sebab, dengan cara itu, ia bisa bertahan dalam persaingan.  

Rajin ikut pameran, Monica eksis di bisnis fashion

Rajin ikut pameran, Monica eksis di bisnis fashionBerawal dari keinginan sang anak yang ingin punya usaha sendiri, Monica Subiakto sukses berbisnis fashion. Ia setia mengikuti pameran untuk mempromosikan merek Romantic Cotton. Kini, omzet ratusan juta rutin dia kantongi setiap bulan. 

Dalam sebuah pameran yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC) beberapa saat lalu, ada satu stan yang tampil beda. Dekorasinya cantik dan elegan. Gaya klasik yang berpadu dengan warna lembut mampu memikat banyak mata. Banyak pengunjung pun singgah untuk melihat koleksi baju dan pernik aksesori yang dipajang.

Itulah stan Romantic Cotton, brand pakaian yang kini lekat dengan kalangan perempuan kelas atas Ibukota. Setiap kali mengikuti suatu pameran, gerai Romantic Cotton selalu terlihat ramai. Pelanggan seolah tidak mau melewatkan koleksi-koleksi terbaru hasil karya Monica Subiakto.

Monic, panggilan akrab pemilik Romantic Cotton, memang mengandalkan pameran sebagai gerai penjualannya. Berkat keikutsertaannya di berbagai pameran inilah, nama Romantic Cotton banyak dikenal. Bahkan, saat merintis usahanya empat tahun silam, Monic juga memanfaatkan ajang pameran, entah di sekolah ataupun di lingkungan tempat tinggalnya.

Monic mengawali usaha garmen ini berangkat dari keinginan sang anak, Amanda, untuk memiliki usaha sendiri. Dengan modal Rp 3 juta, perempuan yang pernah bekerja di Danar Hadi dan Matahari Department Store hingga belasan tahun ini menjual kaus-kaus impor asal Bangkok, Thailand. Ia memperoleh kaus itu dari seorang temannya.

Melihat respons yang cukup bagus, kemudian, Monic memberanikan diri untuk membuat produk sendiri. Berdagang enam bulan, modalnya berlipat. Akhirnya, dengan Rp 12,5 juta, Monic memulai usaha garmen sejak Juli 2008.

Beruntung, ketika masih bekerja, ia kerap berhubungan dengan pengusaha konveksi, baik di daerah maupun di Jakarta. Monic pun menerapkan strategi maklun atau cut, make, & trim (CMT). Ia memberikan contoh beberapa pakaian jadi kepada para pengusaha konveksi mitranya. Selanjutnya, mereka tinggal meniru sekaligus membuat beberapa ukuran.

Monic memang tak mendesain sendiri pakaiannya. Desain pakaian yang menjadi contoh, adakalanya, merupakan hasil hasil perburuannya di luar negeri. Tapi, seringkali ide datang ketika ia tak puas melihat baju-baju hasil buruannya. “Lantas, saya ubah bahan, aplikasi, hingga modelnya,” kata Monic yang memperoleh inspirasi dari Laura Ashley, pendiri sekaligus merek fashion dan interior ternama asal Inggris.

Untuk membedakan produknya dengan garmen yang lain, Monic memilih hanya memakai warna tertentu, seperti dusty pink, mint green,  dan mustard yellow, “Warna-warna yang lembut ini belum banyak dipakai desainer di Indonesia,” tuturnya.


Raja katun

Sesuai dengan namanya, Monic pun sengaja hanya memilih bahan-bahan katun sejak awal. “Bahan ini sangat cocok untuk cuaca di Indonesia,” tuturnya. Ia rela keluar masuk pasar tradisional untuk berburu kain katun karena seringkali toko-toko lama menyimpan stok kain berkualitas.

Memiliki selera yang baik dan pandai membaca keinginan konsumen menjadi kunci sukses Monic mengembangkan usahanya. Tak heran, ia pun berhasil masuk ke pasar fashion kelas atas meski harus bersaing dengan beberapa brand yang lebih dulu eksis. 

Pada akhirnya, etalase Romantic Cotton tak hanya di pameran saja. Selain datang langsung ke kediamannya di kawasan Kemang Pratama, pelanggan juga sering meminta Monic mengirim baju-baju ke rumah mereka untuk dipilih. “Biasanya, mereka memborong beberapa baju sekaligus,” ujar sarjana ekonomi dari Universitas Negeri 11 Maret, Solo ini.

