Sabtu, 23 Februari 2013

Berdayakan warga lewat usaha pembuatan jilbab


Menjadi produsen jilbab sejak tahun 2000, Abdul Ropik sukses meraup omzet tebal dari ceruk usaha ini. Di bawah bendera usaha Piqna Production, ia meraup omzet hingga Rp 70 juta per bulan.
Sebagai pebisnis, pria asal Desa Panembong, Garut, Jawa Barat ini tidak hanya memikirkan keuntungan. Melalui usahanya itu, ia juga ingin meningkatkan taraf hidup masyarakat di kampungnya.
Berdayakan warga lewat usaha pembuatan jilbabApalagi, banyak warga di kampungnya yang selama ini hidup serba kekurangan, karena tidak memiliki pekerjaan tetap. 
Terdorong keinginan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat tersebut, Abdul mengajak warga untuk terlibat di dalam bisnis yang dikelolanya. "Mayoritas warga saya libatkan di dalam aktivitas produksi jilbab," kata Abdul.
Kini, tidak kurang dari 50 warga yang terlibat di dalam usaha pembuatan jilbab tersebut. Dengan bekerja kepada Abdul, mereka memiliki pekerjaan tetap yang bisa menjadi penopang hidup keluarga.
Awalnya, belum banyak warga yang dilibatkan dalam usaha pembuatan jilbab ini. "Ketika baru pertama membuka usahanya ini, saya hanya merekrut beberapa orang," kata Abdul.
Namun seiring perkembangan usaha yang kian pesat, ia pun membutuhkan tenaga yang lebih banyak. Maka, Abdul memilih memberdayakan masyarakat sekitar tempat tinggalnya.
Warga dilibatkan mulai pemotongan bahan, penjahitan hingga pengepakan. Bagi warga yang belum memiliki keterampilan menjahit, ia memberikan pelatihan sampai warga benar-benar menguasai keterampilan menjahit sesuai standar yang diinginkan Abdul.
Mayoritas warga mengerjakan tahap-tahap produksi jilbab di rumah masing-masing. Namun, seluruh keperluan produksi, seperti kain, benang, dan mesin jahit, sudah dipenuhi semua oleh Abdul. "Warga boleh membawa ke rumah masing-masing," katanya.
Sebagian kecil warga memang ada yang melakukan produksi di bengkel kerja milik Abdul. Namun, besaran upah yang mereka terima berbeda dengan warga yang produksi di rumah. Soalnya, mereka yang bekerja di bengkel milik Abdul juga mendapat fasilitas makan pagi dan makan siang.
Selain itu, ada juga fasilitas makanan ringan dan rokok selama bekerja. Makanya, upah yang mereka dapat lebih kecil dari mereka yang produksi di rumah sendiri. "Mereka yang kerja di rumah menanggung ongkos produksi sendiri, seperti makan dan listrik," ujarnya.
Menurut Abdul, rata-rata warga bisa menghasilkan sebanyak satu sampai tiga kodi jilbab per hari. Kalau bahan yang dikerjakan rumit, biasanya mereka hanya bisa mengerjakan satu sampai dua kodi.
Untuk warga yang produksi di rumah sendiri, hasil kerjanya dihargai Rp 30.000 per kodi. Sementara yang bekerja di bengkel milik Abdul, nilainya di bawah itu. Oleh Abdul, jilbab tersebut dijual Rp 300.000 per kodi.
Ke depan, ia ingin melibatkan lebih banyak warga. Hal itu sejalan dengan rencananya menggenjot produksi jilbab yang saat ini berjumlah 200 kodi per bulan.
Untuk mendukung rencananya itu, ia akan telah menjajaki beberapa daerah yang belum pernah dirambahnya.

Peluang besar menjadi pengembang kecil-kecilan

Peluang besar menjadi pengembang kecil-kecilanMenjadi pengusaha properti menjanjikan keuntungan besar dengan pengembalian modal yang relatif cepat. Kebutuhan yang tinggi akan properti melahirkan pengusaha-pengusaha properti kelas mini yang mencoba mengail untung. 

Berbisnis pengembang properti (developer) menjanjikan keuntungan yang menggiurkan, antara 25% hingga 35%. Modal yang harus dibenamkan memang besar, tapi bila strategi Anda tepat, modal Rp 6 miliar bisa kembali dalam waktu 2 tahun saja.

Karena itu, jangan keheranan kalau Anda mendengar kisah Cokro Anton Wibowo, pengembang asal Palembang yang hanya dalam tempo tiga tahun, bisa membangun perumahan di enam lokasi dan proyek pertokoan di empat lokasi. Meski tanpa mengantongi pengalaman sebagai developer, Cokro yang mulai mengibarkan bendera bisnis lewat CV Bintang Bangun Persada pada tahun 2009 lalu ini bisa menghasilkan omzet Rp 27 miliar dengan laba Rp 8,1 miliar, akhir tahun lalu.

Keyakinan bahwa bisnis pengembang perumahan bisa mendatangkan untung maksimal juga menjadi bekal PT Bahana (Bahana) Paramarta dalam mempromosikan waralaba developer yang mereka usung. “Potensi bisnis properti masih terbuka lebar karena kebutuhan rumah masih sangat tinggi,” kata Bambang Subagio, Direktur Utama Bahana.

