Sabtu, 06 Desember 2008

Intelektualisasi Sampah

Telah banyak orang mendulang sukses dari sampah, namun tidak banyak yang memandang sampah secara komprehensif seperti yang dilakukan Wisnu Wardhana (49).

“Sanggar” ini berada tepat di pinggir jalan raya, di bekas lahan tak bertuan yang dikenal angker, bernama Bulak Gremeng. Tidak seangker namanya—yang kurang lebih berarti “padang bersuara gumaman”, saat SH memasuki lokasi Sanggar ini, justru kesan keramahan dan kenyamanan yang segera terasa.
Semuanya tampak sederhana, serba-tertata rapi, seolah mencerminkan pribadi Wisnu, sang pemilik yang saat “menjemput” SH pun tampil apa adanya. Gaya bahasanya yang “ceplas-ceplos” namun “berisi” pun membuat suasana di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah ini berbeda. Walau semuanya terkesan bersahaja, berada di tempat ini, SH seolah sedang berada di “kampus mini”.
Pun tak ada impresi kumuh “tercium” di sanggar ini, walaupun hampir semua aktivitas di area seluas 6.000 m2 ini berurusan dengan sampah. Gerobak hilir mudik pada pagi dan sore hari mengangkut sampah menuju tempat ini dari Perumahan Minomartani. Berbagai jenis sampah rumah tangga pun ditumpahkan dari gerobak-gerobak itu, diikuti kegiatan penyortiran sepanjang pagi hingga siang hari. Bau sampah memang tercium dalam tahap ini, namun begitu berakhir, aroma itu segera pergi, karena lokasi penyortiran langsung dibersihkan. Yang tersisa adalah sejumlah gundukan sampah berukuran sekitar 2x2x2 meter, yang akan menjalani proses berikutnya, sampai benar-benar menjadi kompos yang siap dijual.
“Bakal kompos ini tidak mengeluarkan bau, karena yang terjadi pada proses komposting bukan pembusukan melainkan penguraian,” tutur I Dewa Putu Eska Sasnanda (Nanda), Manajer Divisi Pendidikan di sanggar ini.
“Bakal kompos ini harus sering diaduk untuk menjaga suhunya. Suhunya mesti cukup untuk mematikan bakteri yang tidak bermanfaat, rata-rata hingga 80 derajad Celcius,” tambah Nanda.

Tukang Sampah “Intelek”
Berbicara dengan Wisnu tidak seperti sedang berbicara dengan tukang sampah betulan. Padahal, lelaki yang punya hobi bermain game dan “berpikir” ini selama bertahun-tahun benar-benar menjalani profesi tukang sampah. Setiap hari, ia mendorong gerobak dan mengambil sampah dari rumah ke rumah di kompleks perumahan tempat tinggalnya.
Setelah lebih dari lima tahun menarik gerobak sampah, tepatnya tahun 1996, Wisnu pun mendirikan “sanggar” untuk para tukang sampah. Wisnu yang dalam perbincangan dengan SH terdengar fasih berbahasa Inggris ini pun menamakan sanggarnya “Karya Penarik Sampah” (KPS).
“Perkumpulan itu saya namakan ‘sanggar’ karena di dalamnya ada makna ‘perkumpulan’, ada aktivitas yang dilakukan, ada kehendak berbagi, di samping adanya unsur komunikasi dan produksi,” papar Wisnu berfilosofi.
Sejak didirikan di tahun 1996, sanggar yang berada di tepi Sungai Klanduan itu pun “hidup” oleh aktivitas penanganan sampah. Pada tahun 2003, lebih dari 40 pekerja terlibat dalam proses pengelolaan di KPS. Pada saat itu, dua bedeng produksi KPS bahkan mampu mengolah hingga 18 ton sampah per bulan. “Dua per tiga timbulan sampah se-Sleman per hari masuk ke TPA ini,” kenang Wisnu.

Penghargaan
Upayanya memberdayakan masyarakat setempat untuk mengelola sampah kala itu membuatnya menuai berbagai penghargaan, di antaranya penghargaan dari Ashoka Indonesia pada tahun 1999. Kala itu, Wisnu dianggap sebagai pembaharu sosial di bidang lingkungan dan pendidikan. Sejak tahun 1997, profilnya pun sering muncul di berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik.
Banyak pihak lantas berdatangan ke TPA-nya untuk menimba ilmu. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) misalnya, pernah melakukan studi banding selama tiga bulan di TPA-nya. Bahkan, Direktur IMF Hubert Neiss pada masa itu konon menyempatkan diri berkunjung ke KPS ini dan mengatakan bahwa usaha pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Wisnu patut diberi bantuan.