Setelah berhasil mengembangkan merek Romantic Cotton, Monic ingin membuat produk lain. Ia juga memanfaatkan kain perca, sisa produksi baju-bajunya, untuk disulap menjadi berbagai aksesori unik. Monic juga memproduksi produk-produk houseware dan boneka. “Pokoknya serba katun, saya ingin menjadi raja katun di Indonesia,” ujarnya.

Untuk memproduksi pakaian dan aksesori, Monic telah menggandeng 15 pengusaha konveksi. Mereka tersebar dari Jakarta, Solo, hingga Surabaya.

Ia masih setia berkeliling dari satu pameran ke pameran lainnya. Bahkan, perempuan ramah ini sering terlihat ikut melayani pembeli di stan Romantic Cotton bersama beberapa karyawannya. “Boleh dibilang JCC adalah rumah kedua saya,” tutur Monic.

Dalam sebulan, Monic menjadwalkan ikut dalam tiga pameran. Lantaran, nama Romantic Cotton sudah terkenal, ia tak perlu repot mencari stan di pameran karena biasanya penyelenggara pameran yang akan mengajaknya untuk ikut dalam pameran mereka. Tak heran, biasanya, Monic sudah mengantongi jadwal pameran setahun ke depan.

Tiap pameran, Monic  bisa mencetak omzet puluhan juta rupiah. Total, tiap bulan, Monic bisa mengantongi pendapatan hingga ratusan juta rupiah.        

Mery bergelut dengan telur asin


Telur asin mengantarkan Mery Yani sukses menjadi seorang pengusaha. Tak kuasa melihat usaha telur asin sang kakak hampir tutup, Mery segera mengambil alih. Lewat kerja keras, kini, ia berhasil menjual puluhan ribu telur asin setiap hari.
Melepas akuntan, Mery bergelut dengan telur asinPulang ke kampung halaman bukan berarti hilang kesempatan untuk meraih sukses. Mery Yani telah membuktikannya. Hanya butuh waktu empat tahun, perempuan 29 tahun ini berhasil melambungkan usaha telur asin hingga beromzet ratusan juta rupiah per bulan.
Kecintaan pada sang ibu yang terbaring sakit mendorong Mery Yani kembali ke Karawang pada 2005 silam. Padahal, di Jakarta, Mery tengah membangun karier sebagai akuntan di sebuah perusahaan impor.
Hingga akhirnya, ibunda berpulang pada 2007. Mery pun memutuskan untuk menetap di kota kelahirannya, sambil membantu sang ayah membuat pakan ternak dari dedak padi.
Belum surut kesedihannya, ia harus menghadapi kenyataan usaha telur asin milik sang kakak yang kian terpuruk. Mery memang sangat peduli akan usaha telur asin ini. “Telur asin merupakan penyokong hidup saya sejak masih sekolah dulu,” kenangnya. Ia pun tak bisa tinggal diam saat melihat usaha ini terancam tutup karena penjualan terus menyusut.
Beruntung, Mery pernah punya pengalaman menjajakan telur asin dari satu kios ke kios lain di pasar tradisional, semasa sekolah dulu. Berbekal pengalaman itu, ia pun memberanikan diri mengambil alih usaha sang kakak sejak November 2008. Sebagian uang klaim asuransi jiwa mendiang ibu pun menjadi modal awal usahanya.
Anak ketiga dari empat bersaudara ini mengawali langkahnya dengan memperkaya pengetahuan soal telur asin, baik dari buku maupun bertanya pada beberapa pengusaha yang lebih dulu terjun di bidang ini. Dari sana, Mery menyusun sebuah peta perencanaan usaha lengkap dengan standar kualitas telur, cara pemasaran, dan sistem manajerial karyawan.
Untuk memenuhi standar kualitas telur, Mery menjalin mitra dengan peternak telur bebek di sekitar Karawang. Ia memberi modal, baik berupa bibit bebek atau uang untuk membeli pakan. Tentu saja, para mitra itu nanti harus menyetor telur bebek ke usaha telur asin milik Mery.
Dalam proses pengasinan pun, lulusan Universitas Tarumanegara ini menggunakan bahan-bahan pilihan. Abu yang digunakan adalah abu hitam yang berasal dari sekam padi yang telah dibakar dan terjamin kebersihannya. Abu itu berasal dari lahan pertanian di sekitar Karawang.
Tak hanya membenahi pasok-an telur dan proses pengasinan, Mery juga mencermati pasar telur asin yang mengenal musim sepi. Nah, di saat pasar sedang sepi, lantaran pasokan telur asin berkurang, Mery segera memasok telur asin buatannya dalam jumlah besar.

