Tampilkan postingan dengan label USAHA MAKANAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label USAHA MAKANAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Februari 2013

Cara Membuat Bakso Sapi




Bahan :
- Daging sapi segar
- Garam
- Bawang putih
- Merica bubuk
- Tepung kanji




Cara Membuat Bakso Sapi :

1. Membuat Adonan
Untuk Membuat adonan bakso, potong daging kecil-kecil, cincang halus dengan blender.

Haluskan danging, diberi es batu atau es dan sedikit garam sehingga menjadi adonan lenturdan mudah dibentuk.
Tambahkan tepung kanji agar adonan lebih erat terikat.

2. Membentuk Adonan
 Membentuk adonan dengan menggunakan 2 buah sendok dengan cara mengambil adonan denngan sendok, lalu bentuklah bulat dengan bantuan sendok yang satu lagi, selain sendok juga bisa menggunakan tangan.

Agar adonan tidak lengket oleskan sedikit minyak goreng pada telapak tangan anda. Sebaiknya langsung direbus / masukkan kedalam air mendidih hingga matang. Apabila bola-bola bakso mengapung dipermukaan air, maka itu tanda sudah matang. Jadi bakso direbus 10-15 menit saja, setelah diangkat, tiriskan, lalu dinginkan.

Cara menyimpan bakso
Bakso dapat bertahan hingga 1 bulan, tentu dengan cara menyimpan bakso yang benar dan memperhatikan beberapa hal berikut:
Bila disimpan di freezer, taruhlah kedalam kotak plastik atau kantong plastik yang ditutup rapat. Cara terbaik jika bakso tersebut ditaruh dalam wadah kedap udara, maka akan tahan sampai 1 bulan bahkan lebih.

Cara Membuat pisang Molen




Jajanan yang berbau gorengan itu memang enak apalagi yang bisa di padukan dengan yang manis, ya seperti pisang molen ini salah satunya. Jajanan ini sangat enak jika di padukan dengan yang manis.
Ide wirausaha kreatif akan memberikan cara bagaimana sih cara membuat pisang molen? oke, gk perlu panjang lebar nanti tambah laper sebaiknya langsung saja.
 Baik inilah bahan -bahan yang perlu dipersiapkan untuk membuat pisang molen :

- Bahan untuk pisang molen : 
 * 6 buah pisang raja atau pisang tanduk
 * Minyak goreng secukupnya

- Bahan untuk bagian kulit pisang molen :
*  Tepung terigu 350 gram
* Gula halus 50 gram
* Vanili 1/2 sendok teh
* Garam 1/4 sendok teh
* Margarin 125 gram
* Air 75 ml

Langkah-langkah membuat pisang molen :
  1. Pisang dibelah dua bagian kemudian potong melintang sesuai selera.
  2. Untuk bagian kulit molen : 
  • Campurlah semua bahan dan aduk rata
  • Tambahkan margarin, kemudian aduk-aduk dengan ujung jari hingga berbentuk butiran kecil
  • Tuangkan air sedikit-sedikit sambil diaduk dengan sendok kayu sampai menjadi adonan yang kalis
  • Gilas adonan menjadi tipis hingga setebal 2.5mm (menggunakan mesin khusus agar lebih muedah dan rapi)
  • Potong-potong adonan + selebar 3cm menjadi bentuk pita panjang (kalau pake mesin khusus langsung dililitkan pada tiap potong pisau hingga menutupi seluruh bagian pisang)
  • Goreng dalam minyak yang panas sampai terendam, setelah matang dan kunig kecoklatan angkat dan tiriskan
Pisang Molen siap di sajikan...

Bisnis Emas Menanam Jabon (Jati Ambon)






Sebelumnya ide wirausaha kreatif bertanya-tanya, apa sih Jabon itu?
Ternyata Jabon itu tidak lain singkatan dari Jati Ambon (Anthocephalus cadamba).
Yaitu merupakan salah satu jenis kayu yang pertumbuhannya subur dihutan tropis dengan ketinggian 0-1000m dpl.
 
Saat ini Jabon mejadi andalan industri perkayuan, termasuk kayu lapis, karena Jabon memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan tanaman kayu lainnya termasuk sengon. Menurut hasil iju coba yang telah dilakukan, keunggulan tanaman jabon ini antara lain :
  • Berbatang silinder dengan tingkat kelurusan yang sangat bagus
  • Masa produksi jabon yang singkat, hanya 4 - 5 tahun
  • Tidak memerlukan pemangkasan karena pada masa pertumbuhan cabang akan rontok sendiri
  • Diameter Batang dapat tumbuh  berkisar 10 cm/tahun


Ciri Jati Ambon :

1. Batang
  • Permukaan kayu licin serta arah tegak lurus
  • Berwarna putih kekuningan mirip meranti kuning
  • Batang mudah dikupas
  • Bebas dari cacat mata kayu dan susutnya rendah
2. Pertumbuhan
  • Pertumbuhan sangat cepat dibanding dengan kayu keras lainnya
  • Dapat tumbuh ditanah liat
  • Dapat tumbuh di tanah lempung podsolik cokelat
  • Dapat tumbuh di tanah berbatu


Penanaman dan Perawatan

Jabon merupakan tanaman yang mudah tumbuh dan berkembang tidak memerlukan banyak perlakuan khusus dalam budidayanya.



Pemasaran

 Jabon merupakan jenis kayu yang berwarna putih agak kekuningan dan tanpa terlihat seratnya, maka kayu jabon sangat dibutuhkan oleh industri kayu lapis, industri meubel, pulp, produsen peti buah, mainan anak-anak, korek api, alas sepatu, papan, tripleks. Hal inilah yang membuat pemasaran kayu jabon sama sekali tidak mengalami kesulita.


Nilai Ekonomis

Budidaya  tanaman jabon akan memberikan keuntungan yang sangat menggiurkan apabila dikerjakan secara serius dan benar. Perkirakan dalam 4 - 5 tahun mendatang, diperoleh dari penjualan 625 pohon berumur 4 - 5 tahun sebanyak 800 - 1000 m3/ha. Prediksi harga jabon pada 5 tahun mendatang Rp1.2 juta /m3 dan produksi 800 m3, maka omzet dari penenaman jabon mencapai Rp960 juta /ha. Saat ini harga jabon berumur 4 tahun mencapai Rp800.000.


Peluang Investasi

Menanam jabon bagaikan menanam emas, sebab kebutuhan kayu akan terus meninggi, karena saat ini pemerintah melarang penggunaan kayu bulat hasil tebangan hutan alam, akibatnya banyak industri tutup akibat kekurangan pasokan kayu, jadi pada masa mendatang harga kayu jabon akan semakin menigkat terus.

Selasa, 19 Februari 2013

Usaha Angkringan Sego Kucing Dan Gorengan


Potensi Peluang Usaha Angkringan Sego Kucing Dan Gorengan

Khusaini 43th salah seorang warga desa Jetak RT 04/06 kecamatan Wedung kabupaten Demak sudah 5 tahun ini menekuni usaha pemasok sego/nasi kucing dan gorengan untuk 25 hingga 30 angkringan yang mangkal di wilayah kota Demak, Jepara hingga Kudus. Setiap jam 3 sore di rumahnya yang juga mnjadi dapur untuk memasak nasi kucing dan gorengan telah berkumpul puluhan orang yang tengah menunggu giliran untuk mengambil nasi kucing dan gorengan.
Dicatatnya pula dalam buku, setiap bakul ditulis berapa pengambilan dagangan, nasi kucing berapa bungkus, gorengan berapa biji & sate-satean berapa tusuk. Para bakul ini pun antri dengan tertib yang selanjutnya berangkat ke tempat berjualan mereka masing-masing.
Usaha Sego Kucing
Mengenai modal, beliau menuturkan ”Ya modal mereka hanya kepercayaan berapapun mereka mengambil dagangan saya ya.. saya kasih, maka jika ada yang ingin ikut berjualan kami persilakan yang penting mereka jujur dan jika dagangan habis ya.. uang harus disetor dan silahkan mengambil dagangan lagi”.
Khusaini juga mengatakan bahwa bisnis memasok nasi kucing dan gorengan untuk warung angkringan dilakukannya berawal dari usahanya berjualan buah-buahan di Jakarta yang mengalami kebangkrutan sehingga modal dan tabungannya habis untuk menutup kerugian.
Dalam kemelut ini iapun berjualan sate kerang yang disetorkan ke warung angkringan nasi kucing yang terdapat di desanya. Dari berjualan sate kerang itu ada satu sampai dua bakul warung angkringan yang mencoba memesan nasi kucing. Permintaan itupun ia turuti, awalnya ia hanya membuat 20 hingga 30 bungkus nasi kucing, namun lama kelamaan permintaan selalu naik dari waktu ke waktu.
Selain itu dagangannya pun makin berkembang tak hanya nasi kucing, ia juga membuat gorengan dan juga sate-satean. Permintaan semakin bertambah para pemilik angkringan yang mengambil dagangannya pun terus bertambah sehingga dari mulai 20, 50 hingga 100 bungkus.
Hingga sekarang setiap harinya ia membuat sego kucing hampir 2 ribu bungkus dengan bermacam menu. Diantaranya lauk udang, cumi, teri, sarden, ayam, dadar, telor, chiken , tempe kering, nasi goreng. Sedang untuk gorengannya ada bakwan, tempe goreng, mendoan, tahu goreng dan tahu susur. Untuk sate-sateannya ada sate telor puyuh, sate bakso, sate kerang, sate kikil dan sate udang.
”Untuk menu setiap saat bisa ditambah dan dikurangi tergantung dari permintaan pembeli dan juga kondisi cuaca. Contohnya saat musim hujan tiba penghasilan masyarakat kurang pasokan menu berkurang. Namun saat kondisi ramai atau habis panen maka pasokan menu ditambah lagi ”, tutur Khusaini yang setiap hari mengerjakan pekerjaannya sendiri.
Usaha menjual nasi kucing ini, merupakan ide usaha yang kreatif di tengah-tengah perekonomian yang sedang tidak setabil. Terutama bagi kita yang tinggal di daerah atau kota kecil usaha sego kucing ini bisa dijadikan solusi untuk menambah penghasilan.