Kini Bahana baru menggandeng empat mitra. Keempat mitra itu antara lain membuka lokasi perumahan di Depok, Tangerang, dan Bekasi. Tahun ini Bahana memasang target menambah dua mitra. Bambang bilang, potensi berbisnis properti di luas lahan 1 hektare (ha) hingga 3 ha cukup besar. “Lahan ini tidak akan diambil oleh developer besar, jadi pengembang kecil bisa masuk ke area ini,” katanya.

Bambang bilang, meski terbilang sebagai developer kecil, namun pengerjaan proyek maupun manajemen bisnis dilakukan bak developer besar. “Dengan pengembangan usaha secara waralaba merek Bahana semakin besar,” katanya.

Anda penasaran ingin mengikuti jejak bisnis Ciputra? Ya, siapa tahu jatah rezeki Anda di bisnis ini tak kalah dari begawan properti itu. Yuk, kita kenal lebih dalam seluk beluk bisnis pengembang ini. 


Faktor pengalaman

Mungkin Anda berpikir bahwa menjadi seorang developer harus memiliki pengalaman yang memadai. Boleh jadi anggapan itu benar, tapi ternyata bisnis ini tak tertutup bagi masyarakat yang benar-benar masih awam soal ini.

Paling tidak itulah anggapan Cokro, berkaca pada pengalaman dia sendiri selama ini. Menjadi seorang developer tidak harus memiliki latar belakang pendidikan di bidang arsitek atau teknik sipil. “Orang awam pun bisa, asalkan mau belajar dengan sungguh-sungguh,” kata dia. Namun, bila Anda seorang awam, Cokro menyarankan Anda berkenalan dengan seorang developer agar bisa menggali ilmu dan informasi mengenai usaha properti ini.

Semua kompetensi yang dibutuhkan dalam bisnis ini bisa diperoleh dengan perekrutan tenaga kerja. “Yang pokok adalah tenaga-tenaga di bidang teknik sipil, arsitek, legalitas, dan pemasaran,” ujarnya. Sebagai langkah awal, cukup merekrut lima karyawan. Namun, dia mengingatkan, orang awam setidaknya membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk mempersiapkan usaha ini. 

Salah satu kendala utama bisnis ini adalah pengadaan lahan. “Lahan awal yang cukup sulit untuk dicari,” katanya. Namun, begitu Anda berhasil membangun proyek pertama, cerita akan berbalik arah: justru banyak orang yang datang menawarkan lahan mereka. 

Ketika urusan legalitas, modal, dan rencana bisnis sudah matang langkah selanjutnya mencari bank sebagai rekanan. Langkah ini bertujuan memudahkan calon pembeli yang ingin melakukan pembelian rumah secara kredit.

Nah, segala macam kerepotan persiapan itu bisa dipintas kalau Anda bergabung di bawah payung perusahaan developer yang membuka kemitraan atau waralaba. Saat ini cukup banyak pengembang yang mencari mitra, salah satunya Bahana Paramarta.

Jika Anda bergabung dengan jaringan kemitraan sebuah developer, persiapan Anda tak sekeras membangun perusahaan sendirian. “Dari sisi tenaga kerja, strategi promosi, pemasaran, hingga pembangunan proyek kami yang menangani,” kata Bambang. Seluruh tenaga kerja juga akan dilatih dan diseleksi oleh Bahana. 

Menurut Bambang, menjalankan usaha properti tidak mudah. Sebab, usaha ini memerlukan banyak disiplin ilmu. Antara lain mengenai legalitas, ilmu tentang properti, keahlian mencari lahan yang sesuai dengan market, keahlian di bidang penjualan maupun penjualan kembali. “Saya kira kalau orang awam memulai usaha ini sendiri akan terlalu sulit. Sebab untuk merekrut tenaga kerja yang tepat tidaklah mudah,” katanya.

Sebaliknya bila bergabung dengan waralaba, mitra tidak akan dipusingkan dengan hal-hal seperti itu. “Orang awam yang ingin menjadi developer di Bahana hanya membutuhkan waktu sekitar 6 bulan untuk persiapan hingga launching bisnis,” jelas Bambang, penuh nada promosi. 


Promosi gencar

Persaingan bisnis di kalangan developer kecil memang cukup ketat. Kunci kesuksesan bisnis ini tidak berhenti ketika lahan sudah ketemu atau, bahkan, saat proyek sudah berjalan. Tak kurang kisah tentang kompleks perumahan kecil yang tak kunjung laku, meski seluruh rumah sudah berdiri. “Untuk merebut hati konsumen memang butuh kerja ekstra,” kata Cokro.

Tak heran bila biaya untuk promosi awal sangat besar. Cokro mengingatkan, sebagai developer mandiri yang memulai usaha dengan bendera yang masih baru, dia membutuhkan kerja keras dalam berpromosi. “Rajin pasang iklan di media massa yang segmennya sesuai dengan tipe rumah yang kita tawarkan menjadi prestise sendiri bagi bendera usaha,” katanya. Ajang pameran di pusat perbelanjaan atau keramaian juga harus dilakukan untuk mengenalkan merek usaha dan properti yang ditawarkan. 

Nah, lagi-lagi, Bambang berusaha menunjukkan kemudahan menjadi mitra waralaba developer dalam soal promosi. “Merek sudah kuat sehingga calon konsumen percaya dengan properti yang kita tawarkan,” ujarnya. Meski begitu Mitra juga akan dibantu mempromosikan brand secara nasional sehingga merek semakin kuat. Promosi-promosi itu harus dilakukan secara berkesinambungan, jadi tak heran bila biaya promosi ini sangat besar. 