Lolos sertifikasi
Sebagai pemain baru, tentu, situasi itu sangat menguntungkan. Bukan hanya soal fulus, cara tersebut juga berhasil mendongkrak merek telur asinnya, Sumber Telur Kilau. Alhasil, setelah merek telurnya banyak dikenal, penjualan Mery pun meningkat.
Dalam tempo setahun, Mery berhasil menggenjot penjualan hingga 1.500 butir per hari. Tak hanya itu, ia pun berhasil mengembalikan modal usahanya.
Sayang, saat penjualan meningkat, ia kembali berhadapan dengan masalah. Ia mendapati beberapa mitra yang ingkar menjual telur bebek untuk pabriknya. “Saya harus sabar mencari mitra lain,” ujar Mery.
Untuk menjaga agar pasokan telur bebek tetap stabil, Mery pun membangun peternakan sendiri. Di peternakan tersebut, Mery memiliki 1.500 ekor bebek yang diangon di sekitar Karawang dan Garut.
Ia juga terus meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produknya. Pada 2010, Mery mendaftarkan telur produksinya ke Departemen Kesehatan Republik Indonesia untuk memperoleh sertifikasi kualitas gizi. Setiap produksi, telur-telur hasil peternakan Mery dan mitranya harus melalui beberapa tahap pengujian. Tahapan tersebut meliputi pencucian telur, pengujian dari segi bentuk dan tingkat keretakan, penyemprotan cairan antibakteri, serta uji laboratorium.
Kegigihan Mery mengemas ulang usahanya itu berbuah manis. Hingga saat ini penjualan telur asin cap Sumber Telur sudah menjangkau beberapa wilayah di Indonesia, seperti Jabodetabek, Kalimantan, Bangka Belitung, dan Lampung. Dalam kegiatan pemasaran, Mery mendapat dukungan lebih dari 50 distributor sesuai standar distributor ala Mery. “Mereka harus tahu kemauan konsumen, yang asin banget atau enggak terlalu asin. Distributor harus kenal betul dulu produknya,” terangnya.
Berkat berbagai standar ini, telur asin Mery bisa terjual 10.000 hingga 15.000 ribu butir telur per hari. Dengan harga jual berkisar Rp 1.700–Rp 2.500 per butir, setiap bulannya Merry telah dapat meraup omzet lebih dari Rp 300 juta.
Selain menyelamatkan usaha yang hampir bangkrut, Mery juga berhasil membuka lapangan kerja. Karyawannya telah berlipat, dari hanya empat orang pada awalnya, kini telah mencapai 30 orang.   

Pesanan barang lancar, laba akan terus memancar

Pesanan barang lancar, laba akan terus memancarInternet memang menyuguhkan banyak kemudahan dalam hidup kita. Tak terkecuali, kemudahan dalam hal belanja. Bukan cuma memborong dagangan gerai online lokal, Anda pun bisa melirik beragam produk yang ditawarkan berbagai situs belanja online mancanegara. Bahkan, untuk produk yang distribusinya hanya terbatas di negara asalnya.  

Hanya, sebagian orang mungkin belum terbiasa berbelanja di situs belanja online luar negeri, sebut saja di Ebay, Amazon, Aliexpress, DhGate, dan lainnya. Tak heran, mereka akhirnya justru merasa malah ribet, baik dalam berkomunikasi, pembayaran, pengiriman, hingga ketika harus  mengurus pabean saat barang telah sampai tujuan.

Apalagi, pembelian barang di situs-situs online luar negeri hanya menerima pembayaran dengan sistem Paypal atau kartu kredit. Boleh jadi, jika Anda menemui penjual yang nakal, data kartu kredit akan tersebar hingga muncul risiko para peretas (hacker) menyalahgunakan kartu kredit Anda. Selain itu, ada beberapa perusahaan yang memang tidak menerima pembelian dan pengiriman barang ke Indonesia.

Beragam kerumitan dan risiko inilah yang kemudian mendatangkan peluang bagi jasa pembelian online khusus untuk gerai-gerai di luar negeri. Dengan jasa ini, konsumen pun bisa memburu barang-barang di luar negeri dengan mudah, aman dan nyaman.