Laba Icip - Icip Jangkrik


Hewan bernama jangkrik (gryllus sp) lebih banyak beken sebagai salah satu bahan pakan ayam atau burung. Lebih dari itu, jangkrik sering dipelihara anak-anak ataupun di rumah-rumah sebagai hewan aduan ataupun sebagai pengusir tikus.
Namun, banyak penelitian menyebutkan bahwa kandungan gizi dalam daging jangkrik ternyata bermanfaat bagi manusia. Kandungan proteinnya tiga kali lipat kandungan daging ayam, sapi dan udang.

Jangkrik juga mengandung protein omega 3, omega 6 dan omega 9 yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak. Selain itu, konsumsi jangkrik dipercaya dapat menambah stamina tubuh, menambah gairah seksual, serta mampu menunda menopause bagi wanita.

Tak heran jika jangkrik kemudian marak dibudidayakan. Apalagi pada tahun 1998 ketika budidaya jangkrik dan cacing sedang booming. Saat ini, sebagian besar hasil budidaya jangkrik untuk pasokan pakan ternak.

Namun, di tangan Sri Rahayu, pemilik Sri Gryllus/Latansa, jangkrik diolah menjadi peluang usaha baru yang patut dilirik. Yaitu sebagai makanan siap saji. Seperti peyek, rendang, balado, biskuit dan srundeng.

Semua makanan ini sudah mendapat sertifikat dari dinas kesehatan dan dari MUI setempat. sehingga halal dan aman dimakan. “Tapi hati- hati, yang alergi udang tidak bisa makan ini,” tutur Sri.

Dari hasil jualan jangriknya ini, nenek berusia 66 tahun ini bisa mendapat penghasilan antara Rp 7 juta sampai Rp 8 juta per bulannya. Padahal wilayah pasar utamanya masih sekitar Riau saja.

Menurut Sri, tahun 1998 silam dirinya tertarik membudidayakan jangkrik. “Gara-garanya, di Jogja waktu itu sedang marak budidaya jangkrik. Lalu saya tertarik mempelajari dari buku,” ujarnya.

Tanpa pikir panjang, Sri lantas membeli 300 ekor jangkrik betina dan 100 ekor jangkrik jantan. Harganya waktu itu Rp 25 per ekor. “Budidaya jangkrik sangat mudah dan tidak makan tempat. Cukup sediakan kotak-kotak khusus saja,” ujar Sri enteng. Sri sendiri saat ini tinggal memiliki 30 kotak jangkrik berisi masing-masing 4000 ekor jangkrik.

Kemudian, tahun 2000 Sri mulai panen jutaan ekor jangkrik. Sayang, waktu itu harga jangkrik sedang turun. Bingung harus berbuat apa, Sri lantas menggoreng jangkrik-jangkrik tersebut dan dibagikannya ke teman-temannya. “Rata-rata suka dan bilang enak. Dari situ saya berfikir bahwa ada peluang usaha di jangkrik ini,” ujarnya.

Sejak itu, Sri terkenal sebagai pengusaha kapsul jangkrik. Kapsul tersebut dijual seharga Rp 100.000 per botol dengan isi 50 butir kasul. Beratnya 500 miligram. “Dalam sebulan, saya bisa memenuhi pesanan kapsul sebanyak 20 kilo kapsul,” ujarnya senang.

Nah, tahun 2008 silam, Sri kembali melakukan kreasi dengan membuat peyek jangkrik. Tak disangka, peminatnya membeludak. Dalam sebulan, Sri bisa menghasilkan 15 kilo peyek yang dijual seharga Rp 60.000 per kilo. Peyek jangkrik ini bisa tahan sampai 20 hari.

Sementara bahan jangkriknya hanya butuh 5 kilo saja. “Kalau sedang kekurangan jangkrik, saya ambil dari jangkrik pembudidaya lain seharga Rp 45.000 per kilo. Tapi jarang,” ujarnya.

Setelah sukses dengan peyek jangkrik, Sri lantas berinovasi membuat rendang jangkrik. “Kebetulan di Riau banyak orang Minang. Mereka kan suka rendang,” kilahnya.

Dalam sebulan, Sri bisa membuat 12 kilo rendang dari bahan 10 kilo jangkrik. Harga jualnya Rp 80.000 per kilo. Makanan ini bisa tahan sampai tiga bulan.

Lantas, muncul pula balado jangkrik. Untuk makanan jenis ini, jangkrik dan sambal (balado) digoreng terpisah. Lalu setelah itu, dicampurkan. “Untuk balado ini belum banyak peminatnya. Saya hanya buat 8 kilo sebulan. Harganya Rp 80.000 per kilo,” lanjut Sri. Balado ini tahan selama sebulan.

Ada juga biskuit jangkrik. Bahan-bahannya dari kelapa, jahe dan jangkrik yang digiling halus dan ditambahkan telor serta mentega. Setelah jadi adonan, dicetak. “Warna biskuitnya hitam seperti Oreo. Jadi banyak yang suka,” kekeh Sri.

Dalam sebulan, Sri bisa memproduksi 20 kilo biskuit dengan bahan jangkrik sebanyak 10 kilo. Harganya Rp 60.000 per kilo. Tak hanya itu, Sri juga membuat serundeng jangkrik. Dalam sebulan, Sri bisa membuat lima kilo serundeng jangkrik seharga Rp 30.000 per kilo. “Bahan jangkriknya sedikit karena hanya untuk suwiran saja,” ujarnya.

Lantaran unik, produk Sri sering mendapat kesempatan pameran ke luar negeri sebagai produk unggulan Provisni Riau. Misalkan saja ke Korea Selatan, Taiwan dan Singapura. “Sampai saat ini, mungkin baru saya pemain olahan makanan jangkrik ini,” pungkasnya. 

Bisnis Kreasi Nasi


Meski kita memakannya tiap hari, tapi bisnis jualan nasi tetap saja menggiurkan. Syaratnya, nasi yang dijajakan itu harus unik dan nyantel di lidah.
Adalah Samsianata yang mencoba peruntungan dari bisnis makanan wajib orang Indonesia ini. Agar laku di pasaran, dia mengolah nasi menjadi santapan yang berbeda dari nasi yang biasa kita makan sehari-hari. "Saya menanak beras merah dengan campuran rempah sehingga aromanya harum dan teksturnya lembut," ujarnya.

Sam, panggilan akrabnya, menamakan menu kreasinya itu Nasi Jambronk. Tak hanya memproduksi Nasi Jambronk, Sam juga,menyajikan menu nasi di wadah di bumbung alias bambu, itu sebabnya makanan tersebut diberi nama Nasi Bumbung.

Sam mengawali usaha restoran yang mengandalkan olahan nasi tersebut pada pertengahan 2008 di Yogyakarta. Sesuai harapannya, peminatnya membludak. Omzetnya mencapai Rp 3 juta per hari, atau Rp 90 juta per bulan

Melihat menu racikannya digemari banyak orang, Mei 2009 Sam menawarkan kemitraan restoran Nasi Jambronk dan Nasi Bumbung.

Lewat merek dagang itu, Sam menjajakan aneka makanan seperti Nasi Bumbung Komplit, Nasi Jambronk Babat, Karedok, dan sebagainya. Menu minumannya antara lain teh tarik, teh jaha (campuran jahe, teh dan rempah), dan teh sablenk (campuran mahkota dewa dan jamur). Harga menu di kedai Nasi Jambronk dan Nasi Bumbung berkisar Rp 20.000 - Rp 75.000 per porsi.

Meski belum genap satu bulan melego kemitraan, Sam sudah punya satu mitra. "Satu mitra akan buka dalam waktu dekat di Gading Serpong, Tangerang," ujarnya. Kata Sam, mitra tersebut tertarik lantaran melihat keunikan Nasi Jambronk dan Nasi Bumbung.

Sam menanjkan bisnis ini bakal moncer. Dia menunjukkan contoh restoran miliknya di Kaliurang yang omzetnya Rp 3 juta sehari. Setelah dikurangi berbagai biaya, seperti bahan baku 50 persen, sewa tempat Rp 4,2 juta sebulan, dan gaji 14 pegawai, "Laba bersihnya Rp 500.000 per hari atau 15 persen dari omzet," ujarnya.

Mulai dari Rp 50 juta

Kepada yang berminat menjadi mitra, Sam mensyaratkan calon mitra harus memiliki modal awal Rp 50 juta. Ini untuk gerai dengan kapasitas 40 kursi. "Jika tempat usahanya mencapai 100 kursi,. tentu harganya berbeda," jelas Sam.

Dengan menyerahkan modal awal itu, si mitra akan terikat kerjasama selama lima tahun, mendapat resep, pelatihan karyawan, dan 10.000 lembar brosur. "Mitra juga mendapat ikan di media lokal selama tujuh kali tayang dalani bulan pertama pembukaan restoran," ajar Sam.

Biaya investasi tadi belum termasuk biaya sewa dan renovasi tempat. "Interior gerai harus seragam, mengikuti restoran yang saya punya," ujar Sam. Jika mitra tak ma repot mengurusi tetek bengek pendirian gerai, dia harus menyerahkan modal Rp 200 juta.

Jika gerai sudah berdiri da usaha berjalan, Sam mewajil kan mitra membeli bumbu siap pakai darinya. Harga bumbu tersebut saat ini Rp 70.000 per kilogram. Bumbu sebanyak 1 kilogram cuku membuat 2.000 porsi nasi.

Sam mewajibkan mitra membeli bumbu darinya dengan alasan untuk menjaga standar dan keseragaman citarasa di semua gerai yang bernaung di bawahnya. Jika usahanya sudah jalan si mitra juga harus membayar biaya royalti sebesar 2 persen dari omzet setiap bulannya.

Soal balik modal, Sam menjanjikan mitra bisa balik modal dalam 1,5 tahun dengan asumsi pendapatan kotor si besar Rp 2.5 juta per hari.

Usaha Kerupuk Kelempang


Modal sering menjadi momok menakutkan bagi seseorang yang hendak memulai usaha. Niat membuka usaha kerap luntur duluan karena modal cupet.

Tapi, itu tak berlaku bagi Eva Yunus di Palembang.

Bermodal Rp 200.000, Eva mampu mengembangkan usaha kerupuk kelempang, sering juga disebut kempelang, bermerek Eva Yunus.

Usaha keras dan semangat membara membuat usahanya mekar. Kini bisnis kerupuk kelempangnya mampu membawa omzet Rp 35 juta per bulan. Berarti, dalam setahun dia bisa mencatat omzet Rp 420 juta. Gurih kan?

Ketertarikan Eva untuk mulai berbisnis sebenarnya datang dari tekanan ekonomi yang mengimpit kehidupannya. Sebagai guru, gaji suami Eva tak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Dari situ saya menguatkan tekad menambah penghasilan,” ujar Eva yang mulai usaha sejak 1998.