Baiklah, agar pemahaman yang lebih jelas Anda peroleh, mari kita kaji lebih dalam. 


Mitra Bahana Paramarta

Para calon mitra Bahana harus menyediakan lahan sendiri. Luas lahan, minimal 2 hektare (ha). Mitra boleh berburu lahan sendiri, boleh juga berkonsultasi dengan Bahana. Untuk membeli lahan dan mengembangkan bangunan di atasnya, Bambang berujar bahwa dibutuhkan modal sedikitnya Rp 6 miliar. 

Setelah lahan pasti ada, baru mitra menyetor modal kemitraan. Bahana menawarkan tiga paket investasi pada calon mitra. Pertama, dengan setoran investasi Rp 750 juta dengan franchise fee Rp 250 juta. Kedua, paket Rp 1,5 miliar dengan franchise fee Rp 350 juta. Ketiga, paket Rp 2 miliar dengan franchise fee Rp 500 juta. “Pay-back period mulai 2 tahun hingga 3 tahun,” kata Bambang.

Sebagai contoh, jika mitra membeli paket kedua, modal kemitraan dipakai untuk membuka kantor dan gerai, membeli mobil operasional, biaya pemasaran dan promosi awal, perizinan dan legalitas, pembuatan jalan dan saluran, rumah contoh, pagar tembok kluster, pintu gerbang, taman, papan nama dan billboard perumahan, serta operasional kantor selama lima bulan. “Modal masuk ke rekening mitra, digunakan bertahap,” jelas Bambang. Uang yang masuk ke Bahana Rp 350 juta untuk keperluan franchise fee selama lima tahun.

Di lahan seluas 2 ha, Anda bisa membangun kurang lebih 150 unit rumah. “Dengan harga Rp 210 juta per unit, dalam dua tahun penjualan rumah mencapai Rp 31,5 miliar,” kata Bambang. 

Bahana memungut royalty fee 5% dari omzet. Selain itu ada marketing fee 2%. Bambang bilang total pengeluaran selama 2 tahun mencapai sekitar Rp 17 miliar. “Dengan asumsi itu, payback period kurang dari 2 tahun,” ujar Bambang.



Developer mandiri

Cokro bilang untuk memulai usaha ini Anda harus mempersiapkan antara lain lahan, perencanaan bisnis, dan tenaga kerja. Sementara modal awal yang dibutuhkan mulai Rp 500 juta–Rp 1 miliar. Modal digunakan untuk membangun kantor, rumah contoh, jalan dan taman, promosi, serta mengurus legalitas pertanahan. Sebagai pemula lahan yang dipersiapkan paling tidak 1 ha. Untuk membeli tanah seluas itu dana yang dibutuhkan Rp 2 miliar–Rp 3 miliar. “Tergantung dari lokasinya, cari yang masih sekitar Rp 300.000 per m² tetapi lokasinya bagus dan strategis,” ujarnya. 

Di atas lahan seluas 1 ha bisa dibangun sekitar 60–70 unit rumah tipe 40 m². Cokro memberi gambaran, di Palembang dengan ukuran tersebut rata-rata harga yang dikenakan mulai Rp 180 juta hingga Rp 250 juta per unit. “Rata-rata dengan kisaran harga tersebut masih sangat terjangkau oleh konsumen. Jadi tidak terlalu repot menjualnya,” jelasnya. Cokro bilang, dengan asumsi penjualan 60 unit dengan harga Rp 200 juta maka omzet yang diperoleh bisa mencapai Rp 12 miliar. 

Asalkan lokasi strategis dan harga terjangkau, dalam waktu setahun semua unit rumah bisa laku terjual. Strategis yang dia maksud adalah jarak rumah dengan jalan raya utama tidak terlalu jauh, akses jalan tidak rusak, dan dekat dengan fasilitas umum seperti pasar, sekolah, dan pusat kesehatan.

Dengan menjadi developer secara mandiri, Anda terbebas dari franchise fee, marketing fee, dan royalty fee. Dengan omzet Rp 12 miliar, pengeluaran selama setahun Rp 6,96 miliar. Biaya itu untuk belanja bahan bangunan dan tukang, pembanguna fasilitas umum dan sosial, pengurusan izin, membayar gaji karyawan, promosi, dan operasional lain.

Anda tertarik yang mana? 

Mendulang fulus dari rental mainan anak

Mendulang fulus dari rental mainan anakJenis mainan yang kian beragam dan tingginya kesadaran orang tua memberi mainan edukatif membuka celah usaha penyewaan mainan anak-anak di kota-kota besar. Koleksi yang banyak dan pelayanan memuaskan menjadi kunci sukses bisnis ini. 

Setiap orang tua pasti menginginkan semua hal terbaik untuk buah hatinya. Tak terkecuali dalam menyediakan mainan. Makin tingginya kesadaran orang tua untuk menerapkan pola bermain sambil belajar mendorong mereka untuk memberikan jenis mainan edukatif, yang bisa mendukung tumbuh kembang si anak. 