Salah satu pemain bisnis ini adalah Hendro Supriyadi. Pemilik Jasabeli.com ini menuturkan, banyak orang memakai jasanya karena menginginkan jaminan keamanan berbelanja di situs-situs online luar negeri. “Kalau terjadi sesuatu, seperti uang tidak terkirim atau paket hilang dan rusak, mereka tinggal datang komplain kepada  kami,” kata Hendro.

Pangsa pasar usaha ini sebagian besar adalah konsumen individu (individual shopper) yang rajin mengintip barang-barang produksi luar negeri yang memang tak dijual di Indonesia. Selain itu, beberapa perusahaan atau korporasi juga sering memanfaatkan jasa ini, jika mereka enggan repot dengan urusan pajak dan pabean. 

Barang-barang yang sering dibeli antara lain, buku-buku pelajaran dan novel,compact disc (CD) atau kaset, kaus kesebelasan sepak bola, gadget, komponen bahan penelitian akademis hingga boneka atau topi bagi para kolektor.

Walau tampak tak nyata, bisnis ini cukup menggiurkan.  Hendro bilang, dengan melayani 150 hingga 200 pemesanan barang setiap bulan, ia bisa mengantongi omzet hingga Rp  300 juta. Bahkan, saat pesanan sedang ramai, omzet yang terkumpul mencapai Rp 400 juta. 

Namun, hitungan omzet tersebut sudah termasuk dengan harga beli barang yang dipesan konsumennya. Hendro sendiri mengutip biaya jasa pembelian ini berkisar 10%–20% dari total pembayaran konsumen.

Lain lagi dengan Andreas Kurniawan, pemilik JasaPerantara.com. Ia mengutip tarif jasa pembelian sangat kecil untuk mendongkrak pesanan sebagai pemain baru. “Saya membebani konsumen dengan biaya jasa rata-rata 3% hingga 5% dari total pembayaran mereka,” kata Andreas. Dalam setahun, JasaPerantara.com bisa membukukan omzet hingga Rp 2 miliar.

Sementara, pemain lainnya, Gwenkeysha.com bisa mencetak omzet sekitar Rp 100 juta per bulan dengan 30 hingga 40 pesanan per bulan. “Rata-rata laba bersih saya 10% hingga 15% dari omzet tersebut,” tutur Lintang Hamidjoyo, pemilik Gwenkeysha.com.


Gali banyak informasi

Potensi pasar yang terus berkembang, seiring jumlah pemakai internet yang makin banyak, ikut mendongkrak peluang pemain baru di bisnis ini. Apalagi, untuk memulai usaha ini, Anda tak butuh modal lumayan besar. Peluang usaha ini juga masih terbuka di kota-kota daerah, yang mempunyai tingkat daya beli tinggi.

Andreas pun bilang, saat mengawali usaha ini, ia hanya bermodal seperangkat komputer dan koneksi internet. “Peralatan itu pun sebenarnya sudah saya miliki sebelum memulai bisnis ini,” ujar dia. Selanjutnya, ia mengurus pula kepemilikan Paypal dan mempelajari seluk-beluk berbelanja online di luar negeri, termasuk mempelajari soal pajak yang berlaku di tiap negara.

Hendro dan Lintang pun menyampaikan hal senada. Mereka memulai usaha ini dengan seperangkat komputer dan koneksi internet. Sistem pembayaran pesanan konsumen di awal perjanjian juga tak membebani para pengusaha ini untuk mengumpulkan modal besar. 

Maklum, saat konsumen sudah mengirimkan sejumlah uang sebagai pembayaran, penyedia jasa ini baru memesan barang. Selain meringankan permodalan, sistem seperti ini juga memungkin para pemain untuk menerima keuntungan di awal transaksi.

Setelah menyiapkan perlengkapan usaha ini, Anda juga harus mengetahui situs dari negara mana saja yang sering dikunjungi dan menjadi buruan konsumen. Ada tiga negara yang kerap menjadi tujuan pemesanan barang, yakni Amerika Serikat (AS), Inggris, dan China. “Hampir 50% barang dipesan dari ketiga negara itu,” kata Hendro. Sisanya, adalah Jepang, Australia, dan beberapa negara di Asia lainnya, seperti Korea dan India.

Oleh karena itu, Anda harus mempelajari tata cara pembelian serta pembayaran, termasuk jasa ongkos kirim yang berlaku di negara-negara tersebut. Informasi tentang sistem pembayaran belanja biasanya dimuat di masing-masing situs tempat Anda berbelanja. 