Pilihannya jatuh pada usaha kerupuk. Selain modalnya tak besar, dalam hitungan Eva, keuntungannya lumayan. “Bisa sekitar 20 persen dari omzet,” ujar Eva. Ilmu perkerupukan dia pelajari dari orangtuanya yang pernah berbisnis pembuatan kerupuk kelempang.

Tanpa pikir panjang, Eva membeli semua peralatan pembuatan kerupuk milik orangtuanya yang sudah menganggur itu. Setelah itu, Eva membeli bahan-bahan pembuat kerupuk seperti tepung, ikan, dan bumbu. Namun, dengan modal yang minim, duit Eva tak cukup.

Upaya meminjam dari kerabat mustahil sulit lantaran mereka juga kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga masing-masing. Makanya, Eva meminta suaminya meminjam uang dari koperasi. Untuk melunasinya, gaji bulanan sang suami harus kena potong. “Tak mengapa, yang penting bisa usaha,” ujar Eva mengenang.

Namun memasarkan kerupuk kelempang hasil bikinannya ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Maklum, banyak pemain kerupuk kelempang di Palembang. Tapi Eva tak menyerah. Dia tahu persis kerupuk kelempang adalah kudapan paling dicari oleh warga Palembang maupun pelancong. “Mencocol kerupuk ke sambal sambil nonton TV,” ujar dia.

Makanya, sasaran utama Eva adalah para tetangga dan sanak famili. Untuk itu, Eva menggelar dagangannya di emperan rumahnya sebagai etalase.

Agar berbeda dengan kerupuk kelempang lain, Eva mendongkrak kualitas rasa kerupuk bikinannya. Komposisi bahan ikan gabus dan tenggiri dia bikin lebih dominan ketimbang tepung. Perbandingannya, 1 kg ikan hanya menghasilkan 4 kg kerupuk mentah. “Dengan begitu, rasa ikan akan lebih terasa,” ujar Eva. Soal campuran bumbu, Eva enggan berbagi lantaran resep ini rahasia keluarga.

Tak puas hanya menjual kerupuk ke tetangga dan saudara-saudara, Eva berharap bisa menjual produknya lebih luas. Celakanya, dia tak punya modal lebih besar untuk mengembangkan usahanya.

Terpikir olehnya untuk berpromosi secara besar-besaran. Namun, kendalanya, dia tak punya modal. Padahal, dari promosi Eva yakin bisa mengembangkan usaha.

Eva pun menawarkan kerupuk kelempangnya ke acara-acara arisan, sunatan, hingga perkawinan. Tentu tak lupa dia menawarkan dagangannya ke toko-toko. “Dari situ, pesanan kepada saya mulai mengalir hingga sekarang,” ujar Eva.

Kini Eva hanya menjajakan kerupuk bikinannya di rumah, persisnya di Jalan KH A Azhari Lr Anten-Anten No 557 RT 165, Ulu Laut, Palembang. Rumahnya yang persis berada di pinggir jalan besar menjadi toko sekaligus pabrik kerupuk.

Dalam menjalankan usahanya, Eva mengaku tak banyak menarik untung. Baginya, kerupuk Eva Yunus jadi terkenal saja sudah cukup membuatnya senang. “Jika banyak pembeli datang, usaha saya terus berputar kan?” ujar Eva kalem.

Eva yakin, jika banyak konsumen mengenal dan mencicipi produknya, pasti sebagian di antaranya akan kembali datang. “Kualitas produk nomor satu untuk menarik pelanggan datang kembali,” ujar dia yakin.

Rajin berinovasi

Eva sadar betul, banyak pemain kerupuk kelempang sekarang ini. Namun, itu tak membuat dirinya patah arang menggeluti usaha ini. Selain tetap menjaga kualitas, Eva juga melakukan inovasi. Salah satunya dengan membuat kerupuk dalam bentuk kotak dan lonjong. Dengan varian bentuk seperti itu, Eva mengaku tak berani menambah harga jual. “Harga tetap sama meski bentuk beda,” ujar Eva berpromosi.

Yang membedakan harga hanya cara membuatnya. Kerupuk kelempang bakar lebih mahal lantaran saat pemanggangan kerupuk menjadi susut. “Kerupuk yang semula sekilo menjadi 8 ons,” ujar dia.

Eva juga menambah varian kerupuknya dengan menyediakan kerupuk tanjung. “Ini kerupuk langka dan hanya ada di saat pesta,” ujar Eva. Dia berani mengklaim bahwa hanya dirinya yang menjual kerupuk tanjung ini di Palembang.

Lalu lalang kendaraan yang berhenti di rumah Eva rupanya menarik minat PT Pupuk Sriwidjaya untuk menjadikannya sebagai mitra binaan. Gayung bersambut lantaran Eva juga berniat mengembangkan usahanya.

Pada 2003 Eva pun mengajukan proposal pinjaman ke Pusri. “Tak banyak, hanya Rp 9 juta,” tutur dia. Pinjaman berbunga 6 persen dengan masa pinjaman tiga tahun itu dia ambil untuk menambah jumlah pegawai.

Belum sampai pinjaman itu jatuh tempo, Eva sudah melunasinya. Lantaran itu pula, Pusri, sebutan populer BUMN penghasil pupuk itu, kembali memberikan persetujuan atas proposal pinjaman yang kedua. Kali itu Eva berani mengajukan kredit senilai Rp 20 juta untuk mengembangkan pabrik.

Seiring hubungan baik dengan Pusri, Eva kerap diajak mengikuti berbagai kegiatan pameran. Lewat pameran ini pula pesanan tak henti-hentinya mengalir kepadanya. Makanya, Eva kembali meminta tambahan modal ke Pusri. Nilainya sudah jauh meningkat, menjadi Rp 40 juta.

Tapi, Pusri pasang syarat: Eva harus membina para nelayan sebagai plasma. Nelayan yang dimaksud adalah para pemasok ikan tengiri dan gabus. Eva tak menganggap persyaratan itu sebagai persoalan. Dengan cara ini, dia justru merasa beruntung karena tak perlu lagi bersusah payah mencari bahan baku utama produksi kerupuknya.

Cuma, Eva juga tak asal main borong dagangan para plasmanya. Dia mematok persyaratan ketat bagi para nelayan binaannya. Hanya ikan-ikan segar yang dia terima sebagai bahan kerupuk kelempangnya. “Saya tak segan menolak jika ikan dari nelayan ternyata berkualitas jelek,” tandas Eva. Dengan cara ini, Eva tetap bisa menjaga kualitas dagangannya

Usaha Ikan Bakar


Bagi Sutarjo, pengusaha kedai Ikan Bakar Tarjo, pepatah tak kan lari gunung dikejar lebih cocok diplesetkan menjadi tak kan lari rezeki dikejar. Meski menjajal beragam pekerjaan, akhirnya dia berlabuh di bisnis warung ikan bakar.Sebuah sisi kehidupan yang pernah akrab dengannya di masa silam, sewaktu tinggal di Pacitan, Jawa Timur.

Orang yang biasa melintasi Jalan Arteri Permata Hijau, Jakarta Selatan, kemungkinan besar pernah melihat sebuah kedai ikan bakar penuh asap yang ramai oleh pembeli. Itulah kedai ikan bakar milik Sutarjo. Setiap hari, ratusan orang menyantap aneka ikan bakar yang lokasinya tak jauh dari rel kereta api jurusan Serpong dan Rangkas Bitung itu.

Tak ada kesan mewah pada warung ikan bakar Tarjo ini. Tak heran, pembeli yang bertandang di sana cukup beragam, mulai kalangan bermobil sampai pejalan kaki. Saking larisnya, setiap hari Sutarjo mesti menyiapkan 2 sampai 4 kuintal ikan beragam jenis yang ia kulak di Muara Angke.

Bahkan, saat hari libur, Sutarjo harus menyediakan 5 kuintal ikan. Bisa dibayangkan berapa besar omzet yang dia terima mengingat harga seafood di Jakarta terbilang lumayan.

Kesuksesan yang kini menempel pada sosok Sutarjo tidak runtuh dari langit. Butuh waktu bertahun-tahun baginya sebelum bisa menikmati keberhasilan ini. Sejak kecil, Sutarjo sudah akrab dengan kerja keras. Keindahan kampung nelayan kelahirannya di Tulakan yang asri dengan bukit-bukit kapur mengitari pantai jernih tak memberikan banyak rezeki buat Sutarjo dan keluarganya.

Tempat tinggal yang dekat lautan itu memaksa Sutarjo akrab dengan dunia ikan. Lelaki berusia 41 tahun yang hanya berijazah SMP ini sangat akrab dengan beragam jenis ikan. “Selama di Pacitan, saya juga sering melaut,” kenang dia.

Sutarjo juga memanfaatkan secuil ladang milik orangtuanya untuk berkebun. “Saya juga menanam pohon kelapa. Kini hasilnya sudah bisa dinikmati orang tua di kampung,” tutur pria berkulit sawo matang ini.

Namun, ketenangan hidup di desa tak memuaskan dahaga Sutarjo remaja akan berbagai pengalaman. Alhasil, pada 1986, anak kelima dari tujuh bersaudara ini nekat merantau ke Jakarta. Bermodalkan Rp 15.000, Sutarjo tiba di Jakarta tanpa tahu mau bekerja apa. Hingga suatu ketika, seseorang menawarinya bekerja sebagai cleaning service. Namun, Sutarjo muda tak betah bekerja di bidang itu. Baru empat bulan, dia sudah mengundurkan diri.

Kemudian, Sutarjo mencoba pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di Sunter, Jakarta Utara. Namun, setelah lima bulan bertahan dan bosan, ia balik lagi menjadi cleaning service di sebuah perusahaan hingga akhirnya berhenti lagi.

Pekerjaan sebagai kuli bangunan juga pernah ia lakoni meski tak punya bekal kemampuan soal bangunan. “Per hari saya digaji Rp 2.500. Santapan sebatang singkong dan segelas bajigur saya bagi dua dengan kakak,” tutur Sutarjo.

Lagi-lagi karena tak betah, Sutarjo banting setir menjadi pedagang sayur keliling. “Jadi, pagi saya dagang sayur, dan siang hari jualan minuman ringan. Kalau malam buka warung makan dan menjual rokok,” ujar suami Triati ini.