Sayang, harga mainan seperti itu sering tak ramah di kantong. “Harga mainan anak yang edukatif, aman, dan nyaman bagi balita relatif mahal,” kata Amelia Purnajati, pemilik situs www.duniabermain.com. Mainan dengan ukuran kecil, yang biasa dimainkan anak-anak balita, harganya berkisar Rp 150.000 hingga Rp 500.000. Sementara itu, mainan dengan dimensi cukup besar dan dapat digunakan oleh anak hingga usia enam tahun, harganya berkisar Rp 2,5 juta hingga Rp 4,5 juta. 

Di luar harga yang mahal, sifat anak yang mudah bosan, acap menjadi bahan pertimbangan orang tua dalam membeli sebuah mainan. Rentang kebosanan anak terhadap mainan memang beragam, tapi biasanya antara satu hingga tiga bulan, anak sudah mulai bosan dengan mainannya. 

Alhasil, mainan yang mahal harganya itu terasa mubazir jika umur pemakaiannya sebentar dan harus disimpan begitu saja. Belum lagi, jika memikirkan tempat penyimpanan, ketika mainan itu tak lagi digunakan. Bingung bukan?

Dari sinilah, Amelia dan Jessica Natasha Halim, pemilik Funbox Toy Rental (FTR), melihat adanya celah pasar bagi usaha penyewaan mainan anak-anak.   Apalagi, Jessica bilang, pasar bisnis penyewaan mainan anak dan balita ternyata cukup luas. 

Pelanggannya datang dari berbagai kalangan, mulai dari para orang tua, perusahaan, hingga event organizer. Ya, bukan cuma orang tua yang ogah merogoh kocek lebih dalam untuk membeli mainan anak, para orang tua yang ingin menyelenggarakan pesta ulang tahun anaknya juga sering menyewa berbagai mainan dari jasa penyewaan ini. 

Selain para orang tua, tempat penitipan anak juga sering menyewa mainan dari tempat penyewaan ini. Bahkan, konsumen korporasi yang memiliki target pasar anak-anak juga menjadi pelanggan setia.   

Tak heran, meski baru setahun berdiri, nama Funbox Toy Rental ini sudah sangat dikenal. Dalam sebulan, Jessica bisa menyewakan hingga 150 unit mainan. Ia menawarkan jasa penyewaan mainan ini hanya di seputar Jakarta. 

Mengambil cakupan pasar di wilayah Cibubur, Amelia bisa melayani 40 hingga 60 konsumen setiap bulan. Setiap kali peminjaman, biasanya, konsumen tak hanya meminjam satu mainan. 

Mainan yang disewakan, umumnya, merupakan mainan edukatif yang sebagian besar merupakan produksi perusahaan mainan asal luar negeri. Biasanya, mereka sudah membagi berbagai mainan anak itu dalam kategori usia anak. Orang tua pun tak perlu repot memilih mainan yang ingin disewa untuk anak-anak mereka. 

Tarif sewa mainan ini pun cukup beragam, mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 700.000 per bulan, tergantung dari jenis mainan yang disewakan. Selain sewa dalam hitungan bulan, konsumen juga dapat menyewa mainan dalam tempo dua minggu ataupun harian. 

Biasanya, penyewa memang tak langsung menyewa dalam masa waktu yang lama. “Awalnya, mereka akan menyewa selama dua minggu untuk mengetahui anaknya suka atau tidak dengan mainan tersebut,” jelas Amelia. Nah, jika si anak memang menyukainya, barulah orang tua akan menambah masa sewa hingga beberapa bulan. 

Adapun paket harian lebih menyasar pengusaha event organizer atau korporasi yang menyelenggarakan acara dengan melibatkan anak-anak. “Pesta ulang tahun, misalnya,” jelas Amelia. Tentu saja, dalam acara ini, mereka akan meminjam banyak mainan sekaligus.

Seperti bisnis rental lainnya, dalam usaha rental mainan anak ini, para pemainnya juga menerapkan sistem deposit. Nilai deposit ini besarnya Rp 100.000 untuk sekali peminjaman. Uang deposit akan dikembalikan jika  mainan sudah dikembalikan. Selain deposit, untuk menjamin keamanan mainan yang dipinjamkan, penyewa diminta menunjukkan identitas asli dan menyerahkan fotokopinya. 

Dalam sebulan Jessica bisa menangguk omzet berkisar Rp 30 juta hingga Rp 50 juta. Jumlah itu baru dari pembayaran sewa mainan ini, belum termasuk ongkos kirim. Ia bilang, rata-rata tarif mainan yang disewa berkisar Rp 150.000 hingga Rp 200.000.

Dari omzet tersebut, para pemain bisa mendapatkan profit berkisar 30% hingga 50%. Keuntungan usaha ini lumayan besar, karena biaya operasional usaha ini cukup murah. Selain gaji karyawan, pemilik usaha ini harus menganggarkan biaya untuk membeli cairan pembersih dan antiseptic. Namun, jika mainan dikembalikan dengan kondisi kotor, FTR pun akan mengutip biaya pembersihan mainan sebesar Rp 20.000.

Biasanya, mereka juga menyewa tempat untuk menyimpan mainan. Namun, bisa juga memakai rumah sendiri sebagai tempat penyimpanan. Jangan lupa, Anda juga harus menganggarkan biaya investasi untuk membeli mainan-mainan baru atau untuk memperbanyak koleksi mainan yang akan dipinjamkan.

Amelia pun menuturkan, salah satu kelebihan dari usaha ini adalah tak perlu memiliki showroom untuk memajang koleksi mainan. “Cukup dengan situs yang mencantumkan katalog jenis mainan dan fasilitas lainnya, Anda sudah bisa menjajakan mainan sewaan,” katanya.  Ini tentunya akan menghemat modal yang Anda keluarkan pada awal usaha. 