Anda pun harus mencoba terlebih dulu, untuk mendapatkan pengalaman berbelanja. “Dulu, saya beberapa kali berbelanja di situs-situs mereka untuk mengantisipasi situs belanja yang fiktif,” kata Hendro.

Sementara informasi mengenai tarif pajak, bea dan cukai,  serta pembayarannya, bisa digali dari situs resmi pemerintah. Ada baiknya pula, jika Anda sudah memiliki hubungan baik dengan petugas kepabeanan ini. “Relasi yang baik ini akan bermanfaat bila ada barang yang tertahan oleh petugas cukai, supaya bisa dengan cepat diurus.” kata Lintang.

Soal ongkos kirim, Anda bisa menggali informasi dari berbagai perusahaan jasa pengiriman yang tersebar cukup banyak di setiap negara. Pilihlah perusahaan logistik atau jasa pengiriman yang cukup dikenal baik di dalam dan luar negeri, untuk meyakinkan konsumen.

Oh, iya, jangan lupa untuk membuat relasi mail forwarder  di negara-negara yang menjadi basis pembelian Anda. Jasa mereka dibutuhkan jika Anda menghadapi penjual yang tidak mau mengirim barang secara langsung ke Indonesia.

Biasanya, mail forwarder  merupakan pelanggan jasa ekspedisi swasta, seperti UPS dan DHL. Mereka inilah yang menerima barang pesanan Anda, dan meneruskan pengiriman melalui jasa pengiriman swasta ke Indonesia. 

Terkait dengan ongkos jasa ini, biasanya, para penyedia jasa pembeli online ini membedakan komponen biaya berdasarkan nilai barang. Yakni, barang yang harganya kurang dari US$ 50 dan lebih dari US$ 50. 

Misalnya, pembelian kurang dari US$ 50, maka komponen biayanya terdiri dari harga barang, ongkos kirim, dan biaya jasa. Adapun untuk barang dengan harga lebih dari US$ 50, komponen pembayarannya antara lain, harga barang, ongkos kirim, pajak bea masuk, jasa mail forwarder, dan jasa pembelian. Pembayaran pajak bea masuk ini tergantung dari jenis barang yang dikirim dan bisa dibayar saat pemesanan atau dibayar langsung oleh pemesan ketika barang sudah diterima. 

Sistem pembayarannya dengan mentransfer sejumlah uang ke penyedia jasa pembelian online ini. Lintang bilang,  biasanya konsumen ingin terima beres dengan membayar semua ongkos di depan.

Setelah Anda benar-benar memahami sistem pengiriman dan metode pembayaran, langkah selanjutnya adalah mempersiapkan website. Sebaiknya, Anda membuat tampilan website ini menarik dan informatif. 

Jangan lupa, untuk mempromosikan jasa yang Anda tawarkan ini. Memasang iklan lewat media online bisa menjadi strategi jitu untuk menangkap calon pelanggan. Media online sangat diandalkan oleh para pelaku bisnis e-commerce, karena pangsa pasarnya adalah orang-orang yang tidak asing dengan media online. Dus, keberadaan situs untuk jasa ini wajib ada. Iklannya sudah pasti bisa dipasang melalui Facebook, Twitter, dan Google Ads.

Jejaring sosial pun bisa menjadi sarana berpromosi bila Anda belum sanggup membuat situs yang menarik. Beberapa pemain yang diwawancara KONTAN ini juga mengaku sempat berpromosi melalui jejaring sosial blog dan Kaskus. “Saya memulai bisnis ini dari blog terlebih dulu. Baru setelah itu, perlahan-lahan membuat situs lengkap,” tutur Andreas.

Situs yang lengkap mungkin harganya relatif mahal. Namun, itu penting agar kredibilitas jasa Anda terbaca di mata konsumen. Untuk bisnis ini, sebaiknya membuat layanan di website layaknya sebuah kantor. 

Alhasil, dengan hanya membuka website, konsumen bisa dengan mudah mendapat informasi soal perincian pembayaran hingga memastikan status pesanan mereka. Tersedianya fasilitas status pesanan tentu akan menambah rasa aman dan nyaman bagi konsumen.   

Lantaran tak butuh banyak modal, rentang waktu untuk balik modal pun cukup cepat. Hanya butuh waktu tiga bulan hingga empat bulan untuk para pemain ini mengembalikan modal. Salah satunya Hendro. Ia bisa mengembalikan modalnya pada bulan ketiga. Saat itu, Hendro sudah bisa mempekerjakan satu orang karyawan sebagai asisten dirinya.  