Di sinilah titik balik nasib Sutarjo bermula. Pada 1997, Sutarjo, istri, dan seorang anaknya merintis usaha warung makan. Menu utamanya ikan bakar. Alasannya, kebanyakan orang hanya menjual ikan goreng. “Saya punya bumbu ikan bakar khas yang saya dapat di Pacitan,” kata Sutarjo.

Bermodalkan uang Rp 20.000 dan alat bakar dari kaleng bekas kue kering, Sutarjo memulai bisnis warung ikan bakar. Hasilnya, ikan bakar racikan Sutarjo cocok di lidah pengunjung warung. Ia pun makin serius berjualan sehingga keuntungan kian menebal. Dengan tabungan hasil berjualan, Sutarjo membeli tanah seharga Rp 250 juta. Di atas tanah itu, dia mengembangkan usaha lebih lanjut. Buah ketekunan dan keuletan lelaki berkumis tebal ini semakin lebat.

Tengok saja. Ikan bakar dengan bumbu ndeso-nya mampu menyihir penikmat ikan bakar. “Sampai sekarang, pelanggan terus bertambah,” ujar Sutarjo. Alhasil, dalam sebulan, Sutarjo mampu mengantongi omzet Rp 250 juta lewat kedai yang berukuran tak lebih dari 36 meter persegi itu.

Maklum, selain melayani pembeli yang datang langsung, Sutarjo juga melayani pesanan ikan bakar. Hampir setiap hari ratusan ekor ikan bakar ia kirim ke kantor Badan Pemeriksa Keuangan, DPR, Gramedia, Bank Permata, dan lain-lain.

Penghasilan Sutarjo kian bertambah lantaran sejak pertengahan 2008 ia juga beternak tokek dan membantu saudaranya memasarkan rumput laut. “Bisnis tokek sangat menjanjikan. Peminat tokek kebanyakan orang Korea,” kata Sutarjo.

Dari enam ekor tokek berbobot 3 ons sampai 5 ons, Sutarjo biasa mengantongi jutaan rupiah. Padahal, di rumahnya, Sutarjo memiara sekitar 600 tokek berbagai ukuran.

Enggan memusingkan pembukuan

Kedai ikan bakar Tarjo memang kesohor. Pejabat hingga artis sering menyambangi warung ini. Wajar jika banyak orang yang berminat bekerja sama dengan Sutarjo, sang empunya warung.

Beberapa orang memang sempat bekerja sama dengan Sutarjo membuka kedai ikan bakar Tarjo. Namun, karena suatu hal, Sutarjo menyetop kerja sama tersebut. Sekarang, selain di Jakarta, kedai ikan bakar Tarjo yang masih bertahan hanya yang berlokasi di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, milik seorang pejabat pemerintah di sana.

Namun, Sutarjo tidak kapok bekerja sama dengan orang lain yang ingin membuka kedai ikan bakar Tarjo. “Tapi sekarang ada beberapa syarat yang harus dipenuhi,” kata Sutarjo.

Salah satunya adalah calon partner harus memiliki niat sungguh-sungguh untuk mengembangkan usaha. “Harus pemilik modal yang tak sekadar mencari keuntungan,” tandas dia.

Menurut Sutarjo, keuntungan pasti datang jika si pemilik kedai menjalankan usaha dengan sungguh-sungguh. “Pembeli banyak dan pendapatan tinggi, baru mikir untung. Jangan langsung mikir untung,” ujar dia.

Tak aneh bila selama ini Sutarjo tak memusingkan pembukuan keuangan, dan membiarkan mengalir begitu saja. “Kalau terlalu diperhitungkan jadi seperti pelit,” tutur Sutarjo.

Usaha kulit kacang


Sehari-hari Edy Gunarto bergelut dengan kulit kacang. Kulit kacang itu dia masukkan ke dalam sebuah drum besar lalu dibakarnya selama sekitar dua jam. Agar cepat dingin, arang kulit kacang itu kemudian dijemur. 
Setelah dihancurkan hingga menyerupai tepung, adonan itu diaduk dengan lem kanji. Proses terakhir adalah mencetaknya menjadi briket siap pakai.

Eny Prihtiyani warga Dusun Plebengan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, DI Yogyakarta, ini menggeluti usaha itu setidaknya sejak lima tahun terakhir. Briket produksinya itu sudah dipasarkan ke berbagai kota, seperti Surabaya dan Jakarta. Sebagian besar pelanggannya adalah kalangan industri rumah tangga.

Gagasan membuat briket kulit kacang muncul ketika Edy menghadapi banyaknya sampah kulit kacang di daerahnya. Sampah itu dibiarkan berserakan di pinggir jalan atau dibuang begitu saja di kebun-kebun. Di rumahnya sendiri, sampah kulit kacang juga tidak kalah banyaknya. Apalagi istrinya adalah pengepul kacang tanah.

”Bila panen tiba, banyak petani yang menjual kacang kepada istri saya. Setelah dikupas, oleh istri saya lalu dijual kepada pedagang pasar tradisional, terutama di Beringharjo. Jadi, sampah kulit kacang di rumah selalu menumpuk,” katanya.

Sampah kulit kacang itu makin menumpuk ketika Edy berhasil membuat alat pengupas kacang dengan kapasitas 2 kuintal per hari. Alat itu terus dia sempurnakan hingga kapasitasnya mencapai 1,5 ton per hari. Alat itu dibuatnya setelah mengamati alat perontok padi karena prinsip kerjanya hampir sama.

”Dengan bantuan alat pengupas, kacang tanah yang tertampung semakin banyak. Tidak hanya dari petani di Bantul, tetapi juga dari wilayah Gunung Kidul dan Kulon Progo. Itu membuat usaha istri saya berkembang pesat. Dampak lainnya, ya semakin menumpuknya sampah kulit kacang di rumah kami,” ujarnya.

Awalnya Edy hanya menjual sampah kulit kacang itu kepada para perajin tahu seharga Rp 30.000-Rp 35.000 per truk. Oleh perajin, kulit kacang dipakai sebagai bahan bakar mengolah tahu.

Setelah mendapat informasi dari berbagai sumber, seperti buku dan pelatihan tentang pembuatan briket, dia pun tertarik membuat briket kulit kacang. ”Saat itu yang diperkenalkan adalah pembuatan briket dari serbuk gergaji. Namun, karena bahan bakunya di tempat saya sulit dan yang tersedia kulit kacang, ya saya coba saja,” cerita Edy.

Eksperimen

Selama masa eksperimen, Edy masih mencampur kulit kacang dengan serbuk gergaji. Dia khawatir, kalau semua bahan bakunya dari kulit kacang, briketnya tidak bisa sempurna. Lambat laun dia mulai meninggalkan serbuk gergaji dan hanya menggunakan kulit kacang.

Keuletan dan ketelatenan Edy melakukan eksperimen membawanya pada satu kesimpulan, yakni briket bisa dibuat dari semua jenis limbah organik. Selain kulit kacang, briket juga bisa dibuat dari bahan baku seperti cangkang jarak, tempurung kelapa, dan tongkol jagung.

Sekarang, bila stok kulit kacang tengah menipis, Edy beralih pada bahan baku yang lain. ”Karena di daerah sini terkenal sebagai sentra kacang, stok kulit kacang praktis selalu tersedia meskipun pada masa-masa tertentu stok kulit kacang kadang memang agak berkurang. Dalam kondisi seperti ini, biasanya saya beralih ke tongkol jagung,” katanya.

Dalam sehari Edy bisa memproduksi sekitar 70 kilogram briket. Setiap 1 kg briket membutuhkan sekitar 2 kg kulit kacang. Jadi, dalam sehari kebutuhan bahan bakunya mencapai 180 kg kulit kacang.

Selain memanfaatkan sampah kulit kacang milik sendiri, Edy juga membeli dari petani seharga Rp 50 per kg. Briket kemudian dia jual Rp 2.500 per kg. Edy menjualnya dalam bentuk kemasan 2 kg.

”Produksinya memang belum terlalu tinggi, padahal permintaannya cukup banyak. Salah satu kendalanya adalah peralatan yang kami gunakan sebagian besar masih tradisional. Kalau saja ada investor yang tertarik, mungkin usaha ini bisa dikembangkan lebih maksimal mengingat potensi sampah organik di sini sangat besar,” ujar Edy.

Sederhana

Semua peralatan yang dipakai Edy memang tergolong sederhana. Ia memodifikasi semuanya sendiri. Latar belakang pendidikan teknik mesin semasa belajar di STM 2 Jetis Bantul ternyata cukup membantu.

Misalnya, untuk mesin pengaduk molen briket, dia membuat sendiri dengan meniru prinsip kerja mesin buatan pabrik. Untuk membuat alat itu, ia menghabiskan sekitar Rp 2 juta, sementara jika membeli di pabrik bisa sampai Rp 5 juta. Untuk mencetak briket, Edy juga memanfaatkan alat cetakan genteng yang sudah dia modifikasi.

Untuk memanfaatkan briket, konsumen tinggal membeli tungku yang terbuat dari tanah liat seharga sekitar Rp 10.000. ”Sebelumnya memang belum ada perajin gerabah yang membuat tungku untuk briket. Ketika itu yang ada tungku dari besi seharga Rp 150.000. Setelah saya bicarakan dengan para perajin, mereka lalu memproduksi tungku gerabah sehingga konsumen tidak kesulitan mendapatkannya,” kata Edy.

Untuk menyalakan briket di tungku gerabah tidaklah susah. Caranya, briket ditaruh di lubang di atas tungku lalu dinyalakan dari atas. Menyalakannya pun tidak sesulit briket batu bara. Untuk menyalakan api, orang bisa menggunakan bantuan secuil kain atau kertas.

Keuletan Edy dalam mengembangkan usahanya ternyata mendapat respons positif. November tahun lalu dia berhasil menggondol juara pertama tingkat nasional kategori pengembangan entrepreneurship yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia bekerja sama dengan Citi Peka.

Penghargaan itu membuat Edy semakin bersemangat. Atas prestasinya tersebut, dia mendapat hadiah Rp 11 juta. Rencananya uang itu akan dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha.

Dia yakin, usahanya akan semakin berkembang mengingat ketersediaan minyak tanah bersubsidi semakin langka. Di wilayah Kota Yogyakarta dan Sleman, misalnya, minyak tanah bersubsidi sudah ditarik, sedangkan di kawasan Bantul kemungkinan hanya sampai Desember mendatang.