Koleksi beragam

Modal bisnis ini terbilang kecil. Saat memulai usahanya, Amelia merogoh kantong hingga Rp 50 juta. Adapun Jessica membutuhkan modal Rp 100 juta. Tapi, asyiknya, hanya dalam rentang waktu empat hingga lima bulan, modal telah kembali. 

Nah, apakah Anda tertarik untuk menggeluti usaha ini? Jessica pun memberi masukan, bisnis ini bisa dilakoni di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan dan Yogyakarta. Alasannya, kesadaran orang tua untuk memberi anak mainan sesuai dengan perkembangan usia mulai tinggi di kota-kota besar. 

Untuk memulai usaha ini, pertama yang harus dilakukan adalah belanja mainan. Pastikan, Anda mengetahui produsen yang sudah memiliki nama, baik untuk keamanan struktur mainan dan bahan bakunya. 

Demi menghemat biaya, Anda pun bisa menitipkan belanja pada kerabat yang berada di luar negeri. Selain itu, Anda juga bisa berburu melalui distributor resmi mainan anak tersebut di Indonesia.

Dalam bisnis ini, koleksi yang cukup beragam menjadi kunci sukses menggaet pelanggan. Amelia mengaku, saat ini, sudah memiliki 500 koleksi mainan. Khusus mainan favorit, sebaiknya sediakan lebih dari satu unit. Contoh mainan favorit anak umur 6—12 bulan adalah jumperoo dan exersaucer. Adapun  untuk anak umur 12-6 tahun adalah  slide swing, playhouse, mobil-mobilan, dan roller coaster.

Setelah stok barang beres, kini giliran untuk membuat situs sebagai etalase usaha Anda. Situs yang menarik dan pelayanan memuaskan menjadi komponen utama bisnis ini. 

Pelayanan yang memuaskan bisa dilihat dari keragaman mainan serta terjaminnya kebersihan, keamanan, dan kenyamanannya. Usahakan agar mainan rutin dibersihkan, yakni sebulan sekali, saat akan dipinjamkan dan saat dikembalikan. 

Jangan lupa pula, memeriksa kondisi dan keamanan mainan.  Rentang umur mainan beragam, biasanya 1—2 tahun. “Jika sudah dua tahun, kita harus siap untuk menggantinya  agar tak membahayakan,” jelas Amelia.

Selain itu kenyamanan juga perlu diperhatikan. Biasanya, ada  penjelasan di setiap mainan, terkait target usia anak yang memakainya, berat dan tinggi si anak. Pastikan Anda menerangkan hal-hal penting tersebut sebelum bertransaksi dengan konsumen. Kalau perlu, ajak konsumen ikut memeriksa setiap detail mainan yang ingin dipinjam demi keuntungan bersama juga. 

Hal tersebut juga mengurangi risiko terjadinya kecelakaan saat anak menggunakannya. “Di FTR, kami pasti menerangkan lebih dulu cara penggunaan, termasuk do’s & don’ts dari setiap item,” kata Jessica. Selain menjaga keamanan, lanjutnya, itu bisa menjadi antisipasi FTR jika ternyata ada kerusakan pada mainan saat masih di tangan pemakai. 

Setelah persiapan internal mantap, saatnya Anda menentukan media promosi. Karena pangsa pasarnya adalah orang tua, iklan di media online bisa menjadi pilihan. Jika ada bujet lebih, Anda bisa memasang iklan di majalah khusus orang tua dan keluarga. 

Ide promosi kreatif bisa dilihat dari FTR. Saat ini, mereka  menggelar indoor playground bekerja sama dengan Apartemen Pantai Mutiara, Jakarta. Penghuni apartemen dan  konsumen FTR bisa bermain gratis di arena tersebut. 

Selain itu, Jessica juga mempromosikan usahanya melalui kerja sama liputan di salah satu program televisi swasta pada segmen bisnis. Selain itu, Jessica juga masih membagi brosur dan bekerja sama dengan distributor, berupa link yang langsung terhubung dengan website FTR. Tapi, yang paling efektif adalah promosi yang dilakukan oleh konsumen sendiri, yakni promosi dari mulut ke mulut. “Jadi, customer sendiri menjadi media promosi dari FTR karena mereka merasa puas dengan layanan FTR dan mempromosikan ke teman dan saudaranya,” terang Jessica.    