Bisnis cuci pakaian selalu basah


Bisnis jasa cuci pakaian alias laundry tak pernah kering. Usaha ini terus menjamur terutama di kota-kota besar. Malah, tak sedikit yang mengembangkan usaha dengan menawarkan kemitraan atawa waralaba.
Tapi, di tengah ketatnya persaingan bisnis binatu, tidak semua pemain bisa berkembang. Setidaknya itu dialami sejumlah pemilik kemitraan atau waralaba usaha binatu yang diulas KONTAN dalam review kali ini.
Bisnis cuci pakaian selalu basahKONTAN mengupas perkembangan usaha beberapa kemitraan laundry, seperti Sunpretty Laundry, Limas Shop, dan Laverie LaundryMat. Dan, KONTAN pernah mengulas tawaran usaha mereka pada tahun lalu.
Nah, dari tiga pemain bisnis  binatu itu, ada semakin berkembang, tapi ada pula yang stagnan dan bahkan menutup tawaran kemitraannya. Seperti apa persisnya perkembangan usaha mereka sekarang? Berikut ulasannya:

Sunpretty Laundry
KONTAN pernah mengulas tawaran kemitraan Sunpretty Laundry pada Maret 2012. Saat itu, usaha binatu asal Solo, Jawa Tengah ini telah memiliki delapan cabang. Sebanyak tujuh cabang di antaranya ialah milik mitra.
Setelah hampir setahun berselang, Sunpretty mengalami pertumbuhan jumlah cabang milik mitra menjadi 19 gerai. Outlet milik mitra ini tersebar di Bekasi, Semarang, Yogyakarta, Solo, Karanganyar, Surabaya, Denpasar, dan Makassar.
"Bisnis kami terus berkembang, apalagi sekarang musim hujan, banyak yang membutuhkan jasa laundry," kata Sasi Kirana, pemilik Sunpretty Laundry.
Menurut Sasi, banyak yang tertarik menjadi mitra karena tarif jasa binatu di Sunpretty tergolong murah. Selain itu, mitra juga sudah tidak meragukan kinerja usaha Sunpretty, baik dalam pengelolaan bisnis maupun omzet.
Cuma, Sasi kini mengerek biaya kemitraan Sunpretty Laundry. Awal 2012 lalu, dia menawarkan empat paket kemitraan dengan biaya investasi mulai Rp 11 juta hingga Rp 40 juta.
Sekarang, paketnya terdiri dari Paket Cute dengan nilai investasi sebesar Rp 18 juta dari sebelumnya Rp 11 juta, Paket Charm Rp 23 juta dari awalnya Rp 14 juta, Paket Smart Rp 33 juta dari tadinya Rp 20 juta, dan Paket Briliant Rp 63 juta dari sebelumnya Rp 40 juta.
"Kenaikan ini saya lakukan secara bertahap, dan nilai investasi sekarang sudah tahap ketiga," ujarnya. Kenaikan biaya investasi ini dibarengi dengan semakin besarnya kapasitas mesin cuci dan pengering yang digunakan.
Selain itu, di paket kemitraan dengan biaya investasi baru, mitra juga sudah mendapatkan setrika boiler yang Sasi klaim bisa menyetrika lebih cepat dan efisien.
Sasi juga mengklaim, target omzet yang dia janjikan kepada para mitra usahanya sudah tercapai. Penghasilan tersebut berkisar mulai Rp 40 juta- Rp 60 juta per bulan.
Dengan omzet sebesar itu, mitra rata-rata bisa balik modal dalam waktu kurang lebih satu tahun pasca beroperasi. Dalam kerjasama ini, Sasi tidak memungut royalty fee, sehingga memudahkan mitra bisa cepat balik modal.