”Tanpa subsidi, harga minyak tanah bisa Rp 8.000 per liter. Jadi mungkin akan semakin banyak masyarakat yang beralih pada bahan bakar alternatif,” kata Edy.

Menurut dia, briket buatannya mirip dengan briket batu bara. Setiap 1 kg briket bisa menghasilkan panas hingga sekitar dua jam.

Menggunakan briket untuk bahan bakar memasak juga terhitung lebih irit dibandingkan dengan memakai minyak tanah. Untuk keperluan memasak nasi, sayur, dan lauk, jika menggunakan kompor minyak tanah bisa menghabiskan sekitar satu liter minyak yang harganya sekitar Rp 8.000 (harga nonsubsidi). Jika memakai briket, hanya mengeluarkan uang Rp 2.500.

Selain lebih irit, briket kulit kacang juga tidak menimbulkan asap dan jelaga sehingga tidak mengotori dinding dan peralatan memasak, kata Edy. 

Laba Steak Martabak


Martabak merupakan menu yang sudah akrab di lidah kita. Makanan ini paling enak dinikmati saat masih hangat. Selama ini, Anda mungkin hanya mengenal dua jenis martabak: yakni martabak manis dan telur. Tapi, ini bukan berarti tak ada jenis martabak lain lagi.
Paulus Gunawan mempunyai ide membuat martabak yang unik di kafenya. Ia sengaja menyajikan martabak sebagai menu utama. Pria berusia 38 tahun ini juga menyajikan martabak di atas loyang panas seperti steak. la menamakannya steak martabak atau martabak hot plate.

Tak heran, di kafe miliknya yang bernama Martabak House, orang menik mati martabak ibarat makan nasi. "Di sini, orang makan martabak tidak dibawa pulang, tapi dimakan di tempat," ungkap Paulus.

Martabak House menyajikan beragam menu martabak, seperti Martabak Ufo, Steak Martabak Bakar, Crispy Martabak, Martabak Mayo, dan sejenisnya. "Semua bermenu martabak, tapi punya bentuk dan cita rasa unik. Misalnya, Crispy Martabak, yakni martabak telor tapi dibikin garing dengan resep tepung khusus," beber Paulus yang memajang tulisan "Cara asik menikmati martabak" di gerainya.

Berkat keunikan martabak ini, kini Paulus mendulang omzet gede. Tiap bulan, ia bisa mengantongi omzet sebesar Rp 120 juta dari usaha Martabak House di Semarang. Padahal, ia baru mendirikan usaha ini pada Juni 2007. "Sebelumnya, saya sudah jualan martabak di gerobak sejak 1994. Jadi, saya paham betul resep martabak," paparnya. Setelah sukses di Semarang, pada Desember 2008, Paulus membuka cabang Martabak House di Yogyakarta.

Melihat minat masyarakat semakin tinggi, sejak Februari lalu, Martabak House melebarkan sayap dengan menawarkan konsep kemitraan. "Sudah ada lima orang berminat menjadi mitra, tapi saya tolak," tutur Paulus. Sebab, para talon mitra mengajukan lokasi usaha yang tidak cocok. Ia yakin, bisnis ini sukses jika berada di lokasi strategis.

Bila Anda berminat jadi mitra, selain punya lokasi usaha yang strategis, Paulus mematok beberapa syarat lain. Pertama, menyiapkan modal sebesar Rp 25 juta sebagai biaya kerjasama selama lima tahun. Selain itu, Anda juga harus merogoh Rp 40 juta untuk investasi peralatan dapur, seperti kompor, tungku, dan sejenisnya. "Bila ditotal, investasi awal mencapai Rp 100 juta sampai Rp 150 juta," jelasnya.

Paling cepat setahun

Dengan dana investasi awal sebesar itu, mitra bakal mendapat fasilitas peralatan lengkap, pelatihan karyawan, dan bahan baku awal buat usaha senilai Rp 10 juta.

Nantinya, jika bisnis berjalan, mitra wajib setor biaya royalti sebesar 5 persen dari omzet bulanan. Selain itu, agar rasa tetap standar, mitra harus membeli tepung martabak ke Paulus. Harga per bungkus tepung yang cukup buat sekitar tujuh porsi martabak adalah Rp 3.000 - Rp 3.500.

Paulus memperkirakan, mitra bisa balik modal paling cepat setahun dan paling lama dua tahun. Syaratnya, pendapat kotor mitra stabil Rp 4 juta sehari. Jika kurang dari itu atau pengeluarannya lebih mahal, waktu balik modal lebih lambat. Ini terjadi jika mitra membuka usaha di Jakarta dan sekitarnya.

Martabak House Paulus di Semarang bisa jadi gambaran. Saat ini, omzet per bulan mencapai Rp 120 juta. la mengeluarkan Rp 17 juta per tahun buat sewa tempat. Selain itu, ia menghabiskan 50 persen dari omzet per bulan buat belanja bahan baku dan menggaji 15 karyawannya. "Laba bersih sekitar 20 persen," ungkapnya. 

Laba Siomay


Perut sudah lapar, namun waktu makan belum tiba. Bisa dipastikan Anda akan mencari cemilan yang setidaknya bisa menenangkan perut yang sedang keroncongan, sembari menunggu waktu makan tiba. Salah satu pilihannya adalah siomay atau kerap juga disebut sebagai soumay.
Selain harganya relatif terjangkau, banyak orang menyukai makanan berbahan dasar tepung dan ikan ini karena rasanya pas dengan lidah orang Indonesia, dan kandungan proteinnya terbilang tinggi.

Hal itu disadari betul oleh Jamilah El Fajriyah ketika memulal usaha Soumay Echo September 2008 silam. Ketika itu, Jamilah melihat masih minimnya makanan alias cemilan yang bergizi tinggi. Pilihannya pun dijatuhkannya pada siomay. "Karena siomay itu dari dulu banyak suka, jadi pasti lebih mudah diterima pasar," ujarnya.

Soumay ala dimsum

Jamilang bilang, idenya berbisnis siomay lahir dari kepedulian sebagai orang tua yang kerap kesulitan mencari makanan sehat bagi anak-anaknya. Makanya Jamilah akhirnya memilih mengolah ikan kakap merah menjadi siomay. "Meski bentuknya siomay, tapi di dalamnya ada ikan bergizi tinggi," ujarnya berpromosi.

Bisnis siomay Jamilah terus berkembang. Jamilah bilang keunggulan siomaynya dibandingkan siomay lain terletak pada cara memasaknya. "Saya memasaknya ala dimsum, kemudian ikan kakap saya selipkan ke dalam siomay," bebernya.

Keunggulan lain yang diklaim Jamilah adalah siomay bikinannya lebih lembut dan harum. Bau harum ini berasal dari daun pisang yang dia gunakan sebagai alas ketika melakukan pengukusan untuk menghilangkan bau amiss ikan kakap.

Selain soumay ala dimsum, Soumay Echo juga menawarkan soumay isi udang, serta makanan khas dimsum seperti ekado. "Tapi ekado bikinan saya berisi ikan kakap yang dibalut kulit tahu," imbuhnya.

Keunikan siomay buatan Jamilah inilah yang mendorong Efrani Amenah mengambil kemitraan Soumay Echo. "Soumay Echo itu khas dimsum, makanya saya yakin pasar akan suka," ungkap Efrani, yang merupakan mitra Soumay Echo di Cijantung.

Ya, meski bisnis siomaynya baru seumur jagung, pada awal tahun 2009 Jamilah telah melalui jalur kemitraan. Jamilah mengaku berani menawarkan kemitraan karena yakin pada kelebihan produknya. "Apalagi cukup banyak juga yang berminat untuk menjadi mitra," ujarnya sumringah.

Sejak melemparkan pola kemitraan, kini jumlah Soumay Echo telah berkembang menjadi 18 gerai. Mitra Soumay Echo tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang. "Itu semua punya mitra, saya sendiri hanya mengelola satu booth," kata Jamilah.

Bagi yang berminat menjadi mitra Soumay Echo, Jamilah mensyaratkan biayainvestasi sebesar Rp 5,5 juta. Dari dana itu, sebesar Rp 5 juta untuk booth Soumay Echo, klakat (waduh pembungkus siomay berbahan bambu), kompor, wajan, seragam karyawan, dan sebagainya. Sedangkan yang Rp 500.000 sisanya digunakan untuk bahan baku awal. "Intinya dengan investasi sebesar itu, mitra bisa langsung berjualan," ujar Jamilah.

Minim pengalaman? Jangan khawatir, biaya investasi awal itu sudah termasuk pelatihan karyawan dan alat promosi bagi sang mitra.

Oh ya, kebanyakan kemitraan lain menawarkan paket kerjasama selama lima tahun. namun Soumay Echo terbilang unik, sebab duit yang dibayarkan mitra sebesar Rp 5,5 juta di awal tadi sudah termasuk biaya kerjasama yang berlaku seumur hidup.

Soal lokasi usaha, Jamilah punya kriteria tertentu. Sebelum mengajukan diri menjadi mitra, Anda harus terlebih dahulu mengajukan lokasi usaha. Tentu saja lokasinya tidak bisa sembarangan. "Pastinya harus berdekatan dengan pusat keramaian, seperti pusat perbelanjaan," ujar Jamilah.

Omzetnya Rp 20 juta

Setelah menjadi mitra, tentunya ada kewajiban yang harus Anda penuhi. Salah satunya adalah kewajiban untuk membeli semua bahan baku soumay, termasuk kecap, dan bumbu kacang soumay.

Untuk kecap ukuran 650 ml, misalnya, Jamilah membanderolnya dengan harga Rp 12.500. "Karena kami punya standar khusus kecap. Selain itu kami memproduksi sendiri kecap yang digunakan mitra," ungkapnya.

Yang asyik, marjin dari usaha ini ternyata sangat tebal dan legit. Jamilah mengungkapkan, selisih antara harga beli bahan bakunya bisa mencapai 100 persen. Sekadar contoh, jika mitra membeli satu siomay dengan harga Rp 1.350, nantinya dia bisa menjualnya kembali dengan harga Rp 2.500 sampai Rp 3.000, tergantung lokasi usahanya.

Bagaimana dengan balik modalnya? Jika si mitra bis mencapai target penjualan sebesar Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per bulan, dia bisa balik modal dalam waktu 4 bulan hingga 5 bulan. Tentu, jika penjualan si mitra lebih dari itu, pasti dia bisa balik modal lebih cepat lagi.