Berdayakan pengangguran lewat usaha donat


Prihatin melihat maraknya pengangguran di lingkungan sekitar tempat tinggalnya, Nathanael Nico terdorong untuk memberdayakan mereka. Sejak 2008, aktivis gereja di Bandung, Jawa Barat ini membuat program pemberdayaan bagi para pengangguran dan remaja putus sekolah.
Untuk menggarap program itu, ia pun melibatkan Yayasan Benih Indonesia. Program pengentasan pengangguran ini dilakukan secara bertahap. Tahap awal fokus membentuk mental para pengangguran agar memiliki etos kerja.
Berdayakan pengangguran lewat usaha donat“Orang yang tidak bekerja itu tidak hanya bermasalah secara ekonomi, tapi juga soal karakter dan mental kerja,” ujar pria berusia 43 tahun ini. Pelatihan ini dipusatkan di tempat penampungan khusus milik Nico yang berada di Jalan Kaliandra, Bandung.
Setelah semangat etos kerja terbentuk, ia pun memberikan pelbagai keterampilan wirausaha. Misalnya, keterampilan membuat camilan jamur, dan donat. Awalnya, ada ratusan pengangguran yang ikut dalam program pelatihannya ini. Tapi, tidak semuanya bertahan.
Selain ada yang keluar, beberapa juga ada yang membuka usaha sendiri.  Saat ini, tinggal tersisa 15 orang yang masih ikut dengan Nico. Untuk mengaplikasikan teori yang didapat selama pelatihan, tahun lalu Nico mengajak mereka untuk terjun ke bisnis makanan.
Ia pun merambah bisnis camilan jamur dengan merek Serasa dan bisnis donat dengan brand Nico. Selain bisnis makanan, ia juga sempat mendirikan bisnis air minum isi ulang. Sayangnya, bisnis camilan jamur dan air minum isi ulangnya tidak berjalan maksimal. Beda dengan bisnis donatnya yang terus berkembang.
Bila awalnya hanya memproduksi donat untuk dijajakan dari rumah ke rumah, kini ia berhasil mendirikan kafe “Donat Nico”. Kafe ini baru beroperasi Oktober ini. “Target produksi kami maksimal bisa mencapai 1.000 donut per hari,” ucapnya.
Saat ini, ia baru bisa menjual sekitar 300 donat per hari dengan harga satuan Rp 5.500. Adapun omzet bulanannya mencapai sekitar Rp 49,5 juta. 

Memberdayakan tetangga dengan memproduksi dodol


Garut identik dengan dodol. Banyak produsen dodol di daerah ini. Salah satunya adalah Muhamad Mimin, warga Desa Bojang Salam, Garut, Jawa Barat. Pada tahun 2000, ia terjun ke usaha ini bermodal kredit dari pemerintah.
Dari usahanya, ia tak cuma mampu mengembalikan pinjaman tiga tahun berikutnya, tetapi juga memberi manfaat bagi warga desanya.
Selama mengembangkan usaha dodol, Mimin tak hanya mempekerjakan 10 orang, tetapi juga menggerakkan sekitar 50 warga desanya. Ia sadar, banyak warga desanya tidak memiliki pekerjaan jelas. "Ada kecenderungan perempuan di sini memilih tinggal di rumah setelah menikah," ujarnya.
Memberdayakan tetangga dengan memproduksi dodolMelihat banyak pengangguran, Mimin menawarkan kerjasama untuk memproduksi dodol. Awalnya, ia kesulitan lantaran sebagian besar pekerja barunya tidak tahu cara membuat dodol. "Sambil bekerja, saya memberikan pembinaan dan contoh kepada mereka," paparnya.
Setengah tahun berjalan, barulah para tetangganya mahir membuat dodol. Berhubung sebagian besar pekerjanya adalah ibu rumah tangga, Mimin menerapkan pola kerja yang fleksibel.
Sebab, mereka tak bisa bekerja sepanjang hari di pabrik pembuatan dodol Bhineka. "Sebagian memproduksi sendiri di rumah. Hasilnya, saya beli," jelasnya.
Tapi bagi yang tidak mampu belanja bahan baku, Mimin menyediakannya. Hasilnya ia tampung dengan membayar jasa pengerjaan. Tapi, ia tetap menekankan standar kualitas produksi agar tetap bersaing dengan produk serupa di pasar.
Caranya, ia terus memberikan pembinaan untuk menghasilkan dodol yang enak dan bersih. Saat ini, saban bulan, Mimin mampu memproduksi sebanyak 500 kilogram (kg) dodol.
Dari usahanya itu, ia bisa meraup omzet sekitar Rp 150 juta hingga Rp 200 juta per bulan. Hanya saja, pendapatan sebesar itu tidak selalu sama, tergantung permintaan pasar.
Nah, berkat keuletan dan kerja kerasnya, saat ini pasar dodol garut bikinan Mimin tidak hanya beredar di Garut dan Bandung. Produknya sudah merambah ke 13 daerah, antara lain Bekasi, Jakarta, Yogyakarta, Purwokerto, Cirebon, Kuningan, dan Pekalongan.
Mimin mengakui, bisnis dodol sekarang semakin berat lantaran belakangan muncul pemain-pemain baru dengan kapasitas produksi cukup besar dan mampu menjual dengan harga murah. Untuk itu, ia terus menjalin kerjasama saling menguntungkan dengan agen dan pelanggan di berbagai daerah.
Mimin bilang, yang terpenting adalah senantiasa memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi para perajin dodol garut agar menjaga kualitas dan cita rasa produk. Sebab, dengan cara itu, ia bisa bertahan dalam persaingan.  

Rajin ikut pameran, Monica eksis di bisnis fashion

Rajin ikut pameran, Monica eksis di bisnis fashionBerawal dari keinginan sang anak yang ingin punya usaha sendiri, Monica Subiakto sukses berbisnis fashion. Ia setia mengikuti pameran untuk mempromosikan merek Romantic Cotton. Kini, omzet ratusan juta rutin dia kantongi setiap bulan. 

Dalam sebuah pameran yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC) beberapa saat lalu, ada satu stan yang tampil beda. Dekorasinya cantik dan elegan. Gaya klasik yang berpadu dengan warna lembut mampu memikat banyak mata. Banyak pengunjung pun singgah untuk melihat koleksi baju dan pernik aksesori yang dipajang.