Limas Shop
Limas Shop merupakan usaha binatu yang berdiri sejak April 2010 di Jakarta Timur. Ketika KONTAN menulis tawaran kemitraan Limas Shop pada Mei 2012, usaha  binatu ini memiliki 27 mitra. Saat ini, setelah hampir setahun, mitra Limas Shop bertambah jadi 44 mitra.
Mia Arsofthin, pemilik Limas Shop, mengatakan, sistem kemitraannya menjadi faktor utama dari kemajuan usahanya. Dalam sistem yang ia terapkan, mitra bebas dari pungutan biaya royalti, penggunaan merek usaha, dan pembelian bahan baku.
Kebebasan inilah yang menjadi nilai tambah Limas Shop dibandingkan kemitraan binatu lain yang sudah menjamur. "Yang saya lihat, mitra lebih senang kalau mereka dibebaskan, jadi bisa memilih merek usaha sendiri atau beli detergen sendiri," katanya.
Perkembangan usaha Limas Shop ini mendorong Mia untuk menambah paket investasi. Dulu, Limas Shop memiliki tiga paket investasi dengan biaya mulai Rp 27 juta hingga Rp 57 juta.
Namun sekarang, usaha binatu ini menambah dua paket baru, yakni paket usaha binatu kampus dan profesional binatu.
Paket usaha binatu kampus ditujukan bagi mahasiswa yang mau mulai berwirausaha.
Karena sasarannya mahasiswa, Mia mematok biaya investasi yang relatif murah, yaitu Rp 15 juta-Rp 20 juta. Sementara, paket profesional binatu menyasar pengelola hotel dan ditawarkan dengan investasi Rp 75 juta.
Limas Shop mempertahankan sistem kerjasama kemitraan tanpa biaya royalti. Selain itu, Limas membolehkan mitra menggunakan brand usaha sendiri, tak harus memakai Limas Shop. "Tujuannya untuk menarik lebih banyak mitra," ujar Mia.
Mitra tetap bisa membeli bahan baku dari pusat, dan harganya tidak ada kenaikan dari tahun lalu. Limas Shop masih membanderol harga detergen ukuran 1 kilogram (kg) sebesar Rp 15.000, softener pakaian ukuran lima  liter Rp 65.000, dan parfum ukuran lima liter Rp 125.000.
Demikian juga untuk tarif jasa laundry. Limas Shop tetap mematok tarif antara Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per kg. Tapi, Mia bilang, omzet mitra kini sudah meningkat. Jika sebelumnya maksimal hanya Rp 600.000 per hari, sekarang naik menjadi Rp 1,4 juta dalam satu hari.
Mia menargetkan, tahun ini, Limas Shop bisa menambah dua mitra setiap bulan. "Dalam jangka panjang, kalau bisa saya punya mitra di setiap kota di Indonesia, karena prospek usaha ini masih sangat luas," ucap dia.

Laverie LaundryMat
Awalnya, Laverie LaundryMat lahir dari keinginan Dedi Setiadi, sang pemilik, untuk menciptakan konsep bisnis yang berbeda. Dedi mulanya sukses mengembangkan Dressed Laundry di Tangerang. Dressed Laundry sendiri adalah binatu yang membidik kelas premium.
Nah, dengan membesut Laverie LaundryMat, Dedi menawarkan usaha laundry dengan konsep swalayan. Konsep ini banyak diterapkan di sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat.
Dalam konsep ini, tempat  binatu menyediakan mesin cuci dan konsumen bisa melakukan sendiri proses pencucian dengan fasilitas mesin cuci tersebut. Tarifnya tidak berdasarkan berat pakaian, namun berdasarkan frekuensi mencuci. Sekali cuci dipungut biaya Rp 20.000.
Tapi ternyata, perkembangan konsep ini masih kurang bagus. "Kurang ada peminatnya karena masyarakat Indonesia cenderung lebih ingin dilayani, sementara gaji pembantu juga masih relatif murah," ungkap Dedi.
Di salah satu gerainya, Dedi menuturkan, meski telah diberitahu cara-cara mencuci, pelanggan tetap meminta customer service untuk menunggui proses pencucian.
Lantaran stagnan, saat ini Dedi menutup gerai Laverie LaundryMat miliknya. Laverie LaundryMat sendiri resmi dibuka Agustus 2010. Selain menutup gerainya, Dedi juga menyetop tawaran kemitraan.
"Kami tidak membuka kemitraan dulu sampai situasi pasarnya pas baru buka lagi," ujarnya. Tawaran kemitraan Laverie LaundryMat resmi dihentikan sejak pertengahan tahun 2011.
Sebelumnya, Dedi menawarkan tiga paket kemitraan. Pertama, paket Laverie 1 senilai Rp 650 juta. Kedua, paket Laverie 2 sebesar  Rp 850 juta. Dan ketiga, paket Laverie 3 senilai Rp 1,2 miliar.
Mitra mendapatkan mesin cuci, mesin pengering, boiler, setrika gas, meja vacum, steamer, dan beberapa peralatan laundry lain.