Seperti yang dialami Efrani. Setiap bulannya, Efrani yang memejeng boothnya di area foodcourt mengaku bisa meraup omzet sebesar Rp 20 juta.

Dari omzet itu, Efrani bisa mendapat keuntungan bersih Rp 10 juta. Itu setelah dipotong sewa tempat Rp 3 juta per bulan, dan pengeluaran rutin seperti bahan baku, gaji dua karyawan, dan lainnya. "Saya bisa dapat omzet segitu, karena juga menerima pesanan untuk acara seperti ulang tahun dan lainnya," ujarnya. 

Usaha sosis bandeng


Aneka olahan ikan 11 bandeng memang udah banyak beredar. Kendati begitu, bukan berarti tak ada peluang bagi produk bandeng olahan lain. Di Bekasi, bandeng diolah menjadi sosis. Tapi jangan keliru, sosis bandeng ini tidak lonjong. Bagian kepala dan ekor ikan tetap dipertahankan.
Ada banyak cara menikmati ikan bandeng. Dulu, bandeng presto sempat menjadi tren. Terobosan ini melindungi para penyantap ikan dari kemungkinan tertusuk tulang bandeng yang begitu banyak.

Kini, ada bandeng olahan dalam bentuk lain. Namanya, sosis bandeng. Beda dengan presto yang hanya membuat duri menjadi lunak, olahan ini memastikan bandeng sudah steril dari duri.

Adalah Imam Tantowi yang menekuni usaha sosis bandeng. Ia merintisnya sejak akhir 2005 di Bekasi. Untuk mendirikan Izzan, merek dagang sosis bandengnya, pria yang disapa Anton ini menggelontorkan modal Rp 1 juta. "Separuhnya saya pinjam dari kakak ipar saya," tuturnya.

Anton menggeluti bisnis ini karena perusahaan media tempatnya bekerja sebelumnya gulung tikar. "Beruntung saya sudah siap-siap," ujar lelaki berusia 35 tahun ini.

Sebelum meluncurkan Izzan, Anton melakukan uji coba resep selama tiga bulan. Racikan yang akhirnya ia pilih adalah menambahkan telor di dalam campuran daging bandeng. "Plus bumbu yang saya racik sendiri," ucapnya.

Teknik membuatnya begini. Pertama-tama, ikan bandeng, telor, dan bumbu di tempatkan dalam satu wadah. Lalu digiling hingga lembut dan dimasak dengan cara tertentu. Sayang, Anton tak bersedia menjelaskan teknik masaknya itu hingga adonan terbebas dari duri ikan.

Setelah matang, olahan ini diletakkan kembali di atas kerangka bandeng yang tinggal kepala dan ekor. "Jadi tetap mempertahankan bentuk asli ikan, tapi kalau dipotong tak ada durinya," kata pria kelahiran Brebes ini. Sosis bandeng Izzan ini bisa dikonsumsi langsung atau dipanaskan lebih dulu.

Untuk menghasilkan sosis yang berkualitas baik, Anton sengaja hanya memilih bandeng hitam. Alasannya bandeng hitam tak bercampur lumpur sehingga dagingnya tidak bau lumpur. Bandeng ini ia beli di daerah Bekasi, Cikarang, Karawang, dan Rengasdengklok. "Saya selalu pilih yang segar dengan harga Rp 15.000 sampai Rp 16.000 per kilogram," katanya.

Kata Anton, apa yang dia sebut sosis bandeng ini sebenarnya sudah dikenal di tiga daerah, yakni di Cirebon, Banten, dan Semarang. Namanya saja yang beda. "Kalau di Cirebon disebut bandeng gepuk, di Banten disebut sate bandeng, sedangkan di Semarang disebut otak-otak," paparnya.

Di mata Anton makanan ini punya nilai bisnis tinggi, hanya saja belum populer. Jika peredarannya bisa diperluas, usaha sosis bandeng ini bisa menghasilkan keuntungan berlimpah.

Anton sudah menebar produknya ke seantero Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Makassar. Semua dia pasarkan dengan bantuan delapan agen penjualan.

Selain itu, Anton juga memasok ke pasar modern seperti Hero, Giant, Farmers Market Kelapa Gading, dan Mal Pondok Indah I. "Termasuk dijual di beberapa restoran Sunda di Jabodetabek," katanya.

Dibantu empat karyawan, dalam sebulan Anton mampu membuat 1.400 kardus sosis bandeng. Satu kardus berisi satu bandeng seberat 185 gram (gr). "Harga di pasaran Rp 15.000 sampai Rp 17.000 per kardus," ujarnya.

Anton memetik omzet Rp 13 juta sampai Rp 15 juta perbulan. Jumlah ini sudah turun sejak Februari lalu. "Dulu bisa antara Rp 15 juta sampai Rp 20 juta," katanya.

Untuk semakin mengembangkan usaha,kedepan Anton sudah berniat untuk melebarkan sayap dengan memasuki pasar Bandung. Alasannya, Bandung memiliki potensi pasar yang besar. "Kota in kerap jadi sasaran wisata bagi masyarakat Jakarta di akhir pekan maupun masyarakat lain," kata pria yang masih melajang ini

Senin, 18 Februari 2013

Bisnis Camilan


Berani bertaruh, sebagian dari Anda pasti doyan ngemil. Selain memanjakan lidah, memakan camilan juga membantu mengusir rasa bosan. Selain itu, kacang bisa mengusir stres. Apalagi, aktivitas mengudap makanan kecil ini bisa dilakukan kapan dan di mana saja. Anda bisa melakukannya sambil bekerja di kantor, atau di saat ngobrol dengan teman.
Kebiasaan ngemil ini membuat pasar makanan camilan semakin semarak. Anda bisa menjumpai pelbagai camilan, seperti keripik, kacang, dan kerupuk, dengan mudah di pasar atau supermarket. Meski penjualnya sudah banyak, camilan ini tetap laris manis.

Tak heran, peluang bisnis makanan camilan juga semakin merekah. Tak hanya pemain besar, pemain kecil pun turut menikmati rezeki ini. Salah satunya adalah Budi Utoyo yang menggarap makanan cepat saji dengan bendera usaha Clup-Clup sejak tahun 2004.

Clup-Clup menggunakan konsep cepat saji lantaran proses menggarapnya tinggal mencelupkan makanan ke minyak goreng. Bisa juga tinggal mencelupkannya ke air mendidih alias direbus. Lewat konsep ini, Budi membidik konsumen yang suka ngemil makanan sehat.

Clup-Clup menjajakan makanan berbahan baku seafood, seperti ikan, udang, cumi, dan kepiting. Bentuk penyajiannya cukup unik. Aneka menu ditusukan lidi sehingga mirip sate.

Untuk mengembangkan bisnisnya, sejak tahun 2004, Budi membuat konsep kemitraan. Saat ini, Clup-Clup sudah memiliki 35 gerai yang tersebar di Jakarta, Bekasi, Makassar, Medan, Bali, Lombok, Palembang, Banjarmasin, dan Lombok.

"Prosedur menjadi mitra cukup mudah dan cepat," ujar Budi. Syaratnya, calon mitra cukup membayar biaya kemitraan sebesar Rp 17,5 juta untuk kerja sama selama lima tahun.

Biaya sebesar ini mencakup pembelian gerobak dan aneka peralatan masak, seperti kompor, tabung gas, dan genset mini. Tak ketinggalan, Clup Clup juga memberi pelatihan bagi karyawan si mitra. Namun, mitra tetap diwajibkan membayar biaya royalti sebesar 5 persen dari total omzet bulanan. "Kalau pendapatan mitra kurang dari Rp 7 juta per bulan, saya membebaskan mereka dari biaya ini," kata Budi.

Modal balik empat bulan

Dalam menjalankan usahanya, mitra perlu merogoh kocek Rp 1 juta-Rp 2 juta lagi untuk membeli bahan baku dari pusat untuk kebutuhan sebulan yang cukup untuk 300-400 porsi.

Meski begitu, jika jarak dan waktu menjadi hambatan, Budi membebaskan mitra membeli bahan baku sendiri. "Misalnya, karena lokasi mitra di Makassar, mereka tidak mungkin beli bahan baku ke kami. Tapi, sebagian besar bahan baku mitra bisa kami pasok," ujarnya.

Dalam hitungan Budi, mitra akan balik modal dalam tempo empat sampai delapan bulan. "Balik modalnya cukup cepat, hanya butuh waktu sekitar enam bulan. Dengan asumsi, mitra mampu menghasilkan omzet minimal Rp 300.000 per hari, mereka bisa balik modal hanya dalam empat bulan," ajar Budi.

Dari usaha ini, marjin keuntungan mitra mencapai 30 persen. Menurut Budi, gerai Clup Clup yang dikelolanya berhasil membukukan omzet minimal Rp 300.000 per hari, atau Rp 9 juta per bulan. "Kala sedang ramai, omzetnya bisa mencapai Rp 500.000 per hari. Itu pun di luar pesanan khusus untuk ulang tahun dan pesta," ujar Budi. (Dessy Rosalina/Kontan)

Laba Dari Pisang Ijo


Kini, selera makanan masyarakat Indonesia makin beragam. Tidak melulu makanan londo cepat saji yang sekarang kian merebak, penikmat kuliner juga mulai melirik makanan tradisional citarasa nusantara.
Salah satunya adalah pisang ijo dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Menu makanan khas Makassar ini terbuat dari pisang berbalut tepung berwarna hijau. Lantas, pisang ini diguyuri bubur sumsum, kacang tanah, taburan cokelat meses, dan es batu. Rasanya sangat menggugah selera.

Kini, makanan khas Makassar ini tidak hanya beken di daerah asalnya saja. Makanan ini juga cukup populer di daerah lain. Soalnya, belakangan ini, banyak bermunculan gerai pisang ijo seperti di Bandung, Bogor, dan Jakarta.

Makanan ini menjadi populer di pulau Jawa berkat terobosan Taufik Effendi. Ia membuka usaha pisang ijo dengan bendera usaha bernama Pisang Ijo Ala'din di Bandung. Meski baru mengembangkan usaha ini setahun lalu, bisnis Taufik terus berbiak hingga sekarang.

Taufik menyajikan menu ini karena melihat tingginya rasa ingin tahu masyarakat Bandung terhadap pisang ijo. Selain itu, ia juga berhasrat menaikkan pamor makanan khas Makassar ini.