Itulah stan Romantic Cotton, brand pakaian yang kini lekat dengan kalangan perempuan kelas atas Ibukota. Setiap kali mengikuti suatu pameran, gerai Romantic Cotton selalu terlihat ramai. Pelanggan seolah tidak mau melewatkan koleksi-koleksi terbaru hasil karya Monica Subiakto.

Monic, panggilan akrab pemilik Romantic Cotton, memang mengandalkan pameran sebagai gerai penjualannya. Berkat keikutsertaannya di berbagai pameran inilah, nama Romantic Cotton banyak dikenal. Bahkan, saat merintis usahanya empat tahun silam, Monic juga memanfaatkan ajang pameran, entah di sekolah ataupun di lingkungan tempat tinggalnya.

Monic mengawali usaha garmen ini berangkat dari keinginan sang anak, Amanda, untuk memiliki usaha sendiri. Dengan modal Rp 3 juta, perempuan yang pernah bekerja di Danar Hadi dan Matahari Department Store hingga belasan tahun ini menjual kaus-kaus impor asal Bangkok, Thailand. Ia memperoleh kaus itu dari seorang temannya.

Melihat respons yang cukup bagus, kemudian, Monic memberanikan diri untuk membuat produk sendiri. Berdagang enam bulan, modalnya berlipat. Akhirnya, dengan Rp 12,5 juta, Monic memulai usaha garmen sejak Juli 2008.

Beruntung, ketika masih bekerja, ia kerap berhubungan dengan pengusaha konveksi, baik di daerah maupun di Jakarta. Monic pun menerapkan strategi maklun atau cut, make, & trim (CMT). Ia memberikan contoh beberapa pakaian jadi kepada para pengusaha konveksi mitranya. Selanjutnya, mereka tinggal meniru sekaligus membuat beberapa ukuran.

Monic memang tak mendesain sendiri pakaiannya. Desain pakaian yang menjadi contoh, adakalanya, merupakan hasil hasil perburuannya di luar negeri. Tapi, seringkali ide datang ketika ia tak puas melihat baju-baju hasil buruannya. “Lantas, saya ubah bahan, aplikasi, hingga modelnya,” kata Monic yang memperoleh inspirasi dari Laura Ashley, pendiri sekaligus merek fashion dan interior ternama asal Inggris.

Untuk membedakan produknya dengan garmen yang lain, Monic memilih hanya memakai warna tertentu, seperti dusty pink, mint green,  dan mustard yellow, “Warna-warna yang lembut ini belum banyak dipakai desainer di Indonesia,” tuturnya.


Raja katun

Sesuai dengan namanya, Monic pun sengaja hanya memilih bahan-bahan katun sejak awal. “Bahan ini sangat cocok untuk cuaca di Indonesia,” tuturnya. Ia rela keluar masuk pasar tradisional untuk berburu kain katun karena seringkali toko-toko lama menyimpan stok kain berkualitas.

Memiliki selera yang baik dan pandai membaca keinginan konsumen menjadi kunci sukses Monic mengembangkan usahanya. Tak heran, ia pun berhasil masuk ke pasar fashion kelas atas meski harus bersaing dengan beberapa brand yang lebih dulu eksis. 

Pada akhirnya, etalase Romantic Cotton tak hanya di pameran saja. Selain datang langsung ke kediamannya di kawasan Kemang Pratama, pelanggan juga sering meminta Monic mengirim baju-baju ke rumah mereka untuk dipilih. “Biasanya, mereka memborong beberapa baju sekaligus,” ujar sarjana ekonomi dari Universitas Negeri 11 Maret, Solo ini.

Setelah berhasil mengembangkan merek Romantic Cotton, Monic ingin membuat produk lain. Ia juga memanfaatkan kain perca, sisa produksi baju-bajunya, untuk disulap menjadi berbagai aksesori unik. Monic juga memproduksi produk-produk houseware dan boneka. “Pokoknya serba katun, saya ingin menjadi raja katun di Indonesia,” ujarnya.

Untuk memproduksi pakaian dan aksesori, Monic telah menggandeng 15 pengusaha konveksi. Mereka tersebar dari Jakarta, Solo, hingga Surabaya.

Ia masih setia berkeliling dari satu pameran ke pameran lainnya. Bahkan, perempuan ramah ini sering terlihat ikut melayani pembeli di stan Romantic Cotton bersama beberapa karyawannya. “Boleh dibilang JCC adalah rumah kedua saya,” tutur Monic.

Dalam sebulan, Monic menjadwalkan ikut dalam tiga pameran. Lantaran, nama Romantic Cotton sudah terkenal, ia tak perlu repot mencari stan di pameran karena biasanya penyelenggara pameran yang akan mengajaknya untuk ikut dalam pameran mereka. Tak heran, biasanya, Monic sudah mengantongi jadwal pameran setahun ke depan.

Tiap pameran, Monic  bisa mencetak omzet puluhan juta rupiah. Total, tiap bulan, Monic bisa mengantongi pendapatan hingga ratusan juta rupiah.        