Usaha Nata De Soya Tanpa Limbah


Hasil Produk Kemasan Nata De Soya
Memilih jenis usaha yang menjanjikan memang harus jeli dan hati-hati. Banyak jenis usaha perorangan atau usaha mandiri yang ditawarkan melalui beberapa pelatihan atau internet yang cukup menggoda. Tapi sayang kalau diamati secara mendalam, ternyata tidak lengkap. Para pengusaha pemula 60% harus mencari sendiri cara melengkapinya agar usaha bisa berjalan dan modal tidak hilang percuma. 


Kalau hanya sekedar bisa membuat suatu produk, tidak perlu sampai ikut pelatihan, seminar atau training yang biayanya cukup mahal. Cukup mencari di internet saja sudah bisa didapatkan berbagai macam teknologi tepat guna secara gratis. Hasil dari berbagai macam pelatihan intinya hanya mengajarkan untuk bisa membuat sesuatu produk barang atau produk jasa saja. Tapi bagaimana cara manajemen bahan bakunya, manajemen produksinya, manajemen pemasarannya, manajemen limbahnya, manajemen legalitasnya dll tidak bisa didapatkan dari pelatihan tsb. Peserta harus berusaha sendiri untuk kebutuhan lain-lainnya. 

Jadi kalau hanya bisa membuat suatu produk itu mudah, tapi bagaimana agar ketrampilan tsb bisa menjadi suatu usaha yang menjanjikan masa depan, itu yang sulit. Usaha mandiri yang bersumber dari lingkungan kita sendiri, sebenarnya cukup banyak dan tidak perlu biaya mahal. Contohnya membuat usaha produksi Nata De Soya adalah bukti nyata usaha yang bisa menjanjikan masa depan.
Nata De Soya Siap Dipasarkan
Disamping itu, usaha ini dapat mambantu kebersihan lingkungan yang sangat positif. Bahan bakunya dari limbah pabrik pembuatan tahu yang ada ditiap kecamatan, atau tiap Desa, selalu dibuang begitu saja, sehingga dapat mencemari lingkungan. Sedangkan proses produksi pembuatan Nata De soya dari limbah tahu ini sendiri adalah  tanpa limbah. Karena limbahnya setelah diolah kembali, bisa dijadikan produk turunan yang bisa mendatangkan uang atau dikembalikan ketanah, untuk menyuburkan lingkungan.

Semua bentuk manajemen usahanya, sangat sederhana dan mudah. Ditinjau dari beberapa sisi, usaha ini layak untuk dicoba. Karena bahan bakunya tersedia melimpah dan gratis. Manajemen prosesnya sangat mudah, tidak memerlukan teknologi tinggi. Tidak memerlukan modal besar dan tidak memerlukan lahan yang luas. Pemasarannya dijamin laku karena enak, menyegarkan dan menyehatkan. Bisa dikonsumsi oleh segala usia. Tidak lekas basi dan bisa bertahan berbulan-bulan. Sama persis dengan hasil produksi Nata De Mocaf atau Nata De Coco. Dan lagi tidak mencemari lingkungan karena tanpa limbah. Ingin belajar membuat Nata De Soya, Klik disini.

Bagi generasi muda kalau menggantungkan nasib masa depan hanya kepada orang lain atau hanya menjadi Karyawan saja, kondisi jaman sekarang sangat mengkhawatirkan. Karena status kerjanya kalau tidak dikontrak, ya ikut outsourcing. Status ini sangat tidak nyaman untuk dijalani. Disamping tidak jelasnya kelangsungan pekerjaan dimasa depan, juga kesejahteraan yang diterima hanya cukup untuk hidup orang bujangan. Tidak cukup untuk hidup berkeluarga dengan anak 1 saja. Apalagi dengan anak 3 yang sedang bersekolah. Rasanya akan sakit kepala terus setiap hari memikirkan pendapatan tambahan.

Solusi cerdas jaman sekarang adalah harus berani memulai wirausaha walaupun kecil-kecilan. Tidak perlu menunggu nanti saja kalau sudah berkeluarga atau nanti kalau sudah punya modal besar. Padahal usia kita jalan terus. Keburu tua dan beban hidup lebih banyak lagi. Carilah atau pilihlah berbagai macam jenis wirausaha yang ada di internet atau yang muncul dari ide sendiri sesuai dengan hoby anda sejak kecil.