Taufik memodifikasi tiap menu dengan pelbagai pilihan rasa yang menjadikan makanan ini semakin diminati. "Kami mengemas pisang ijo dengan tambahan rasa agar lebih enak," imbuhnya. Ada rasa vanila rum, cokelat kismis, stroberi, nangka, serta taburan keju parut Ia mematok harga antara Rp 3.500 sampai Rp 4.500 per porsi.

Baru setahun menjalankan usaha, bisnis Taufik berkembang cepat. Sebab, ia membuat strategi jitu dengan cara menawarkan pola kemitraan. Namanya kemitraan Pisang Ijo Ala'din.

Awalnya, Taufik menawarkan kemitraan pada rekan-rekannya di Bandung. Gayung bersambut. Tawarannya laku keras. Kini, setahun setelah membuka usaha, Taufik sudah memiliki 73 gerai di Bandung.

Malah, saat ini, kemitraan Pisang Ijo Ala'din sudah merambah di Bogor dan Jakarta. Di Jakarta, misalnya, Beberapa calon mitra sudah mulai persiapan membuka beberapa gerai sekaligus. Taufik bilang, saat ini, setiap gerai rata-rata bisa menjual 40 porsi per hari. Dalam sehari, omzet gerai kecil Pisang Ijo Ala'din yang berupa gerobak bisa mencapai Rp 280.000.

Cepat balik modal

Nah, bagi yang tertarik menjadi mitra, Taufik memungut biaya komitmen di awal perjanjian sebesar Rp 5,5 juta. Dana itu sudah termasuk biaya investasi awal untuk lima tahun. Karena ini kemitraan, Anda dibebaskan dari biaya franchise fee dan royalty fee. Dengan investasi awal sebesar itu, Anda berhak atas peralatan komplet berupa gerobak, perkakas dapur, alat promosi, seragam pekerja, pelatihan, dan paket produk perdana sebanyak 25 porsi.

Anda juga leluasa menentukan lokasi berjualan. Meski begitu, lokasi berjualan sesama mitra usaha sama harus berjarak minimal satu sampai dua kilometer. Mitra wajib membeli bahan baku pisang ijo ke pusat. "Mitra mendapatkan keuntungan sekitar Rp 1.500 untuk setiap porsi pisang ijo yang laku terjual," beber Taufik.

Salah satu mitra Pisang Ijo Ala'din adalaah Riezka Rahmatiana. Saat ini, ia berhasil meraih angka penjualan 80 porsi per hari dengan mendapatkan omzet sekitar Rp 280.000. "Dengan asumsi minimal penjualan 40 porsi per hari, saya langsung kembali modal dalam tempo empat bulan," jelasnya. (Dessy Rosalina/Kontan)

Bisnis kue wafel


Apakah Anda pernah mencoba kue wafel yang terbuat dari bahan dasar sukun? Atau bahkan mi yang dibuat dari singkong? Rasanya tidak kalah nikmat dibandingkan bila dibuat dari tepung terigu. Bahkan, yang ini lebih banyak mengandung serat , vitamin, dan gizi karena dibuat dari buah.

Dibalik resep unik ini, penggagasnya adalah Rosita Doddy (55), pemilik katering Pangan Selaras. Bahkan, masakan buatannya ini digandrungi ibu-ibu pejabat. "Biasanya mereka pesan untuk arisan atau acara-acara lainnya," kata Rosita.

Padahal, usaha yang dirintis sejak tahun 1982 ini hanya berawal dari sekedar hobi dan tanpa modal. Semula, Rosita yang hobi masak ini kerap mendapat pesanan dari tetangganya. Biasanya, konsumen Rosita memberi uang terlebih dahulu saat memesan masakan.

Oleh Rosita, uang tersebut digunakan untuk belanja bahan baku, sedangkan keuntungan yang didapat disisihkan untuk membeli peralatan, seperti cetakan kue dan oven. "Lama-lama ngumpul banyak dan bisa mencoba beragam resep. Jadi, lebih banyak kreasi, banyak yang pesan," kata Rosita.

Kala itu, cara pemasarannya juga hanya dari mulut ke mulut. Semakin lama, usaha Rosita kian berkembang. Rosita yang lulusan Teknik Sipil Institute Teknik Sepuluh Nopember, Surabaya, ini, lantas bergabung dengan Asosiasi Perusahaan Jasa Boga (APJI).

Dengan mengikuti organisasi, Rosita mengaku, banyak memperoleh wawasan mengenai cara pemasaran. Konsumennya kian bertambah dan perusahaannya mulai dikenal berbagai pihak, termasuk sejumlah departemen pemerintah.

Rosita juga diserahi tugas untuk program ketahanan pangan. Tugasnya adalah membuat beragam masakan dengan bahan dasar selain tepung terigu. Dia juga dituntut agar penampilan hasil masakannya menarik saat dihidangkan. Alhasil, Rosita kerap melakukan berbagai eksperimen untuk mengetahui karakter tepung.

Bila tepung terigu memiliki glutan yang membuat adonan menjadi berkembang, sejumlah tepung dari bahan dasar buah tidak memilikinya sehingga susah mengembang. "Jadi, harus diakali bagaimana agar tetap mengembang. Sedikit ada campurannya," tutur Rosita.

Selain itu, Pangan Selaras juga menyediakan makanan tradisional, seperti aneka bubur, kue lupis, dan serabi. Rosita juga menjual hasil masakannya di kafe yang dirintisnya, yakni Kafe Indosat, Jalan Medan Merdeka, Jakarta.

Untuk mi bendo misalnya dijual dengan harga sekitar Rp 10.000-Rp 15.000 per porsi, sedangkan untuk wafel dijual dengan harga sekitar Rp 10.000 per bungkus berisi delapan buah. Sayangnya, untuk masalah omzet Rosita enggan mengatakannya secara gamblang. "Yang penting bisa bayar karyawan sekitar 100-200 orang dan bisa bayar pajak," ujar Rosita.

Sukses Berkat Pecel



Sebagian orang mengenal dan menyukai menu pecel. Makanan khas daerah ini berisi ramuan aneka sayuran yang disiram bumbu kacang. Kenikmatan rasa pecel sangat tergantung pada bumbu olahannya.
Bumbu pecel tak hanya disukai di dalam negeri. Bumbu pecel yang sudah dikemas ternyata juga menyebar ke berbagai negara lain, contohnya Hongkong, Arab Saudi, Amerika Serikat, dan Belanda.

Salah satu produsen bumbu pecel kemasan adalah Himawati. Wanita 35 tahun ini sudah menggeluti pembuatan bumbu pecel sejak dua tahun lalu di bawah bendera UD TYM. Walau baru seumur jagung, kelezatan bumbu pecel Himawati ini sudah terkenal sampai ke luar negeri, khususnya para pelanggannya di Hongkong. Tak heran jika dalam sebulan, mantan pedagang pakaian anak ini mampu meraup omzet Rp 21 juta.

Awalnya, Himawati mengaku iseng menjual bumbu pecel di sekitar rumahnya. "Resepnya warisan keluarga," ujarnya. Tak disangka, banyak yang menyukai bumbu pecel ini. "Itu sebabnya, saya pakai nama merek Cap Jempol sebab rasanya memang jempolan," ujarnya.

Dari hari ke hari, permintaan bumbu pecel buatan Himawati terus naik. Bahkan, produksi bumbu pecelnya pernah mencapai 35 kilogram per hari. Sayang, belakangan ini, produksi bumbu pecel Cap Jempol terus turun hingga tinggal sekitar 20 kilogram per hari.

"Untuk menjaga citarasa, saya selalu memasarkan hasil produk dalam keadaan segar, tak seberapa lama setelah dipesan. Makanya, saya tak mau masuk ke jaringan ritel modern," ujarny, berbagi rahasia.

Himawati menjual bumbu pecel Cap Jempol Rp 35.000 per kg atau Rp 3.500 per ons. "Dari tiap ons, saya hanya mendapat untung Rp 400," lanjut pengusaha asli Surabaya ini. Namun, karena permintaannya banyak, keuntungan kecil tersebut bisa menjadi besar juga.

Menurut Himawati, produknya terbilang mahal untuk rata-rata harga bumbu pecel di Surabaya. Sebab, ia lebih mementingkan kualitas produk yang terbuat dari hampir 100 persen kacang. "Kalau yang lainnya bisa murah karena dicampur singkong. Sementara, saya benar-benar pakai kacang kualitas nomor satu sehingga produk saya tahan sampai enam bulan," ujarnya.

Tak hanya produk bumbu pecel Cap Jempol yang diminati pembeli luar negeri. Bumbu pecel Karangsari dari Blitar ternyata lebih dahsyat. Sekarang, bumbu pecel ini menembus pasar Belanda, AS, Australia, Hongkong, Arab Saudi, dan sebagainya.

Bumbu pecel Karangsari sudah bertahan selama 30 tahun. "Rasa bumbu pecel Karangsari lezat, makanya banyak yang cocok," ajar Sutanto, pemilik Gracia Trading, pemasar resmi bumbu pecel Karangsari di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Dalam sebulan, Gracia Trading bisa memasok lima ton bumbu pecel Karangsari untuk wilayah Jabodetabek. Omzet rata-rata Sutanto, yang juga mapan sebagai pengusaha toko besi ini, sekitar Rp 100 juta per bulan. "Itu baru untuk pasar tradisional. Kalau sudah masuk pasar modern, ada jalur distribusi sendiri. Kebetulan, saya tidak memegang pemasarannya," lanjut Sutanto yang juga masih kerabat dekat pendiri bumbu pecel Karangsari.