Mery bergelut dengan telur asin


Telur asin mengantarkan Mery Yani sukses menjadi seorang pengusaha. Tak kuasa melihat usaha telur asin sang kakak hampir tutup, Mery segera mengambil alih. Lewat kerja keras, kini, ia berhasil menjual puluhan ribu telur asin setiap hari.
Melepas akuntan, Mery bergelut dengan telur asinPulang ke kampung halaman bukan berarti hilang kesempatan untuk meraih sukses. Mery Yani telah membuktikannya. Hanya butuh waktu empat tahun, perempuan 29 tahun ini berhasil melambungkan usaha telur asin hingga beromzet ratusan juta rupiah per bulan.
Kecintaan pada sang ibu yang terbaring sakit mendorong Mery Yani kembali ke Karawang pada 2005 silam. Padahal, di Jakarta, Mery tengah membangun karier sebagai akuntan di sebuah perusahaan impor.
Hingga akhirnya, ibunda berpulang pada 2007. Mery pun memutuskan untuk menetap di kota kelahirannya, sambil membantu sang ayah membuat pakan ternak dari dedak padi.
Belum surut kesedihannya, ia harus menghadapi kenyataan usaha telur asin milik sang kakak yang kian terpuruk. Mery memang sangat peduli akan usaha telur asin ini. “Telur asin merupakan penyokong hidup saya sejak masih sekolah dulu,” kenangnya. Ia pun tak bisa tinggal diam saat melihat usaha ini terancam tutup karena penjualan terus menyusut.
Beruntung, Mery pernah punya pengalaman menjajakan telur asin dari satu kios ke kios lain di pasar tradisional, semasa sekolah dulu. Berbekal pengalaman itu, ia pun memberanikan diri mengambil alih usaha sang kakak sejak November 2008. Sebagian uang klaim asuransi jiwa mendiang ibu pun menjadi modal awal usahanya.
Anak ketiga dari empat bersaudara ini mengawali langkahnya dengan memperkaya pengetahuan soal telur asin, baik dari buku maupun bertanya pada beberapa pengusaha yang lebih dulu terjun di bidang ini. Dari sana, Mery menyusun sebuah peta perencanaan usaha lengkap dengan standar kualitas telur, cara pemasaran, dan sistem manajerial karyawan.
Untuk memenuhi standar kualitas telur, Mery menjalin mitra dengan peternak telur bebek di sekitar Karawang. Ia memberi modal, baik berupa bibit bebek atau uang untuk membeli pakan. Tentu saja, para mitra itu nanti harus menyetor telur bebek ke usaha telur asin milik Mery.
Dalam proses pengasinan pun, lulusan Universitas Tarumanegara ini menggunakan bahan-bahan pilihan. Abu yang digunakan adalah abu hitam yang berasal dari sekam padi yang telah dibakar dan terjamin kebersihannya. Abu itu berasal dari lahan pertanian di sekitar Karawang.
Tak hanya membenahi pasok-an telur dan proses pengasinan, Mery juga mencermati pasar telur asin yang mengenal musim sepi. Nah, di saat pasar sedang sepi, lantaran pasokan telur asin berkurang, Mery segera memasok telur asin buatannya dalam jumlah besar.

Lolos sertifikasi
Sebagai pemain baru, tentu, situasi itu sangat menguntungkan. Bukan hanya soal fulus, cara tersebut juga berhasil mendongkrak merek telur asinnya, Sumber Telur Kilau. Alhasil, setelah merek telurnya banyak dikenal, penjualan Mery pun meningkat.
Dalam tempo setahun, Mery berhasil menggenjot penjualan hingga 1.500 butir per hari. Tak hanya itu, ia pun berhasil mengembalikan modal usahanya.
Sayang, saat penjualan meningkat, ia kembali berhadapan dengan masalah. Ia mendapati beberapa mitra yang ingkar menjual telur bebek untuk pabriknya. “Saya harus sabar mencari mitra lain,” ujar Mery.
Untuk menjaga agar pasokan telur bebek tetap stabil, Mery pun membangun peternakan sendiri. Di peternakan tersebut, Mery memiliki 1.500 ekor bebek yang diangon di sekitar Karawang dan Garut.
Ia juga terus meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produknya. Pada 2010, Mery mendaftarkan telur produksinya ke Departemen Kesehatan Republik Indonesia untuk memperoleh sertifikasi kualitas gizi. Setiap produksi, telur-telur hasil peternakan Mery dan mitranya harus melalui beberapa tahap pengujian. Tahapan tersebut meliputi pencucian telur, pengujian dari segi bentuk dan tingkat keretakan, penyemprotan cairan antibakteri, serta uji laboratorium.
Kegigihan Mery mengemas ulang usahanya itu berbuah manis. Hingga saat ini penjualan telur asin cap Sumber Telur sudah menjangkau beberapa wilayah di Indonesia, seperti Jabodetabek, Kalimantan, Bangka Belitung, dan Lampung. Dalam kegiatan pemasaran, Mery mendapat dukungan lebih dari 50 distributor sesuai standar distributor ala Mery. “Mereka harus tahu kemauan konsumen, yang asin banget atau enggak terlalu asin. Distributor harus kenal betul dulu produknya,” terangnya.
Berkat berbagai standar ini, telur asin Mery bisa terjual 10.000 hingga 15.000 ribu butir telur per hari. Dengan harga jual berkisar Rp 1.700–Rp 2.500 per butir, setiap bulannya Merry telah dapat meraup omzet lebih dari Rp 300 juta.
Selain menyelamatkan usaha yang hampir bangkrut, Mery juga berhasil membuka lapangan kerja. Karyawannya telah berlipat, dari hanya empat orang pada awalnya, kini telah mencapai 30 orang.