Dipalak
Seiring berkembangnya produktivitas KPS-nya, ternyata banyak tantangan yang harus dihadapi Wisnu. Penghargaan menjadi tidak berarti lagi saat pihaknya justru dipalak oleh oknum dari pemerintah daerah. “Saya heran, saya mengurus sampah kan membantu masyarakat dan pemerintah, kok masih diriwuki (diganggu-red),” ungkapnya.
Kekecewaan Wisnu bertambah saat para pegawainya direkrutnya dari kalangan pekerja seks komersial (PSK), pada waktu itu mulai tidak bangga lagi dengan profesi mereka sebagai pekerja di KPS, padahal taraf hidup mereka secara ekonomi dan sosial meningkat.
“Mereka mendapatkan penghasilan lumayan, taraf hidup mereka meningkat, tapi mereka sering tidak mau mengaku bekerja di KPS,” tutur Wisnu. Penghasilan berlebih konon justru mereka gunakan untuk berlaku urakan, seperti nongkrong dan minum-minuman keras.
Kenyataan ini membuat Wisnu sempat “ngambek”. Ia pun menarik diri dan menghentikan aktivitas di KPS-nya, dan memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk “menemukan makna” aktivitasnya.

Bangkit Lagi
Bulan September lalu, saat SH berkunjung ke TPA-nya, lokasi pengoplosan sampah ini baru saja dibuka lagi setelah selama hampir lima tahun berhenti beroperasi.
Sanggar Kegiatan yang belakangan dinamai “Citizen Based Initiative-Karya Penggayuh Sentosa (CBI-KPS) ini pun mulai berdenyut lagi. Wisnu, yang mengaku bangga menjadi “tukang sampah” ini berharap sanggarnya benar-benar menjadi ajang pembelajaran bagi masyarakat untuk mengelola sampah. Ia kini bahkan bercita-cita mendirikan “Institut Sampah” yang kelak mampu menghasilkan profesor-profesor di bidang persampahan.
Cita-cita ayah dari dua anak perempuan dan dua anak laki-laki ini tentu tak berlebihan, mengingat sejak dibuka lagi, sanggar yang didirikannya itu tak henti didatangi para suster biara, para pelajar, mahasiswa, bahkan dosen-dosen dari universitas terkemuka di Yogyakarta, untuk menimba ilmu soal persampahan.
“Seluruh biara susteran dan sejumlah perumahan di Sleman dan Yogyakarta telah menerapkan sistem pengelolaan sampah kami,” ungkap Nanda, “murid” Wisnu yang kini telah menjadi rekan kerjanya di CBI-KPS.
“Prinsip yang diterapkan CBI-KPS ini adalah zero waste, artinya sampah dikelola semaksimal mungkin sehingga menyisakan sesedikit mungkin residu (sampah yang tidak bisa digunakan lagi-red),” papar Wisnu lugas.
Menurut Wisnu, sampah nonorganik juga dapat diupayakan menjadi produk baru atau bahan daur ulang demi meningkatkan pendapatan masyarakat, misalnya dengan membuatnya menjadi barang kerajinan. Penanganan sampah menurutnya harus komprehensif, antara lain mencakup aspek sosial, politik, budaya, dan ekonomi masyarakat.
Wisnu juga memasyarakatkan motto “Sampah Selesai di Rumah”. Artinya, masalah sampah harus diatasi dari rumah-rumah, karena bila tidak dikelola dengan tepat, sampah akan mengganggu kesehatan dan kenyamanan lingkungan. “Walau berat tantangannya, mari kita mulai membiasakan memilah sampah sejak dari rumah,” imbaunya.
Sumber : sinar harapan


One response to “Intelektualisasi Sampah”

Helena Ng mengatakan...

>>>> POKER AYAM > POKER ONLINE TERPERCAYA <<<<

POKERAYAM ONILNE KINI HADIR DI SEMUA SMARTPHONE ANDA

>No BOT - No ADMIN
>PLAYER vs PLAYER

+Bonus UNTUK SEMUA MEMBER TIAP HARINYA 5%+10%+
+Bonus Turn Over 0,5%+
Hanya dengan nominal deposit 10ribu sudah bisa bermain Semua game [POKERAYAM]

Raih jackpot puluhan sampai ratusan juta setiap hari

Untuk Registrasi dan Perdaftaran :
>>>>BBM: D8C0B757
>>>>WA : +6281296089061

Info Lebih Lengkap
Kunjungi Lnk kami: POKERAYAM.ORG

Leave a Reply