Harga sebungkus bumbu pecel Karangsari ukuran dua ons Rp 4.000. Sementara, harga perkilogram Rp 20.000. "Khusus eceran, ukuran dua ons harganya Rp 7.000," lanjut Sutanto. Dari harga tersebut sebagai pemasar resmi, ia menangguk margin laba sampai 20 persen per bungkus. (Aprillia Ika/Kontan)

Bisnis Kue


Bisnis makanan memang tidak pernah mati. Saat terjadinya krisis ekonomi, bisnis ini tetap berjalan, karena bagaimana pun manusia memerlukan makanan untuk kelangsungan hidup. Banyak pula pengusaha yang berhasil karena menekuni bisnis ini, mereka umumnya mulai dari kecil tetapi karena ketekunan, strategi yang baik, kreativitas, mereka dapat menikmati hasil yang baik. Tempat berjualannya bisa di berbagai tempat, mulai dari kawasan perumahan sampai mal yang mewah, berbagai kue dijajakan mulai dari roti, donat, cake, burger yang selalu dikunjungi.
Keuntungan Bisnis Kue
Mengapa memilih bisnis kue? Beberapa alasan berikut bisa menjadi pertimbangan Anda untuk mulai tertarik membuka bisnis kue.
  • Modal kecil
Salah satu kendala yang sering dihadapi seseorang untuk mulai berwiraswasta adalah perlunya modal yang besar untuk memulainya. Tetapi, dalam bisnis kue ini, hanya dengan ratusan ribu saja Anda dapat memulai mencoba bisnis ini. Hal ini karena Anda hanya perlu membeli bahan baku kue yang harganya tidak mahal dan membuatnya menjadi kue yang layak untuk dijual.
  • Investasi yang diperlukan sedikit
Dalam bisnis ini, investasi yang diperlukan untuk kelangsungan usaha adalah peralatan masak atau alat pemanggang seperti oven. Investasi hanya perlu sedikit, karena kebanyakan ibu rumah tangga sudah memiliki berbagai peralatan masak yang biasa digunakan sehari-hari. Maka, pemulai bisnis ini tidak perlu membeli lagi untuk memulai usaha menjual kue.
  • Mudah membuat kue
Salah satu kendala yang dihadapi adalah merasa tidak berbakat untuk membuat kue atau tidak pandai memasak. Hal ini sebenarnya bukanlah kendala, karena membuat kue dapat dilakukan oleh siapa saja. Misalnya, Anda dapat mencoba menjual gorengan atau kue lain yang mudah dicoba. Belum lagi, kue tradisional yang banya disukai dan mudah dibuat. Anda dapat mencobanya dengan melihat buku resep yang bayak dijual di toko buku atau mengikuti kursus masak untuk menambah pengetahuan dan rasa percaya diri Anda.
Saat ini kursus masak bukan hanya diikuti oleh orang yang mempunyai hobi masak, tetapi kebanyakan diikuti oleh orang yang ingin memulai usaha kuliner. Banyak pula para karyawati yang ingin menambah penghasilan dengan menjual hasil masakannya. Alternatif lain adalah dengan menggunakan paket kue yang sudah dijual atau ada pula yang membeli kue yang setengah atau sudah jadi dan Anda hanya perlu menghias untuk menambah daya tarik kue tersebut.
  • Pangsa pasar besar
Kebiasan ngemil atau makan makanan kecil sangat umum di dalam masyarakat. Kebiasaan ini memberi keuntungan bagi para pengusaha kuliner. Kue biasa diperlukan dalam acara-acara seperti arisan, pesta, seminar atau saat kumpul keluarga. Anak-anak juga memerlukan bekal saat berangkat sekolah dan kue menjadi salah satu pilihan untuk mereka atau saat istirahat, anak sekolah umumnya membeli kue-kue untuk dimakan. Karyawan di kantor pun biasa membeli kue-kue untuk mengisi waktu senggang.
  • Risiko kecil
Khususnya untuk kue kering, apabila belum habis, kue tidak rusak dan masih dapat dijual sampai beberapa hari. Sedangkan, untuk kue basah memang risiko lebih besar karena mudah rusak, tetapi bila tidak habis dapat dinikmati untuk keluarga. Ini membuat risiko yang harus ditanggung tidak besar. Tetapi, memang diperlukan perhitungan kue yang dibuat agar tidak berlebih atau terbuang menjadi terlalu banyak.
  • Keuntungan besar
Bisnis kuliner memang menguntungkan. Anda dapat memperoleh keuntungan sampai 50%. Keuntungan yang tidak sedikit. Dapat dibayangkan bila usaha Anda maju dan memperoleh omzet yang besar, tentu keuntungan Anda dapat menunjang kehidupan keluarga. Jadi layak dipertimbangkan untuk mencobanya.
Langkah Memulai Bisnis Kue
Kini, setelah Anda memutuskan untuk mencoba bisnis ini, langkah awal adalah mulai untuk membuat perhitungan-perhitungan yang diperlukan. Salah satu yang terpenting adalah menentukan harga jual kue. Bila terlalu mahal, tentu sedikit orang yang akan membeli ditambah lagi mereka masih belum tahu bagaimana rasa kue tersebut. Sebaliknya, bila terlalu murah, Anda akan menderita kerugian sehingga kelangsungan bisnis terancam.
Hal-hal yang perlu diperhitungkan dalam memulai bisnis ini adalah harga bahan baku kue, peralatan memasak yang perlu dibeli, biaya untuk promosi (cetak selebaran, diskon, contoh kue, dan lainnya), bagaimana teknik penjualan (apakah dengan menitipkan pada toko, di depan rumah atau dengan sewa tempat), teknik pengepakan agar kualitas kue tetap terjaga dan tidak rusak. Bila usaha ini sudah berjalan, perhitungkan juga biaya penyusutan dari peralatan masak karena semakin lama tentu peralatan memasak akan rusak, biaya operasional setiap bulan (biaya sewa, bayar pegawai, dan biaya lainnya), penerimaan per bulan, dan keuntungan yang diperoleh.
Sebagai seorang wiraswasta, Anda juga dituntut untuk kreatif agar mampu bersaing dengan pengusaha lainnya. Dalam bisnis ini, Anda dapat berkreativitas untuk menawarkan rasa yang berbeda, tampilan yang menarik atau dengan kemasan yang unik. Kontrol keuangan serta kualitas juga sangat penting. Jangan karena sudah laku, kualitas rasa atau kebersihan tidak terjaga sehingga Anda dapat ditinggalkan oleh konsumen. Secara periodik, evaluasi trend pasar dan harga agar kue Anda tetap dapat dinikmati dan harganya tetap terjangkau.
Membuka bisnis sendiri memang butuh upaya dan selalu penuh risiko. Namun, dengan berani mencoba, percaya diri, dan kreatifitas, Anda dapat mencoba mencicipi manisnya bisnis kue.

Minggu, 17 Februari 2013

Nudget Ikan


Nugget merupakan produk olahan makanan yang banyak dibuat dari daging ikan. Kemasan yang praktis dan banyak mengandung protein menjadi kelebihan makanan yang banyak digemari anak-anak tersebut. Daya simpan nugget yang mampu bertahan cukup lama (disimpan dalam freezer) juga menjadi salah satu alasan makin meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap produk gurih dan renyah itu.
nuggetsayurikannilaPeluang itulah yang disadari oleh Tri Haryanti (31) untuk dikembangkan menjadi sebuah usaha produksi aneka nugget sayur daging ikan. Mengusung Shiva sebagai nama usahanya, saat ini Tri Haryanti mampu memproduksi 5 buah jenis nugget yaitu nugget sayur ikan nila, nugget sayur ikan lele, nugget sayur ayam keju, nugget sayur ayam jamur, dan nugget sayur tempe.
Tri Haryanti mengisahkan jika ide awal menjalankan peluang usaha kreasi nugget sayur tersebut diperoleh dari putrinya. “Saat itu anak saya susah makan, kemudian saya mencoba membuat inovasi makanan baru (nugget) dan ternyata dia menyukainya,” ujar Tri.
Sejak itulah, Tri makin termotivasi untuk mengembangkan usahanya dengan belajar dari majalah kuliner dan tayangan televisi. Di rumahnya Banaran Cangkringan Sleman, Tri pertama kali mengembangkan nugget ikan nila dengan bahan baku yang diambil dari Waduk Kedung Ombo Jawa Tengah.
Produksi Nuget Sayur
Dibantu 1 orang tenaga produksi, Tri Haryanti mengkreasi produk nuggetnya dengan beragam sayuran segar. “Sayuran yang kami gunakan selalu segar, kami beli dari petaninya langsung di Pasar Pakem,” kata ibu 3 orang putri tersebut.
Komposisi bahan yang digunakan dalam produksi nugget sayur tersebut antara lain: bahan baku utama (ikan nila, ikan lele, daging ayam, jamur tiram, dan tempe), wotel, brokoli, tepung roti, telur, bawang bombay, bawang putih, lada, gula, garam, dan kecap ikan.
“Dahulu bahan baku yang kami gunakan hanya 1-4 kg sekali produksi, namun saat ini bisa mencapai 10 kg daging dan 1 karung tepung,” imbuh Tri.
Diakui nugget hasil kreasinya tersebut pada awalnya dipasarkan dengan keliling di TK, perumahan, sembari menunggu anaknya sekolah.
“Sambil menunggui anak saya yang masih TK, saya berkeliling menjual nugget itu dengan menggunakan freezer bag yang mampu menampung 50-60 bungkus nugget,” tambah alumni Geologi UGM tersebut.
Saat ini, seiring perkembangan usahanya yang makin meningkat, Tri memasarkan produk nuggetnya dengan dititipkan ke warung-warung yang memiliki freezer. Selain itu, mengikuti perkembangan teknologi, Tri mencoba menawarkan produknya melalui media online dan jejaring sosial.
Pemasaran Produk Nuget
Harga produk Nugget Shiva cukup terjangkau, untuk Nugget Sayur Ikan Nila Rp. 9.000,00; Nugget Sayur Ikan Lele Rp. 9.000,00; Nugget Sayur ayam Keju Rp. 9.000,00; Nugget Sayur Ayam Jamur Rp.7.000,00; dan Nugget Sayur Tempe Rp. 4.000,00. “Dengan harga seperti itu, dalam satu hari kami rata-rata menghabiskan 40 bungkus (Rp.200.000,00), sehingga dalam satu bulan bisa memperoleh omzet 5 juta rupiah,” jelas ibu yang pernah menjadi pengajar di Timika Papua tersebut.
Kendala utama yang dirasakan Tri dalam menjalankan usahanya tersebut adalah pemasaran. Selama ini pemasaran yang beliau jalankan belum bisa maksimal karena tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga dengan 3 orang anak.
“Saat ini saya mencoba mengefektifkan pemasaran dengan menggunakan media online berupa portal iklan gratis,” jelas Tri. Selain pemasaran. kurangnya tenaga produksi juga menjadi kendala tersendiri bagi Ibu Tri.
Ditambah lagi proses pengiriman pesanan ke luar kota yang membutuhkan banyak waktu, maka harus menggunakan packing khusus agar tidak rusak sampai tempat tujuan.
Di akhir wawancaranya, Tri berharap usahanya akan semakin berkembang dan memiliki lebih banyak varian rasa yang menarik. “Dengan produk yang makin berkembang, saya bermimpi untuk memiliki rumah makan sendiri yang menyajikan makanan khusus nugget,” imbuh Tri dengan penuh keyakinan.